JAKARTA (Realita) – Kematian dua tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Fef, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, tak hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan pertanyaan yang belum terjawab.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, dua narasi berbeda muncul ke permukaan, masing-masing membawa versinya sendiri.
Baca juga: Dua Warga Sipil Tewas Dibunuh OTK di Yahukimo, Satu Keluarga Jadi Korban Penyerangan
Di satu sisi, kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengklaim korban adalah bagian dari intelijen militer Indonesia. Di sisi lain, TNI menegaskan bahwa keduanya merupakan tenaga kesehatan yang tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas intelijen.
Peristiwa itu terjadi pada Senin, 16 Maret 2026, sekitar pukul 11.12 WIT, di wilayah antara Kampung Banfot, Distrik Fef, dan Kampung Jukbi, Distrik Bamus Bama.
Dua korban, yang diketahui bernama Yeremia Lobo dan Edwin, merupakan pegawai Rumah Sakit Pratama di Distrik Fef. Keduanya tewas setelah diserang dengan senjata tajam saat melintas di lokasi tersebut.
Dua rekan korban lainnya berhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke Pos TNI Bamusbama yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Berdasarkan dokumentasi visual yang beredar, kedua korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka bacok di sejumlah bagian tubuh. Salah satu korban tergeletak di pinggir jalan, sementara korban lainnya ditemukan di area semak-semak tidak jauh dari lokasi pertama.
Dalam salah satu rekaman video yang beredar, terlihat sebuah radio komunikasi tergeletak di dada salah satu korban. Keberadaan perangkat tersebut kemudian menjadi salah satu detail yang memicu spekulasi.
Baca juga: TNI Berhasil Kuasai Markas OPM Purom Okiman Wenda, Pelaku Serangan Kapolda Papua 2012
Juru bicara OPM, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulisnya menyebut bahwa penyerangan dilakukan oleh sayap militer mereka, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), dari Kodap XXXIII/Ru Mana.
Ia mengklaim bahwa korban merupakan bagian dari intelijen militer Indonesia yang menyusup sebagai tenaga kesehatan.
“Pasukan kami melakukan penyerangan hingga tewas terhadap dua anggota intelijen militer Indonesia. Keduanya adalah pegawai Rumah Sakit Pratama yang baru dilantik minggu lalu sebagai tenaga PPPK,” demikian pernyataan yang disampaikan.
Menurutnya, aksi tersebut merujuk pada pernyataan Panglima TNI yang menyebut tenaga kesehatan dan guru di Papua sebagai bagian dari struktur pertahanan negara.
Baca juga: Kerusuhan di Yalimo Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Namun klaim tersebut dibantah oleh pihak TNI. Kapendam XVIII/Kasuari, Letkol Inf Daniel Manalu, menegaskan bahwa korban bukan anggota intelijen.
“Itu tenaga kesehatan, bukan intelijen TNI. Memang Pos TNI menerima laporan dari tenaga kesehatan, namun untuk detail pelaku kami sarankan berkoordinasi dengan Polres setempat,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa korban merupakan bagian dari tenaga sipil yang menjalankan tugas pelayanan publik di wilayah tersebut.edi
Editor : Redaksi