Nama Pejabat RI dalam Arsip Skandal Epstein: Administratif, Investasi, atau Kontroversi?

realita.co
Epstein dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump saat muda. Foto: Dok.Federal

JAKARTA (Realita) — Gelombang kejut dari pengungkapan dokumen hukum terkait mendiang predator seksual Jeffrey Epstein kembali mengguncang publik global, termasuk Indonesia. Dalam ribuan halaman dokumen yang baru saja dibuka oleh pengadilan federal Amerika Serikat, terungkap fakta mengejutkan mengenai intensitas penyebutan "Indonesia" yang mencapai 902 kali, serta deretan nama tokoh nasional yang tercatat dalam manifes penerbangan maupun buku kontak pribadi Epstein.

Nama-nama yang muncul mencakup spektrum luas, mulai dari tokoh politik, pengusaha papan atas, hingga figur publik. Beberapa nama yang tertera dalam dokumen antara lain Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), Anindya Bakrie, hingga Rosan Roeslani dan pengusaha Pia Alisjahbana. Dokumen tersebut merupakan kompilasi dari manifes penerbangan pesawat jet pribadi "Lolita Express", buku alamat (Black Book), serta catatan logistik lainnya.

Baca juga: Ribuan Dokumen Dirilis, Banyak Foto Donald Trump bareng Jeffrey Epstein

Sebagai contoh, nama Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo tercatat dalam konteks hubungan bisnis dan sosial pada era 1990-an. Hal ini diperkuat oleh pernyataan resmi dari pihak terkait.

"Nama-nama tersebut ada dalam konteks hubungan sosial dan bisnis yang luas. Keberadaan nama dalam dokumen tidak berarti mereka mengetahui atau terlibat dalam tindakan kriminal yang dilakukan oleh Epstein," ujar seorang pengamat hubungan internasional menanggapi temuan ini.

Baca juga: Sengketa Greenland, Trump Tegaskan Tak Butuh NATO dan Ancam Eropa

Angka 902 dan Koneksi Rothschild-Hitler Data yang dirilis CNBC Indonesia menyoroti fakta anomali mengenai penyebutan Indonesia sebanyak 902 kali. Sebagian besar referensi ini terkait dengan kepemilikan aset, transaksi keuangan, dan lokasi geografis yang menjadi titik singgah jet pribadi Epstein. Lebih jauh, dokumen tersebut mengungkap narasi yang lebih gelap, termasuk klaim-klaim kontroversial yang menghubungkan nama-nama besar seperti keluarga Rothschild hingga referensi sejarah mengenai Adolf Hitler, yang menambah lapisan misteri dalam berkas investigasi ini.

Mengutip laporan CNN Indonesia, urgensi kasus ini berakar pada jaringan perdagangan seks anak di bawah umur yang dioperasikan Epstein selama puluhan tahun. Kematian Epstein di sel tahanan pada 2019 meninggalkan lubang besar dalam penegakan hukum, yang kini coba ditambal melalui pembukaan dokumen-dokumen rahasia ini.

Baca juga: Beranikah Dunia Melawan Amerika Serikat?

Bagi publik Indonesia, munculnya nama-nama elite nasional ini menjadi ujian bagi transparansi. Meskipun mayoritas narasumber menegaskan bahwa pertemuan mereka dengan Epstein terjadi dalam kapasitas formal atau acara sosial terbuka, investigasi lebih tajam diperlukan untuk membedakan antara relasi kebetulan dengan keterlibatan yang lebih dalam.

Dokumen Epstein Files edisi 2026 ini mempertegas betapa luasnya jaringan sang miliarder. Indonesia, dengan segala kompleksitas elit politik dan bisnisnya, ternyata masuk dalam radar radar aktivitas sang predator. Fokus kini beralih pada bagaimana tokoh-tokoh yang namanya tercatut memberikan klarifikasi untuk menjaga reputasi mereka di tengah transparansi informasi global yang semakin tak terbendung.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru