MALANG- Tim PKM-Bahari Kelompok 6 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menghadirkan inovasi Fish Floss Ball berbasis ikan lele dan jagung sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan komoditas lokal di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Kegiatan yang dilaksanakan di bawah bimbingan Bapak Dr. I Made Dedi Mahariawan, S.Pi., M.P. selaku dosen pendamping lapang tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dengan mengangkat tema Pemberdayaan Wanita melalui Pengolahan, Pengemasan, serta Digitalisasi Pemasaran Olahan Ikan Lele. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada pengembangan produk pangan bernilai tambah yang memanfaatkan potensi perikanan dan pertanian lokal.
Clarias sp. atau yang lebih dikenal sebagai ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan yang mudah dijumpai dan dibudidayakan, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Ikan lele dipilih karena memiliki daya tahan yang tinggi, relatif mudah dipelihara, serta tidak membutuhkan perhatian khusus dalam proses budidayanya. Selain itu, kegiatan budidaya ikan lele mulai dari pembenihan hingga pemasaran dapat dilakukan dengan modal yang relatif terjangkau. Meskipun demikian, hasil budidaya ikan lele masih banyak dipasarkan dalam bentuk ikan segar sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan belum optimal.
Baca juga: FSTeM UB dan PPTK Kembangkan Minuman Fungsional Teh Berdaun Ungu Menggunakan Konsorsium Probiotik
Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi budidaya ikan lele yang cukup baik. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi bersama masyarakat serta kelompok pembudidaya, sebagian besar hasil budidaya masih dipasarkan dalam bentuk segar dan belum banyak dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi pengolahan yang tidak hanya meningkatkan nilai jual ikan lele, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu PKK dan kader Desa Tanggung.
Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Tim PKM-Bahari Kelompok 6 FPIK Universitas Brawijaya pada Selasa (28/7/2026) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan pengolahan ikan lele menjadi Fish Floss Ball. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dukungan dan pendampingan dari pemerintah Desa Tanggung yang dipimpin oleh Kepala Desa Tanggung, Bapak Duriadi, serta didukung oleh Sekretaris Desa Tanggung, Bapak Eko Harianto, bersama perangkat desa lainnya.
Inovasi Fish Floss Ball memanfaatkan abon ikan lele yang dikombinasikan dengan kentang dan jagung sebagai salah satu komoditas pertanian unggulan di Desa Tanggung. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan produk dengan cita rasa gurih, tekstur lembut di bagian dalam, serta kandungan gizi yang lebih beragam. Pemanfaatan ikan lele dan jagung dalam satu produk diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk diversifikasi pangan sekaligus optimalisasi komoditas lokal.
Dalam proses pembuatannya, adonan Fish Floss Ball dibentuk menyerupai bola (ball), kemudian dilapisi dengan tepung roti (bread crumbs) dan digoreng hingga berwarna keemasan. Proses tersebut menghasilkan produk dengan tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam. Selain memiliki cita rasa yang menarik, produk ini juga praktis dan memiliki tampilan yang dapat dikembangkan sebagai produk pangan lokal yang memiliki nilai jual. Pengolahan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memanfaatkan hasil budidaya ikan lele dan komoditas jagung agar tidak hanya dijual sebagai bahan pangan segar atau mentah.
Tidak hanya berfokus pada proses pengolahan, Tim PKM-Bahari Kelompok 6 FPIK UB juga memberikan pelatihan mengenai pengemasan dan digitalisasi pemasaran. Peserta diperkenalkan pada pentingnya identitas produk melalui pembuatan logo serta pemilihan kemasan yang sesuai untuk meningkatkan daya tarik dan nilai jual produk. Dalam aspek pemasaran, masyarakat dikenalkan dengan pemanfaatan platform digital seperti ShopeeFood sebagai salah satu sarana untuk memperluas jangkauan pemasaran. Selain itu, penggunaan QRIS diperkenalkan sebagai metode pembayaran digital yang lebih praktis dalam mendukung kegiatan penjualan produk.
Kegiatan tersebut mendapat tanggapan positif dari masyarakat dan perangkat Desa Tanggung. Bapak Aris, salah satu perangkat Desa Tanggung yang hadir dan menyaksikan proses demonstrasi, mengungkapkan bahwa masyarakat sebelumnya pernah mencoba mengolah ikan lele menjadi abon. Namun, hasil pengolahan tersebut masih memiliki kendala berupa aroma amis sehingga produk kurang diminati.
“Sebenarnya dulu kami pernah mencoba membuat abon lele, tetapi hasilnya masih terasa amis sehingga kurang diminati. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi mengetahui teknik pengolahan yang benar agar bau amis dapat diminimalkan,” ujar Bapak Aris.
Baca juga: ESTUARY ROOTS: Mahasiswa FPIK UB Tanam Mangrove, Perkuat Ekosistem Pesisir Malang Selatan
Dukungan dari Pemerintah Desa Tanggung, termasuk Kepala Desa Bapak Duriadi dan Sekretaris Desa Bapak Eko Harianto, menjadi salah satu bagian penting dalam terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat tersebut. Kolaborasi antara mahasiswa, pendamping lapang, pemerintah desa, serta masyarakat diharapkan dapat mendorong keberlanjutan program dan pengembangan potensi lokal Desa Tanggung.
Melalui kegiatan tersebut, Tim PKM-Bahari Kelompok 6 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya di bawah bimbingan Bapak Dr. I Made Dedi Mahariawan, S.Pi., M.P. selaku dosen pendamping lapang berharap masyarakat Desa Tanggung dapat memanfaatkan potensi komoditas ikan lele dan jagung secara lebih optimal. Inovasi Fish Floss Ball tidak hanya menjadi alternatif pengolahan pangan lokal, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas, menciptakan peluang usaha bagi masyarakat, serta mendorong pemasaran produk lokal melalui pemanfaatan teknologi digital.
Editor : Redaksi