Waspada Penyakit Jantung di Usia Muda, Sesak dan Nyeri Dada Jangan Selalu Dianggap Kelelahan

SURABAYA (Realita) – Rasa tidak nyaman di dada, napas yang terasa lebih pendek setelah beraktivitas, hingga tubuh yang mudah lelah sering kali dianggap sebagai hal biasa. Kesibukan pekerjaan, kurang tidur, atau aktivitas fisik yang padat kerap menjadi alasan untuk mengabaikannya.

Namun, jika keluhan tersebut terus berulang, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya, termasuk memastikan apakah keluhan berkaitan dengan masalah jantung atau kondisi kesehatan lainnya.

Pentingnya mengenali tanda-tanda tersebut menjadi salah satu pesan dalam Surabaya Health Fest (SHF) 2026 yang digelar RS Kemenkes Surabaya. Mengangkat tema Moving Together for a Healthier Future, kegiatan ini menjadi sarana edukasi kesehatan sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli terhadap deteksi dini berbagai penyakit.

Ketua Pelaksana Rangkaian Acara Surabaya Health Fest 2026, dr. Acitta Raras Wimala, MARS, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional yang diselenggarakan RS Kemenkes Surabaya.

"Berbagai bidang kesehatan dibahas dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mulai dari kanker, jantung, saraf, urologi hingga kesehatan ibu dan anak," katanya.

Bahas Penyakit Jantung dan Kolaborasi Antarspesialis

Salah satu agenda dalam SHF 2026 yang mendapat perhatian adalah seminar dan live surgery bertajuk “When The Right Heart Goes Wrong”.

Kegiatan ini membahas penanganan penyakit jantung sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarspesialis ketika dokter menentukan terapi bagi pasien dengan kondisi tertentu.

Pesan mengenai deteksi dini menjadi penting karena penyakit jantung tidak selalu hanya berkaitan dengan usia lanjut. Masyarakat usia produktif pun tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh dan faktor risiko yang dimiliki.

"Keluhan seperti rasa tidak nyaman atau nyeri di dada, sesak napas ketika beraktivitas, mudah lelah, maupun penurunan kemampuan beraktivitas tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit jantung. Namun, ketika keluhan tersebut muncul berulang, semakin berat, atau terjadi bersama gejala lain, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya," ujarnya.

Gejala yang dirasakan seseorang juga tidak selalu sama dengan orang lain. Karena itu, diagnosis tidak cukup dilakukan berdasarkan perkiraan dari gejala yang muncul. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui kondisi secara lebih tepat.

Sejumlah faktor juga perlu menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan jantung. Di antaranya kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, stres, serta kondisi kesehatan tertentu.

Dengan demikian, menjaga kesehatan jantung tidak hanya dilakukan ketika keluhan sudah muncul. Pencegahan dan pemeriksaan sesuai kebutuhan juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.

Heart Team Dibutuhkan untuk Kasus Jantung Kompleks

Pentingnya kolaborasi dalam menentukan terapi pasien juga menjadi bagian dari kegiatan When The Right Heart Goes Wrong.

Ketua Pelaksana kegiatan, dr. Irma Maghfirah, Sp.J.P., F.I.K.Kv.(K), menjelaskan bahwa pasien dengan kondisi tertentu membutuhkan penanganan yang melibatkan dokter dengan keahlian berbeda.

"Dokter spesialis jantung dan dokter bedah jantung dapat bekerja sama dalam menentukan pilihan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien," katanya.

Kolaborasi tersebut dikenal dengan konsep heart team. Dalam proses ini, tim medis mendiskusikan kondisi pasien, hasil pemeriksaan, risiko, serta berbagai pilihan terapi sebelum menentukan penanganan.

“Untuk menangani pasien dengan penyakit jantung dibutuhkan kolaborasi antara dokter jantung dan dokter bedah jantung. Karena itu, heart team conference penting untuk membahas tindakan terbaik bagi pasien,” ujarnya.

Peserta kegiatan juga mendapatkan pembelajaran melalui sesi live surgery yang menghadirkan Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia.

Sesi tersebut memberikan gambaran mengenai prosedur bedah jantung dan pembuluh darah sekaligus menunjukkan berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum tindakan medis dilakukan.

Kondisi pasien, hasil pemeriksaan, tingkat risiko, hingga pilihan terapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Bagi tenaga kesehatan, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran untuk memahami penanganan kasus kompleks. Sementara bagi masyarakat, proses tersebut memperlihatkan bahwa penanganan penyakit jantung membutuhkan diagnosis yang tepat dan keputusan medis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kenali Perubahan Tubuh Sejak Dini

Surabaya Health Fest 2026 juga membawa pesan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak seharusnya dimulai setelah penyakit muncul.

Masyarakat dapat meningkatkan perhatian terhadap faktor risiko dan perubahan kondisi tubuh. Aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, tidak merokok, tidur yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.

"Yang tidak kalah penting adalah tidak mengabaikan keluhan yang muncul berulang. Jika seseorang mengalami nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak, mudah lelah, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya," ujarnya.

Apabila keluhan terasa berat, muncul secara mendadak, atau disertai kondisi seperti sulit bernapas, pingsan, maupun nyeri dada yang menetap, pertolongan medis segera diperlukan.

Melalui Surabaya Health Fest 2026, RS Kemenkes Surabaya menempatkan edukasi kesehatan sebagai salah satu bagian penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut akan ditutup dengan SHF Run 2026 pada 18 Oktober 2026.

Pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: perhatian terhadap kesehatan jantung tidak perlu menunggu usia lanjut. Kesadaran dapat dibangun sejak usia muda dengan mengenali faktor risiko, menjaga pola hidup, serta tidak menganggap remeh perubahan pada tubuh yang terjadi berulang.

Editor : Arif Ardliyanto

Berita Terbaru

Paus Leo Ajak Seniman Bersatu Lawan AI

JAKARTA- Paus Leo XIV menyerukan kepada para seniman untuk bersatu menjaga kreativitas manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin …