PONOROGO (Realita)- Tak mau berpuas diri setelah menyandang status Kota Kreatif Dunia (UCCN) kategori Craft and Folk Art dari UNESCO, Pemerintah Kabupaten Ponorogo langsung tancap gas.
Bupati Sugiri Sancoko "menggebrak" kota kreatif lewat peluncuran event rutin bertajuk Ponorogo Intimate, yang akan menjadi magnet baru destinasi wisata dan ekonomi kreatif di Kota Reog.
Baca juga: Gratifikasi Proyek RSUD Ponorogo, KPK Limpahkan Berkas Tersangka Sucipto ke JPU
Event ini akan dipusatkan di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Ponorogo, dan direncanakan rutin digelar setiap malam Minggu sebagai wahana Car Free Night.
Dalam perhelatan perdana yang akan berlangsung pada Sabtu (08/11/2025), Bupati Sugiri bahkan menghadirkan musisi kenamaan Piyu Padi, serta seniman ternama lainnya seperti Toto Tewel, Yani Andromeda, dan Dalang Poer untuk menghibur masyarakat dalam event ini.
Peluang Emas untuk UMKM Lokal
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkum) Ponorogo, Ringga Dwi Heri Irawan, menegaskan keseriusan Pemkab dalam memberdayakan masyarakat. Pihaknya membuka peluang seluas-luasnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk berpartisipasi.
Baca juga: 30 Hektar Tanaman Padi Mati Akibat Banjir, Pemkab Ponorogo Baru Lakukan Pendataan
“Kami sediakan 384 lapak UMKM secara gratis. Ini adalah prioritas kami bagi UMKM lokal Ponorogo,” ujar Ringga, Jumat (06/11/2025).
Gerakan Sumbu Kota Kreatif
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menyatakan bahwa Ponorogo Intimate adalah upaya konkret Pemkab dalam menggerakkan sumbu kota kreatif yang harus berimbas langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat.
“Ponorogo Intimate adalah upaya kami untuk terus menggerakkan sumbu kota kreatif. Di sini, semua pelaku seni, UMKM, dan komunitas kreatif jadi satu. Ini akan menjadi magnet baru bagi wajah kota kami,” ungkap Kang Giri.
Baca juga: Digugat Perdata Nasabah, BRI Diputus Bersalah di PN Ponorogo
Lebih lanjut, ia berharap event ini menjadi ruang interaksi aktif antara pelaku seni dengan masyarakat. Menurutnya, kesenian Ponorogo tidak boleh hanya berhenti pada Reog saja, namun potensi lain harus dikolaborasikan untuk menguatkan branding Ponorogo sebagai kota kreatif dunia.
“Jejaring kota kreatif ini berbasis komunitas yang tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, dan media harus berkolaborasi agar Ponorogo menjadi kota yang hidup dan berdaya,” pungkasnya. znl
Editor : Redaksi