SIDOARJO (Realita)- Kemacetan di perempatan Gedangan adalah fenomena yang tak asing lagi, terutama bagi mereka yang tinggal di Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya.
Terutama setiap pagi dan sore, jalan ini menjadi arena pertemuan berbagai cerita bagi pencari nafkah.
"Macete nang kene wis gak ono obate, embuh enake diapakno dalan iki? (Macet di sini sudah nggak ada obatnya, entah gimana ini solusinya?)," gerutu, Budi, seorang karyawan swasta asal Gedangan, Sidoarjo.
Berdasarkan pengamatan Realita.co, volume kendaraan yang sangat tinggi, rambu lalu lintasnya kurang mumpuni. Selain marka jalan yang kurang terlihat, sistem lampu lalu lintasnya tidak diatur serius.
Di balik suara klakson yang bertubi-tubi, deru mesin yang tak henti, dan desakan kendaraan kecil ataupun besar yang mencoba mencuri ruang. Tersimpan potret kehidupan yang penuh warna dan perjuangan.
"Uniknya di sini, saat macet, ada Manusia Silver beraksi di tengah jalan. Paling nggak, ada sedikit hiburan mungkin ya," kata Rani, warga Surabaya yang melintas di sana setiap hari.
Bagi ribuan orang yang melintasi Gedangan seperti Rani dan Budi, kemacetan adalah perpanjangan dari rutinitas yang membelenggu. Setiap hari, mereka bertanya-tanya, apakah ini benar-benar hidup yang diinginkannya? Di dalam ruang kecil mobilnya, mereka mendengarkan radio, mencoba melupakan beban pekerjaan yang menantinya di kantor.
Namun, di tengah kebosanan itu, kadang muncul pemikiran ajaib. Pengguna jalan mulai menghitung berapa banyak waktu yang telah dihabiskan hanya untuk menunggu, lalu merenungkan betapa berharganya waktu itu jika digunakan untuk hal-hal yang lebih bermakna.
"Setiap hari, waktu terbuang percuma di sini, belum lagi bensinya," seloroh Tony, pemotor asal Buduran, Sidoarjo.
Sementara bagi seorang pelajar yang berangkat sekolah, kemacetan mungkin menjadi awal hari yang penuh tekanan. Di dalam angkot yang sempit atau di boncengan motor ayah, mereka menyaksikan jam yang terus berdetak, mencuri waktu yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Setiap detik yang berlalu membuatnya semakin gelisah, membayangkan hukuman dari guru karena terlambat. Dalam pikirannya, macet adalah musuh yang tak terlihat, sebuah hambatan yang menghalangi perjalanan menuju masa depan yang cerah.
Gedangan adalah Kecamatan yang berada di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, di mana titik kemacetan dari berbagai sudut arah bertemu. Dari dahulu hingga sampai detik ini, hanya perempatan ini yang nyaris mustahil diurai.
Dari semua sudut pandang ini, kemacetan menjadi metafora yang menggambarkan kompleksitas kehidupan. Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi situasi ini, membawa latar belakang, harapan, dan perjuangan masing-masing.
Kemacetan bukan hanya tentang jalan yang penuh sesak, melainkan juga tentang bagaimana peran pemerintah setempat merespon, dan bagaimana cara pihak kepolisian mengurai kemacetan yang sudah bertahun-tahun terjadi tanpa solusi.bay
Editor : Redaksi