Jejak Timah Panas di Area Konsesi, Misteri Jagal Gajah Sumatera tanpa Kepala

PELALAWAN (Realita) – Keheningan di area konsesi hutan tanaman industri PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) pecah oleh temuan tragis yang mengusik nurani publik. Seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan tanpa kepala di Distrik Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Penemuan ini bermula dari aroma busuk yang menyengat di sekitar lokasi pada awal Februari 2026. Setelah dilakukan penelusuran, petugas menemukan bangkai sang raksasa hutan tersebut sudah mulai membusuk. Yang mengejutkan, bagian kepala gajah Hilang diduga kuat dipenggal secara paksa oleh pemburu untuk mengambil gadingnya.

Jejak Investigasi dan Bukti di Lapangan Kapolda Riau langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk memimpin pengecekan. Berdasarkan hasil olah TKP dan nekropsi awal, polisi menemukan proyektil peluru yang bersarang di tubuh satwa dilindungi tersebut. Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa gajah tersebut tidak mati secara alami, melainkan dieksekusi dengan senjata api.

"Kami telah menemukan proyektil peluru di tubuh gajah tersebut. Ini adalah indikasi kuat adanya tindak pidana perburuan liar yang terorganisir," tegas Kapolda Riau dalam keterangannya saat meninjau lokasi.

Sorotan pada Wilayah Konsesi Kematian gajah di area kerja PT RAPP menimbulkan pertanyaan besar mengenai sistem pengamanan wilayah konsesi. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kini tengah mendalami kasus ini dan melakukan koordinasi intensif untuk mengevaluasi bagaimana pemburu bersenjata api bisa menembus masuk ke area tersebut.

"Kami sedang mendalami kematian gajah tanpa kepala di area kerja PT RAPP. Tim Gakkum Kemenhut bersama Kepolisian akan memburu pelaku hingga tuntas. Tidak ada ruang bagi pembantai satwa dilindungi di negeri ini," ujar perwakilan Kemenhut dalam pernyataan resminya.

Ancaman Kepunahan yang Nyata

Gajah Sumatera merupakan spesies yang statusnya kini kritis (critically endangered). Peristiwa ini menambah daftar panjang konflik satwa dan manusia, sekaligus membuktikan bahwa perdagangan ilegal gading gajah masih memiliki pasar gelap yang menggiurkan.

Para aktivis lingkungan mendesak agar investigasi tidak berhenti pada pelaku lapangan saja, tetapi juga menyentuh aktor intelektual di balik perdagangan gading tersebut. Saat ini, garis polisi telah terpasang di lokasi kejadian, dan sampel jaringan serta proyektil telah dibawa ke laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut.hut

Editor : Redaksi

Berita Terbaru