GRESIK (Realita)– Pertumbuhan industrialisasi di Gresik Utara dinilai membawa peluang sekaligus tantangan sosial, budaya, dan keagamaan. Kondisi ini butuh sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat supaya pembangunan tetap sejalan dengan nilai religius Gresik sebagai Kota Santri.
Masyarakat juga perlu beradaptasi dan menyiapkan SDM yang kompeten, tapi tetap tidak meninggalkan nilai sosial dan keagamaan.
Baca juga: Dugaan Pungli Berkedok Penjualan Buku Tulis di SD Gresik Disorot, Wali Murid Pasang Spanduk Protes
Hal ini dibahas dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” yang digelar Local Media Network (LMN) di D’jiwana Caffe, Kecamatan Dukun, Selasa (28/7/2026).
Diskusi ini mengulas dampak industrialisasi, perubahan sosial, kesiapan generasi muda, peran pesantren, sampai isu keamanan lingkungan.
Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Gresik, Nur Faqih, bilang Gresik Pantura punya fondasi keagamaan yang kuat dengan ratusan pesantren. Tapi di sisi lain, industrialisasi juga bikin perubahan sosial karena masuknya pendatang.
“Budaya baru pasti muncul dan perlu diantisipasi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi masyarakat yang makin beragam, penguatan nilai Islam rahmatan lil alamin, toleransi, dan kemampuan beradaptasi.
Nur Faqih juga menyoroti tantangan generasi muda di era digital dan AI yang bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis kalau tidak diimbangi literasi dan pendampingan.
“Pendidikan, pesantren, sekolah, dan keluarga harus kolaborasi,” katanya.
Tokoh masyarakat Dukun, Gus Salam, menyebut pesantren sekarang juga mulai membuka sekolah vokasi dan pelatihan keterampilan untuk menjawab kebutuhan industri.
“Santri harus siap kerja tanpa ninggalin nilai agama,” ujarnya.
Baca juga: Dugaan Pelanggaran Etik Ketua DPRD Gresik Berlanjut, Badan Kehormatan Nyatakan Laporan PiAR Lengkap
Ia menilai kolaborasi dunia usaha, pesantren, dan pemerintah penting untuk pelatihan dan penyerapan tenaga kerja lokal. Namun, industrialisasi juga bisa memunculkan persoalan sosial seperti lemahnya pengawasan keluarga dan tantangan moral.
“Pesantren harus jadi benteng moral,” tegasnya.
Kasatpol PP Gresik, Agustin Halomoan Sinaga, menegaskan keamanan tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah. Peran RT, RW, desa, dan tokoh masyarakat juga penting banget.
Ia juga mendorong pengaktifan kembali Siskamling untuk deteksi dini gangguan keamanan.
Sinaga menyoroti masih adanya pelanggaran seperti miras, prostitusi, dan aktivitas ilegal, serta meningkatnya pendatang akibat industri.
“Satpol PP nggak bisa kerja sendiri tanpa masyarakat dan media,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencegahan sosial harus melibatkan kepedulian warga karena banyak persoalan juga dipengaruhi faktor ekonomi dan lingkungan.
Diskusi menyimpulkan bahwa industrialisasi dan identitas Kota Santri sebenarnya tidak harus bertentangan. Keduanya bisa jalan bareng lewat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, pesantren, pendidikan, media, dan masyarakat.
Sinergi ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus tetap menjaga nilai religius dan ketertiban sosial di Gresik Utara.
Reporter: M.Yusuf AL Ghoni
Editor : Redaksi