UMKM Desa Junrejo Terpuruk Pasca Pandemi, Perajin Kayu Minta Pemkot Batu Turun Tangan

realita.co
Salah satu pelaku UMKM di Desa Junrejo yang masih eksis. Foto: Anton

BATU (Realita)- Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Junrejo, Kota Batu, mengeluhkan penurunan usaha yang signifikan sejak pandemi Covid-19. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya omzet hingga berkurangnya jumlah tenaga kerja yang terserap.

Salah satu pelaku UMKM yang masih bertahan hingga saat ini adalah Udik Setiadi, perajin kayu yang memproduksi berbagai interior dan kerajinan tangan di Dusun Jeding, Desa Junrejo. Kepada wartawan, Kamis (23/6/2026), Udik mengungkapkan bahwa pemasaran produknya terus mengalami penurunan sejak pandemi.

Baca juga: UMKM Desa Junrejo Merosot Tajam, Kades Minta Dukungan Nyata untuk Bangkitkan Usaha Warga

Menurutnya, kondisi tersebut memaksa usahanya melakukan efisiensi tenaga kerja. Jika sebelumnya mempekerjakan sekitar 30 karyawan, kini hanya tersisa 10 orang.

Udik berharap Pemerintah Kota Batu, khususnya dinas terkait, memberikan perhatian yang lebih nyata kepada para pelaku UMKM. Menurutnya, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini bukan sekadar permodalan, melainkan pendampingan dan pemetaan persoalan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.

"Kami meminta inas terkait turun langsung melihat kondisi UMKM yang sebenarnya. Datang dan tanyakan apa kendala yang kami hadapi. Kalau soal modal, itu bukan masalah utama karena sekarang banyak perbankan yang menawarkan pembiayaan," ujar Udik.

Ia juga menyoroti merosotnya sektor kerajinan kayu di wilayah Junrejo. Dahulu, Dusun Rejoso dikenal sebagai sentra perajin kayu dan peralatan dapur dengan jumlah pelaku usaha yang cukup banyak. Namun kini, sekitar 90 persen usaha tersebut telah berhenti beroperasi dan hanya menyisakan sekitar lima pelaku UMKM yang masih bertahan.

Baca juga: UMKM Aceh Didorong Naik Kelas Lewat Legalitas Usaha dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Menurut Udik, pernah ada koperasi yang menaungi para perajin, namun tidak berjalan optimal akibat persaingan harga di antara anggota.

Dalam hal pemasaran, ia menjelaskan bahwa selama ini produknya lebih banyak dipasarkan melalui agen dan event organizer (EO), bukan langsung kepada konsumen. Saat ini, pemasaran juga dilakukan secara daring, namun belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.

"Omzet usaha kami belakangan ini turun hampir 70 persen dibandingkan sebelumnya," katanya.

Baca juga: Unesa Dorong Mahasiswa Tangkap Peluang Bisnis Ramadan

Udik berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penarikan pajak, tetapi juga aktif memantau dan membantu keberlangsungan usaha para pelaku UMKM yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

"Kami ingin pemerintah melihat langsung bagaimana kondisi UMKM saat ini dan memberikan solusi yang nyata agar usaha-usaha kecil bisa kembali bangkit," pungkasnya. (Ton)

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru