Dukung SDGs 4, Pakar UNESA Soroti Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pembelajaran Era Digital

realita.co
Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 mengenai pendidikan berkualitas, pemanfaatan AI dalam ekosistem pembelajaran dinilai sebagai sebuah keharusan strategis.

SURABAYA — Kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak pelak telah membawa disrupsi di berbagai sektor, tak terkecuali dunia pendidikan.

Menjawab tantangan tersebut sekaligus mendukung akselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 mengenai pendidikan berkualitas, pemanfaatan AI dalam ekosistem pembelajaran dinilai sebagai sebuah keharusan strategis untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif dan merata.

Baca juga: Dukung SDGs 4, 8, dan 9, Pakar UNESA Dorong Integrasi Deep Learning dan SKKNI dalam Kurikulum SMKĀ 

Hal tersebut ditekankan oleh pakar pendidikan yang juga menjabat sebagai kepala unit penjamin mutu S1 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rizki Fitri R.U., S.Pd., M.Sc.

Menurutnya, pemanfaatan AI yang tepat guna berpotensi besar merevolusi pendekatan pedagogik, mengubah cara guru mengajar dan siswa belajar menjadi jauh lebih adaptif.

"AI hadir bukan untuk menggeser peran esensial seorang pendidik di ruang kelas, melainkan sebagai asisten cerdas yang mendongkrak kualitas dan efisiensi pembelajaran. Dalam konteks SDGs 4, AI sangat memungkinkan terciptanya personalized learning. Artinya, teknologi ini dapat menyesuaikan materi, evaluasi, hingga ritme belajar sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan unik masing-masing siswa," jelas Rizki.

Lebih lanjut, Rizki memaparkan bahwa salah satu tantangan klasik dalam pendidikan adalah besarnya beban administratif guru.

Dengan pemanfaatan AI, tugas-tugas repetitif seperti penyusunan draf modul pembelajaran, analisis hasil evaluasi siswa secara real-time, hingga perancangan rubrik penilaian dapat diotomatisasi dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Baca juga: Dukung SDGs 4, 8, dan 9: Pakar UNESA Dorong Transformasi SMK Melalui Model Edutechnopreneurship Berbasis Produk

"Ketika beban administratif bisa dipangkas berkat bantuan AI, para guru akan memiliki lebih banyak ruang, energi, dan waktu untuk difokuskan pada pendampingan siswa secara lebih intensif, penanaman nilai-nilai karakter, dan memfasilitasi diskusi-diskusi yang membutuhkan empati. Karena hal-hal semacam ini yang tentu tidak bisa dilakukan oleh mesin," tambahnya.

Etika dan Literasi Digital sebagai Fondasi

Meski menawarkan segudang potensi, akademisi muda UNESA ini tetap mewanti-wanti pentingnya literasi digital dan batasan etis dalam penggunaan AI di sekolah.

Penggunaan inovasi digital di kelas, seperti integrasi chatbot edukasi atau asisten virtual, harus dirancang dengan cermat agar tidak mematikan daya nalar siswa.

Baca juga: AWS: Saatnya UU Pers Menyesuaikan Perkembangan Platform Digital dan AI

"Pemanfaatan AI harus tetap dibingkai sedemikian rupa sehingga siswa dapat bertindak sebagai subjek yang aktif. AI adalah alat pemantik. Guru harus memandu agar interaksi siswa dengan AI justru merangsang kemampuan berpikir kritis (critical thinking), mengasah kreativitas, dan memperkuat keterampilan memecahkan masalah, bukan malah menciptakan generasi yang pasif dan bergantung pada teknologi," papar Rizki.

Melalui integrasi AI yang terukur dan berpusat pada manusia (human-centered approach), inovasi ini diharapkan mampu mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.

Langkah adaptif yang didorong oleh perguruan tinggi ini menjadi wujud nyata dalam mencetak ekosistem pendidikan yang modern, sekaligus memastikan visi SDGs 4 dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik tanpa terkecuali.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru