LUWU (Realita)- Sejumlah warga di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel) blokade dengan mengecor Jalan Trans Sulawesi perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo. Pengecoran tersebut sebagai protes terkait tuntutan massa yakni pemekaran Provinsi Luwu Raya.
Aksi tersebut terjadi di Jalan Trans Sulawesi, Desa Batulappa, Kecamatan Larompong Selatan, Luwu pada Jumat (23/1/2026) sore. Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 tahun hingga membuat akses lalu lintas di lokasi kini lumpuh.
"Pengecoran yang dilakukan oleh warga dan massa aksi adalah bentuk protes terhadap pemerintah pusat," kata seorang massa bernama Mail kepada detikSulsel, Jumat (23/1).
Baca juga: Terdakwa Pembakaran Polsek Dituntut 6 Bulan Penjara, Jaksa Pertimbangkan Masa Depan Pendidikan
Mail menyebut, pengecoran jalan adalah bentuk protes agar pemerintah pusat memperhatikan Luwu Raya. Menurutnya, Pembentukan Provinsi Luwu Raya adalah sesuatu yang telah dijanjikan sejak era Presiden Soekarno.
"Provinsi Luwu Raya adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh Presiden Ir Soekarno," ungkapnya.
Pada video yang beredar, terlihat sejumlah warga sedang mengaduk semen di perbatasan Kabupaten Luwu-Wajo. Kemudian, terlihat pula warga menyusun batu tepat di atas jalan Trans Sulawesi tersebut.
Nampak pula sejumlah massa terlihat membakar ban di perbatasan antar kabupaten tersebut. Selain itu, terlihat pula warga membentangkan spanduk bertuliskan pemekaran Provinsi Luwu Raya.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga di Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, dan Palopo (Luwu Raya) menggelar demonstrasi penutupan jalan di sejumlah titik. Demonstrasi tersebut diwarnai dengan penebangan pohon hingga memicu kemacetan panjang.
Baca juga: Bareskrim Sebut 332 Anak Terlibat Kerusuhan Agustus, Mayoritas Ikut-ikutan
Pantauan detikSulsel, demonstrasi dilakukan pada Jumat (23/1) sejak pukul 09.00 Wita. Warga melakukan unjuk rasa di empat titik dengan cara menutup total Jalan Trans Sulawesi. Wilayah yang mengalami penutupan yakni Kecamatan Mangkutana (Luwu Timur), Masamba (Luwu Utara), Mamara (Luwu), dan Sappoddo (Palopo).
Demonstrasi tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 tahun. Para warga hanya mengizinkan mobil ambulans untuk melintasi jalan tersebut.
Akibatnya, terlihat kemacetan panjang hingga beberapa kilometer mewarnai setiap titik lokasi demonstrasi. Mereka menuntut Presiden Prabowo hingga Kemendagri.
"Untuk kemacetan sendiri mungkin kurang lebih 3 kilometer, tapi demonstrasinya aman terkendali," kata Kanit Laka Polres Palopo, Ipda Najamuddin, Jumat (23/1).
Baca juga: Kejari Surabaya Terima Enam SPDP Kasus Kerusuhan Grahadi dan Polsek Tegalsari
Editor : Redaksi