Susul Reog Ponorogo, Pesantren Bidik ICH UNESCO

realita.co
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko bersama Gus Hans saat menggelar sarasehan HSN 2025 di Pendopo Kabupaten. Foto: Zainul

PONOROGO (Realita)- Gema Hari Santri Nasional (HSN) 2025 di Ponorogo dimanfaatkan untuk mendorong pengakuan global terhadap kekhasan pendidikan pesantren di Indonesia. Dalam rangkaian acara "SantriVaganza", Kabupaten Ponorogo menjadi pusat digelarnya Sarasehan Gerakan Nasional Pesantren Menuju Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.


Sarasehan yang dilangsungkan di Pendopo Kabupaten Ponorogo ini menjadi langkah konkret untuk menyusun strategi agar nilai-nilai pesantren dapat menyusul kesenian Reog Ponorogo yang telah lebih dulu diakui UNESCO, Selasa (21/10/2025).

Baca juga: Creative Cities Connect 2025, Men-Ekraf Siap Kolaborasi Dengan Ponorogo Kuatkan Potensi Daerah


Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko mengatakan Ponorogo adalah sentra peradaban pesantren dengan akar sejarah yang kuat. Nilai-nilai yang ada di pesantren merupakan Warisan Budaya Takbenda yang layak diajukan.


“ Kekhasan nilai pendidikan di pesantren, terutama soal transfer karakter melalui keteladanan para kiai, adalah sesuatu yang luar biasa dan tidak dimiliki lembaga pendidikan lain. Ini bukan hanya soal agama, tapi juga peradaban," ujarnya.


Sementara itu, Ketua Panitia SantriVaganza 2025, Baharuddin Harahap, sarasehan ini merupakan kolaborasi dengan Gerakan Nasional Ayo Mondok Pusat dan ditujukan untuk menghapus stigma lama terhadap pesantren, sekaligus memperkuat jati diri Ponorogo sebagai Kota Santri.

Baca juga: Fadli Zon Kagum dengan Monumen Reog Ponorogo Lebih Tinggi dari GWK di Bali


"Sarasehan ini menjadi wadah untuk merumuskan roadmap dan strategi kebudayaan yang diperlukan. Kami ingin menunjukkan bahwa santri itu keren, modern, dan merupakan wajah masa depan bangsa. Nilai-nilai pondok pesantren adalah kado HSN 2025 dari Ponorogo, yang kita dorong bersama untuk diakui dunia," jelasnya.


Senada, tokoh pesantren sekaligus pengurus Gerakan Nasional Ayo Mondok, KH. Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans), menyatakan bahwa pesantren merupakan entitas budaya yang sudah lama berkontribusi pada pembangunan bangsa.


“ Pesantren sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Hubungan pesantren dan budaya sangat erat. Melalui sarasehan ini, kami tengah menyusun arsip dan dasar-dasar argumentasi untuk menjadikan nilai-nilai pendidikan holistik pesantren diakui sebagai Intangible Cultural Heritage oleh UNESCO," kata Gus Hans.

Baca juga: Pasca Resmi Jadi UCCN, Bupati Ponorogo Minta OPD Reorientasi Mindset Jadi Kreatif dan Kolaboratif

Gus Hans menambahkan, keberhasilan Reog Ponorogo meraih status ICH UNESCO menjadi inspirasi sekaligus pemantik semangat bagi komunitas pesantren untuk mengawal pengakuan serupa. Sarasehan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk melanjutkan perjuangan pengusulan pesantren ke tingkat internasional.

“ Pesantren sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Hubungan pesantren dan budaya sangat erat. Keberhasilan Reog Ponorogo meraih status ICH UNESCO menjadi inspirasi. Melalui sarasehan ini, kami berkomitmen menyusun argumen dan data lengkap untuk memastikan bahwa sistem pendidikan dan nilai-nilai luhur pesantren juga mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia," pungkasnya. adv/znl

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru