JEMBER (Realita) - Bupati Jember, Gus Fawait, mengambil langkah tak biasa dalam menghadapi kritik publik. Lewat siaran langsung bertajuk Gus Bupati Menjawab, Jumat (10/4/2026), ia secara terbuka menguji kebijakan pemerintahannya di hadapan ribuan warga, tanpa sekat, tanpa sensor.
Langkah ini menjadi penanda perubahan drastis gaya kepemimpinan di Jember. Jika sebelumnya komunikasi pemerintah cenderung normatif dan formal, kini berubah menjadi konfrontatif dalam arti positif, berani diuji, siap dikritik, dan langsung memberi jawaban.
Baca juga: Tak Ada PHK 2027, Bupati Jember Gus Fawait Minta PPPK Tetap Tenang dan Fokus Kinerja
“Kami tidak datang untuk pencitraan. Kami datang untuk diuji. Publik berhak mempertanyakan dan kami wajib menjawab,” tegas Gus Fawait membuka forum live.
Menurut Gus Fawait forum live tak sekadar seremoni digital. Sejumlah nama penting lintas sektor dihadirkan untuk menguliti kebijakan secara terbuka, mulai dari perwakilan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, hingga akademisi dan jurnalis.
Diskusi berlangsung hidup, bahkan cenderung keras, saat program unggulan Pemkab Jember mulai disorot.
Program Mlijo Cinta menjadi sasaran kritik utama. Publik mempertanyakan apakah program ini benar-benar menyasar pedagang kecil atau hanya berhenti pada klaim di atas kertas. Gus Fawait tak menghindar.
“Kalau hanya bagi-bagi bantuan, itu mudah. Tapi kami bangun sistem. Mlijo Cinta menghubungkan produksi lokal langsung ke pasar. Ini soal keberlanjutan, bukan pencitraan,” ujarnya.
Sorotan berikutnya mengarah pada program Bunga Desaku, konsep bupati turun langsung ke desa.
Baca juga: Digitalisasi Pembayaran Sukses Dorong PAD Jember Tanpa Naikkan Pajak
Di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan digitalisasi birokrasi, program ini dianggap sebagian pihak sebagai langkah populis yang berpotensi membebani keuangan daerah.
Namun, Gus Fawait membalik kritik tersebut dengan argumentasi tajam.
“Masalah di desa tidak selesai lewat laporan. Kalau menunggu meja birokrasi, bisa terlambat. Kami pilih datang langsung agar keputusan tidak berlarut-larut,” katanya.
Tak berhenti di situ, isu sensitif seperti kemiskinan dan pembangunan infrastruktur, termasuk optimalisasi bandara, juga dibedah secara terbuka. Gus Fawait mengakui masih ada pekerjaan rumah besar, namun menegaskan arah kebijakan sudah dirancang dengan pendekatan terintegrasi.
“Kami tidak menutup mata. Tapi solusi harus jalan. Program sosial dan pembangunan fisik tidak bisa dipisahkan,” ucapnya.
Baca juga: Urai Kemacetan, Pemkab Jember Sepakati Relaksasi Jam Operasional Armada Imasco
Sepanjang forum, satu hal yang menonjol adalah keberanian kepala daerah untuk tidak berlindung di balik jargon. Gus Fawait beberapa kali mengakui kendala di lapangan, sesuatu yang jarang diungkap secara terbuka oleh pejabat publik.
Model komunikasi secara live menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Jember sedang menggeser paradigma, dari sekadar menyampaikan program menjadi mempertanggungjawabkan kebijakan secara langsung di hadapan publik.
Di akhir siaran, Gus Fawait memastikan forum semacam ini tidak akan berhenti sebagai agenda sesaat.
“Kalau ada kritik, sampaikan. Kami akan jawab. Ini komitmen kami, bukan sekali tayang,” pungkasnya.rdy
Editor : Redaksi