Harapan Baru Pasien Diabetes, Primaya Hospital Depok Hadirkan Klinik Melodi

DEPOK (Realita) - Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat dan kini mulai mengancam generasi muda.

Tidak hanya menyerang usia lanjut, penyakit ini kian banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Kondisi ini membuat Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus diabetes tertinggi di dunia.

Fenomena serupa juga terlihat di Kota Depok. Primaya Hospital Depok mencatat angka pasien diabetes cukup tinggi dari data kunjungan harian.

"Kalau dari satu bulan itu kan sebenarnya kita kunjungan itu 12 ribuan. Dari 12 ribu kunjungan itu yang didiagnosa diabetes itu sekira 50 persen," papar Kepala Divisi Medis Primaya Hospital, dr. Sarah Cinthya Margaretha, Kamis (25/9/2025).

Sarah menambahkan, kunjungan pasien diabetes bisa terjadi berulang kali.

"Satu pasien kan bisa berulang 2-3 kali kunjungan dalam 1 bulan. Nah dari 6 ribu kunjungan itu kemungkinan yang punya luka itu kan pasti kurang lebih 10 persen. Jadi ada ratusan lah yang memang perlu ditangani," tutur Sarah.

Secara epidemiologi, diabetes umumnya menyerang kelompok usia lanjut. Namun tren terbaru menunjukkan pergeseran.

"Pasien penderita diabetes biasanya di atas 65 tahun. Tapi sekarang banyak juga yang sudah di atas 30 tahun. Usia reproduktif ini banyak ternyata yang punya DM (Diabetes Melitus), meskipun belum ada keluhan luka," jelas Sarah.

Kondisi ini menegaskan bahwa diabetes kini mengancam generasi produktif, sehingga penanganan dini menjadi sangat penting.

Melihat lonjakan kasus diabetes, Primaya Hospital Depok menghadirkan Klinik Merawat Loeka Diabetik (Klinik Melodi) sebagai layanan pertama di kota tersebut.

Direktur Primaya Hospital Depok, dr. Hanny Marliana, menyebut Klinik Melodi dirancang untuk memberikan layanan kesehatan terintegrasi dengan standar tinggi.

"Klinik Melodi tidak hanya menangani luka diabetik, tetapi juga berbagai jenis luka lain, seperti luka vaskular, luka pasca operasi, luka bakar, hingga luka kronis," ujar Hanny.

Dengan pendekatan multidisiplin, pasien mendapatkan perawatan holistik mulai dari diagnosis, tindakan medis, hingga rehabilitasi.

Menurut Hanny, perawatan luka diabetik jauh lebih sulit dibanding luka lainnya.

Oleh karena itu, Klinik Melodi menaruh perhatian besar pada pencegahan amputasi.

"Itu yang ingin kita gaungkan bahwa setiap orang yang memiliki luka di kaki karena diabetes itu tidak harus amputasi, tidak harus berakhir dengan amputasi, kita cegah gimana caranya supaya jangan sampai amputasi," tegas Hanny.

Hanny menambahkan, Klinik Melodi memiliki tim khusus yang terdiri dari dokter bedah plastik, spesialis endokrin metabolik, hingga ahli bedah vaskular.

Semua bekerja sama untuk menyelamatkan anggota tubuh pasien.

Klinik Melodi juga diperkuat tenaga medis yang sudah memiliki sertifikasi khusus dalam perawatan luka.

"Sehingga kami berharap pasien-pasien dengan luka itu memang bisa kita tangani lebih baik dan penyembuhannya hasilnya lebih bagus," jelas Hanny.

Selain itu, fasilitas modern juga mendukung penanganan pasien, mulai dari peralatan perawatan luka hingga unit khusus burn unit untuk pasien luka bakar.

Hanny memastikan layanan di Klinik Melodi dapat diakses semua lapisan masyarakat.

"BPJS maupun non-BPJS bisa kita tangani. Nah kami memang di sini perawatan lukanya pun lebih spesifik. Misalnya dari pasien diabetes yang hanya menggunting kuku saja, seperti menipedi itu kita lakukan di sini, supaya mencegah terjadinya luka," ujar Hanny.hry

Editor : Redaksi

Berita Terbaru