Alhamdulillah, Netanyahu Jatuh Sakit karena Keracunan Makanan!

realita.co

TEL AVIV (Realita) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah jatuh sakit setelah keracunan makanan. Kantor Netanyahu mengatakan pemimpin rezim Zionis itu sedang menjalani proses pemulihan dengan bersitirahat selama tiga hari ke depan.

Menurut kantor tersebut, meski jatuh sakit, Netanyahu akan terus menjalankan tugasnya sembari beristirahat.

Baca juga: Khianati Kesepakatan Gencatan Senjata, Netanyahu Perintahkan Militer Israel Serang Gaza lagi

Netanyahu (75) jatuh sakit sejak Sabtu malam dan diketahui menderita radang usus dan dehidrasi. Kondisi itu membuatnya harus menerima cairan infus, menurut pernyataan Kantor Netanyahu. 

“Sesuai dengan instruksi dokternya, perdana menteri akan beristirahat di rumah selama tiga hari ke depan dan akan mengurus urusan negara dari sana,” imbuh pernyataan Kantor Netanyahu, seperti dikutip Reuters, Senin (21/7/2025).

Netanyahu pernah dipasangi alat pacu jantung pada tahun 2023 dan Desember lalu dia menjalani operasi pengangkatan prostat setelah didiagnosis menderita infeksi saluran kemih.

Sementara itu, mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Zionis Israel Avigdor Lieberman menuduh Netanyahu berupaya memperpanjang perang Gaza hingga pemilu Israel.

Lieberman mengatakan tujuan perang untuk melenyapkan Hamas mustahil tercapai. Lieberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu yang berhaluan kanan, mengatakan tekanan internal akan diarahkan kepada Netanyahu setelah para sandera yang ditawan Hamas pada Oktober 2023 dipulangkan dan perang berakhir.

Baca juga: Aneh! Netanyahu Bantah Lakukan Genosida di Gaza

"Netanyahu ingin memperpanjang perang hingga pemilu," kata Lieberman kepada lembaga penyiaran publik Israel, KAN. Mantan Menhan tersebut tidak merinci apakah yang dia maksud adalah pemilu setelah masa jabatan Netanyahu berakhir pada Desember 2026 atau pemilu awal yang mungkin berlangsung pada akhir 2025 atau awal 2026.

"Tidak mungkin melenyapkan Hamas tanpa terlebih dahulu mengembalikan semua sandera (di Gaza) sekaligus," ujarnya.

Negosiasi tidak langsung dimulai pada 6 Juli di Ibu Kota Qatar, Doha, untuk mencapai kesepakatan yang mencakup gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel.

Seorang sumber yang dekat dengan Hamas mengatakan kepada Anadolu bahwa kelompok perlawanan Palestina tersebut menerima peta terbaru dari para mediator yang menunjukkan wilayah-wilayah di Gaza masih berada di bawah kendali Israel dan memulai konsultasi internal untuk mengevaluasi peta-peta tersebut.

Baca juga: Makan Makanan Basi, Netanyahu Kena Radang Usus

Pasukan Israel telah menewaskan hampir 59.000 warga Palestina di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Pengeboman tanpa henti telah menghancurkan daerah kantong Palestina tersebut, membuatnya tidak layak huni. November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perangnya di daerah kantong Palestina tersebut.sin

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru