Kafe, Buku, dan Gawai: Upaya Pemkot Kediri Menjaga Budaya Baca

realita.co
peluncuran Robusca (Roeang Baca Buku di Cafe) di Ngangeni.id, Sabtu (28/2). Foto: Diskominfo

KEDIRI (Realita) - Pemerintah Kota Kediri mencoba menjaga denyut budaya baca di tengah dominasi gawai dengan menghadirkan ruang literasi di tempat yang akrab bagi anak muda: kafe. Upaya itu diwujudkan melalui peluncuran Robusca (Roeang Baca Buku di Cafe) di Ngangeni.id, Sabtu (28/2).

Program ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Kediri bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus), Dinas Perhubungan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Karang Taruna Kelurahan Kaliombo. Robusca menjadi ruang baca yang memadukan buku fisik dan akses bacaan digital di area kafe.

Baca juga: Literasi Naik Bus, Kolaborasi Disarpus-Dishub Kota Kediri Menyapa Generasi Kalcer

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, kehadiran Robusca merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan perilaku generasi muda yang kini lebih akrab dengan gawai dibandingkan buku cetak. Menurut dia, pemerintah perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi budaya baca.

“Anak-anak sekarang jarang memegang buku, tapi sering memegang gadget. Kita tidak tahu apakah isinya bermain gim, menonton media sosial, atau membaca. Maka ruang baca di kafe ini menjadi jalan tengah agar budaya baca tetap hidup,” kata Mbak Wali.

Ia menilai kafe tidak lagi sekadar ruang makan dan minum, melainkan bisa berkembang menjadi ruang diskusi, interaksi, dan edukasi. Vinanda berharap ruang baca di kafe tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar aktif melalui kegiatan seperti kelas menulis, bedah buku, hingga ruang diskusi karya.

Kepala Disarpus Kota Kediri Chevy Ning Suyudi menjelaskan, Robusca dirancang untuk mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat. Disarpus menyediakan buku, rak bacaan, hingga sistem peminjaman digital yang terintegrasi dengan keanggotaan perpustakaan.

Baca juga: Pimpin Apel Pagi, Mbak Wali Tekankan Literasi Membaca dan Pelestarian Lingkungan

“Kami menyesuaikan jumlah buku dengan ruang yang disediakan kafe. Selain buku fisik, ada juga sistem baca digital dan peminjaman lewat aplikasi,” ujar Chevy.

Menurutnya, pendekatan ini dipilih karena kafe menjadi ruang sosial yang diminati anak muda. Dengan dukungan digitalisasi dari Diskominfo, pengelola juga dapat memetakan minat baca pengunjung berdasarkan usia dan jenis bacaan.

Manajer Ngangeni.id sekaligus Ketua Karang Taruna Kelurahan Kaliombo, Rendy, menyebut Robusca sejalan dengan konsep usaha sosial mandiri yang dijalankan Karang Taruna. Usaha ekonomi yang dibangun, termasuk kafe, ditujukan untuk menopang kegiatan sosial di tingkat kelurahan.

Baca juga: Tak Lagi Monoton, Disarpus Kota Kediri Hadirkan TransLiteria untuk Tingkatkan Minat Baca

“Kami ingin usaha ini tidak hanya berjalan secara ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial. Literasi adalah salah satu kontribusi yang ingin kami dorong,” kata Rendy.

Robusca di Ngangeni.id menjadi proyek percontohan. Jika berjalan baik, program ini direncanakan diperluas ke kafe-kafe lain di Kota Kediri, sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang berpengetahuan dan berkarakter melalui budaya baca.nia

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru