SELAMA berpuasa, kita harus menahan makan dan minum selama kurang lebih 13 jam. Saat perut kosong, asam lambung bisa naik.
Apakah anggapan ini benar? Untuk mengetahui hasilnya, dilakukan penelitian pada umat Muslim yang mengalami asam lambung selama Ramadan dan setelahnya.
Baca juga: Puasa Ramadhan Bisa Sehatkan Lambung
Berpuasa merupakan salah satu modifikasi gaya hidup yang dapat membantu mengurangi gejala asam lambung. Tidak makan, minum, dan merokok sejak subuh hingga matahari terbenam justru dapat menghindari asam lambung naik.
Seperti apa penelitian yang dilakukan? Apa hubungan antara puasa dan gejala asam lambung? Simak penjelasannya berikut ini.
Metodologi Penelitian
Asam lambung merupakan penyakit akibat refluks isi lambung ke kerongkongan atau lebih ke atas lagi. Gejala utama asam lambung adalah mulas dan sensasi terbakar di dada atau kerongkongan. Asam lambung juga mungkin disertai dengan gejala lainnya, termasuk batuk-batuk, suara serak, dan tenggorokan berdehem. [1]
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya asam lambung adalah mengganti gaya hidup menjadi lebih sehat. Puasa merupakan salah satu metode perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengurangi gejala asam lambung. Di bulan puasa, Muslim tidak merokok dari fajar hingga matahari terbenam, yang dapat mengurangi gejala asam lambung.
Studi dilakukan di Saudi Arabia menggunakan metode longitudinal yang memilih pasien asam lambung untuk mengambil sampel secara konsekutif. Para pasien terpilih menjawab kuesioner pada dua waktu yang berbeda, yaitu satu kali selama bulan Ramadhan dan satu kali lagi setelah bulan Ramadhan.
Hasil Penelitian
Setelah bulan Ramadan, gejala heartburn menurun secara signifikan, terutama saat pasien dalam posisi berbaring. Secara keseluruhan skor gejala heartburn menurun sebanyak 45 poin dari 17.9 selama Ramadan ke 14.3 setelah Ramadan.
Selain itu, regurgitasi atau makanan yang naik kembali ke mulut akibat gerakan anti peristaltik esophagus skornya berkurang dari 12.3 selama Ramadan ke 9.9 setelah Ramadan.
Setelah dilakukan penelitian, sebanyak 45.3% pasien merasa puas dengan kondisi kesehatan mereka selama bulan Ramadan. Sementara itu, setelah Ramadan, ada 34% pasien yang puas dengan kondisi mereka. Tidak ada hubungan antara tingkat parahnya gejala asam lambung sebelum atau sesudah puasa dengan jenis makanan yang dikonsumsi, waktu makan, atau jumlah makanan yang dikonsumsi.
Baca juga: Ngopi Nikmat di Pagi Hari tanpa Khawatir Asam Lambung Naik, Ini Tipsnya!
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat menyembuhkan gejala asam lambung. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi hasil tersebut dan memahami mekanisme yang mendasarinya.
Puasa Intermittent Bisa Menyembuhkan Gejala Asam Lambung?
Puasa intermittent merupakan pola makan yang menggunakan siklus antara makan dan berpuasa, fokusnya adalah pada kapan kita makan, bukan pada jenis makanannya. Ini dia beberapa pola makannya:
16:8 – Puasa selama 16 jam dan makan selama jendela makan 8 jam.
14:10 – Puasa selama 14 jam dan makan selama jendela makan 10 jam.
5:2 – Membatasi kalori ke 500 kalori selama 2 hari dalam seminggu. Selama 5 hari sisanya, mengonsumsi makanan normal, disarankan yang sehat.
Puasa sehari, tidak berpuasa sehari – berganti-ganti setiap hari.
Puasa 24 jam – dilakukan 1-2 kali saja dalam seminggu.
Studi untuk mengetahui apakah puasa intermittent dapat menyembuhkan gejala asam lambung dilakukan secara terbatas terhadap 25 partisipan yang memiliki asam lambung.
Hanya 9 orang yang menggunakan metode intermittent 16:8. Mereka yang konsisten melakukan metode ini, terbukti berkurang gejala asam lambungnya dengan cepat dan stabil selama studi berlangsung.
Studi dari The Curious Journal of Medical Science yang dilakukan di bulan Ramadan 2023 pada 130 peserta yang berpuasa dan tidak berpuasa menunjukkan bahwa gejala asam lambung yang dirasakan selama Ramadan tidak separah bulan-bulan lain di luar Ramadan.
Tapi studi tahun 2018 dari Journal of Nutrition, Fasting, and Health menyatakan bahwa puasa Ramadan tidak berpengaruh pada gejala asam lambung pada pasien yang mengonsumsi obat antisekresi seperti H2 Blocker dan PPI. Karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Di bulan Ramadan, pasien asam lambung disarankan berkonsultasi pada dokter untuk mendapat pengobatan yang tepat.gen
Editor : Redaksi