UNIVERSITAS Brawijaya (UB) memperkuat langkah hilirisasi riset melalui kolaborasi dengan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Kab. Bandung. Melalui Departemen Biologi, Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM), UB bersama PPTK mengembangkan teh berdaun ungu berbasis mikroorganisme fungsional yang diarahkan pada peningkatan aktivitas antioksidan, standardisasi mutu, hingga pengembangan produk teh premium Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya UB untuk membawa hasil penelitian lebih dekat dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Kerja sama tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mencakup penelitian bersama, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan fasilitas riset, hingga membuka peluang pengembangan produk berbasis hasil penelitian.
Berawal dari Riset Minuman Fungsional
Kolaborasi UB dan PPTK diawali melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), yang mengembangkan minuman fungsional teh berdaun ungu dengan memanfaatkan konsorsium probiotik sebagai kandidat minuman antihiperglikemia. Proses pembuatan minuman fungsional menggunakan teknologi fermentasi dengan memanfaatkan sinergisme konsorsium probiotik dan teh berdaun ungu sebagai substrat. Riset yang dikembangkan lalu dievaluasi mutu, aktivitas antioksidan, viabilitas, kandungan fitokimia, dan penerimaan sensoris sebagai tahap awal pengembangan prototipe minuman fungsional. Teh berdaun ungu mengandung pigmen alami yang terdiri atas antosianin dan karotenoid yang menjadikan pucuk daunnya tampak ungu kemerahan.
Dalam program tersebut, peneliti mengeksplorasi potensi senyawa bioaktif dari klon teh berdaun ungu yang menjadi koleksi PPTK. Potensi tersebut kemudian dikaji melalui pengujian eksperimental pada skala laboratorium untuk melihat peluang pemanfaatannya dalam pengembangan produk fungsional.
Keterlibatan mahasiswa mulai jenjang S1, S2, hingga S3 menjadi salah satu bagian penting dari kolaborasi ini. Mereka tidak hanya belajar melakukan penelitian di laboratorium, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana sebuah hasil riset dapat dikembangkan lebih lanjut agar memiliki nilai tambah dan potensi manfaat yang lebih luas.
Menjawab Tantangan Industri Teh
Kolaborasi kemudian diperkuat melalui program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026 yang diketuai Ketua Departemen Biologi FSTeM UB, Yoga Dwi Jatmiko, M.App.Sc., Ph.D.
Melalui program ini, UB dan PPTK memperluas ruang diskusi dan kerja sama, termasuk melalui pengembangan joint publication yang melibatkan peneliti Departemen Biologi UB, di antaranya Prof. Muhaimin Rifa’i, Ph.D.Med.Sc. dan Prof. Dr. Sri Rahayu, M.Kes.
Dari PPTK, diskusi kegiatan melibatkan peneliti dari berbagai bidang, yaitu Erdiansyah Rezamela, S.P., M.Agr. dari Divisi Agronomi, Dr. M. Khais Prayoga, M.P. dari Divisi Pemuliaan Tanaman, Hilman Maulana, S.T. dari Divisi Pengolahan Hasil dan Enjiniring, serta Fani Fauziah, S.P., M.Si. dari Divisi Proteksi Tanaman.
Dalam diskusi bersama, berbagai persoalan yang dihadapi industri teh menjadi bagian dari pembahasan. Mulai dari tantangan produksi pada kondisi kekeringan, yakni fenomena El Nino dalam setahun terakhir, pemanfaatan biomassa hasil pengolahan teh, pengendalian hama, hingga potensi pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen pupuk hayati.
Kondisi tanah di kawasan perkebunan teh Gambung juga menjadi salah satu konteks dalam pembahasan mengenai pemanfaatan mikroorganisme. Di sisi lain, potensi mikroorganisme untuk meningkatkan nilai fungsional produk berbahan baku teh turut dieksplorasi sebagai bagian dari arah pengembangan riset.
Ruang lingkup tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat menjadi wadah untuk mempertemukan pendekatan akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi sektor industri.
Mahasiswa Belajar Langsung dari Dunia Riset dan Industri
Tidak hanya menghasilkan penelitian, kolaborasi UB dan PPTK juga membuka ruang pengembangan talenta bagi mahasiswa. Mahasiswa FSTeM UB berkesempatan memperoleh pengalaman melalui keterlibatan dalam kegiatan penelitian, termasuk peluang untuk melaksanakan magang maupun mengerjakan tugas akhir di lingkungan mitra.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana penelitian diterapkan dalam konteks industri—mulai dari eksplorasi bahan, pengujian, hingga inovasi pengembangan produk dan pemanfaatannya.
Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau laboratorium kampus, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan peneliti dan lingkungan kerja mitra.
Hilirisasi Riset Tidak Berhenti pada Publikasi
Kolaborasi Departemen Biologi FSTeM UB dan PPTK menunjukkan bahwa hilirisasi riset memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan publikasi ilmiah. Publikasi bersama, transfer pengetahuan, mobilitas mahasiswa, dan pengembangan sumber daya manusia tetap menjadi bagian penting. Namun, kerja sama juga diarahkan untuk membuka jalan menuju luaran yang berdampak lebih nyata, termasuk pengembangan inovasi dan produk yang memiliki nilai tambah.
Pengembangan teh berdaun ungu berbasis mikroorganisme fungsional menjadi salah satu contoh bagaimana kekuatan riset perguruan tinggi dapat dipertemukan dengan sumber daya, fasilitas, dan pengalaman mitra di bidang teh.
Arah kolaborasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera melalui pengembangan minuman fungsional antihiperglikemia berbasis probiotik dan antioksidan teh ungu, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui keterlibatan mahasiswa S1–S3 berupa magang dan tugas akhir, serta SDG 9 tentang industri, inovasi dan infrastruktur melalui hilirisasi riset dan teknologi fermentasi hasil penelitian kolaborasi, SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kemitraan lintas lembaga UB–PPTK, joint publication, dan pertukaran sumber daya.
Ke depan, kemitraan berkelanjutan antara FSTeM UB dan PPTK diharapkan dapat terus diperkuat melalui penelitian bersama, pengembangan talenta, serta inovasi yang menghasilkan beragam luaran, mulai dari publikasi ilmiah dan paten hingga produk hasil riset. Bagi UB, perjalanan dari laboratorium menuju produk merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi terus bergerak menuju inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Redaksi