Marsinah dan Soeharto

realita.co
Soeharto dan dan Marsinah. Foto: Montage

DI sebuah fase dalam perjalanan bangsa ini, ada seorang presiden yang berkuasa seperti matahari siang hari: besar, terang, dan tidak memberi ruang pada bayangan.

Kekuasaan mengalir dari dirinya, mengatur apa yang boleh dikatakan dan apa yang harus dibungkam. Ia menentukan siapa yang pantas dipuji, siapa yang harus hilang dari catatan.

Baca juga: Menggugat Kepahlawanan yang Dilumuri Dosa Kemanusiaan

Di fase yang sama, ada seorang perempuan buruh pabrik. Tidak dikenal publik. Tidak memiliki pasukan. Hanya memiliki keberanian dan suara.

Namanya Marsinah. Ia menuntut sesuatu yang sederhana: Upah yang layak. Hak seorang manusia.

Dalam rezim yang takut pada suara kecil namun jujur, keberanian seperti itu dianggap ancaman. Ia dihilangkan.

Kasusnya digelapkan. Kebenaran dipaksa tenggelam dalam arsip yang ditutup rapat. Tetapi waktu adalah pengkhianat bagi kekuasaan.

Hari ini, nama yang pernah berusaha dibungkam itu justru berdiri sebagai simbol keberanian. Nama yang dulu direndahkan, kini diangkat oleh sejarah. Nama yang dulu dianggap gangguan, kini dianggap pahlawan.

Ironinya, sejarah bangsa ini menyaksikan dua nama dipajang di ruang yang sama: Pahlawan!

Baca juga: Gus Dur, Syaikhona Kholil, Marsinah, Jadi Pahlawan Nasional, Khofifah: Ketiganya Teladan Keberanian

Seseorang yang memimpin rezim yang membungkam suara. Dan seseorang yang dibungkam oleh rezim itu.

Di sinilah sejarah tertawa kecil.

Kekuasaan bisa mengatur gelar. Tapi hanya sejarah yang mengatur kehormatan. Gelar dapat diberikan melalui upacara, tapi martabat hanya diberikan oleh keberanian.

Marsinah tidak membutuhkan monumen untuk diingat. Ia hidup dalam suara buruh yang terus menuntut keadilan. Ia hidup dalam kata berani yang diucapkan dengan gemetar.

Baca juga: Koalisi Masyarakat Sipil Menolak Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto

Ada pahlawan yang naik karena jabatan.
Ada pahlawan yang naik karena keberanian.

Yang pertama 'mungkin' dihormati oleh negara.
Yang kedua, dihormati oleh sejarah, juga nurani.

Cak Bonang. Aktivis. Srawungan AKAS. Arek Kampung Suroboyo. Di Surabaya, Hari Pahlawan 2025

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru