SUMENEP — Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) melalui program Kampestan Social Scientific Expedition (KSSE) Vol. 9 melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Pulau Saseel, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kelompok 40 PKM Bahari dan dipimpin oleh Koordinator Desa, Muhammad Bagas Andhika.
Baca juga: Scan Sekali, Kenali Isinya: Mahasiswa FPIK UB Bawa Edu-Wisata Digital ke Sumber Wendit Lanang
Budidaya kerang mutiara menjadi salah satu kegiatan perikanan yang memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat pesisir Pulau Saseel. Dalam proses pemeliharaannya, kesehatan kerang serta kebersihan wadah budidaya menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan. Kerang mutiara yang dipelihara menggunakan pocket net dapat mengalami penumpukan kotoran, lumut, dan organisme penempel yang berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan pemeliharaan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk menerapkan inovasi sederhana sebagai upaya pendukung pemeliharaan kerang mutiara tanpa mengesampingkan metode perawatan yang telah dilakukan oleh masyarakat.
Salah satu inovasi yang diterapkan oleh bidang penelitian dengan penanggung jawab program kerja, Santi Afifatul Milati, adalah pemanfaatan probiotik yang mengandung bakteri Bacillus sp. sebagai perlakuan tambahan dalam pemeliharaan kerang mutiara. Bacillus sp. terlebih dahulu diaktivasi menggunakan molase atau tetes tebu sebagai sumber karbon. Larutan yang telah melalui proses aktivasi kemudian diaplikasikan pada kerang mutiara dan pocket net sebagai bagian dari perlakuan.
Penerapan inovasi tersebut dilakukan di lokasi budidaya kerang mutiara milik Pak Napang, salah satu pembudidaya kerang mutiara di Pulau Saseel. Sebelum pemberian perlakuan, pocket net tetap dibersihkan secara rutin dari lumut dan organisme penempel. Proses pembersihan juga dilakukan untuk membantu pembudidaya memeriksa kondisi serta perkembangan kerang mutiara.
Setelah proses pembersihan selesai, larutan Bacillus sp. yang telah diaktivasi diaplikasikan pada permukaan kerang dan pocket net. Pemberian probiotik dilakukan sebagai perlakuan tambahan dan bukan sebagai pengganti proses pembersihan rutin yang telah dilakukan oleh masyarakat.
“Penggunaan Bacillus sp. ini kami lakukan sebagai salah satu upaya untuk mendukung kesehatan kerang mutiara dan menjaga kondisi lingkungan di sekitar pocket net. Pembersihan tetap dilakukan secara rutin karena probiotik ini merupakan perlakuan tambahan, bukan pengganti pemeliharaan yang sudah dilakukan masyarakat,” ujar Santi.
Monitoring dilakukan sekitar 10 hari setelah pemberian perlakuan untuk melihat kondisi kerang mutiara dan pocket net. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, terlihat adanya perbedaan secara visual antara kerang yang mendapatkan perlakuan Bacillus sp. dan kerang yang tidak mendapatkan perlakuan. Kerang yang mendapatkan perlakuan tampak lebih sehat dan menunjukkan pertumbuhan yang secara visual terlihat lebih baik dibandingkan dengan kelompok tanpa perlakuan.
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Bernilai, Mahasiswa PKM Bahari FPIK UB Kembangkan Budidaya Maggot di Desa Pagak
Perbedaan juga terlihat pada kondisi pocket net. Wadah yang mendapatkan perlakuan tampak lebih bersih dibandingkan dengan pocket net yang tidak mendapatkan perlakuan.
“Setelah kurang lebih 10 hari, kami melihat adanya perbedaan kondisi antara kerang yang diberikan perlakuan dan yang tidak. Kerang yang mendapatkan Bacillus sp. terlihat lebih sehat, sedangkan pocket net-nya juga terlihat lebih bersih dibandingkan dengan yang tidak diberikan perlakuan,” jelas Santi.
Hasil monitoring tersebut menjadi temuan awal dalam penerapan probiotik pada budidaya kerang mutiara di Pulau Saseel. Kondisi pocket net yang tampak lebih bersih diharapkan dapat mendukung lingkungan pemeliharaan kerang sehingga sirkulasi air tetap berlangsung dengan baik. Sementara itu, kondisi kerang yang terlihat lebih sehat dan menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik menjadi dasar untuk dilakukan pengamatan lanjutan.
Meskipun demikian, hasil tersebut masih merupakan pengamatan awal secara visual sehingga belum dapat dijadikan sebagai bukti bahwa penggunaan Bacillus sp. menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan perbedaan kondisi dan pertumbuhan kerang. Pengamatan secara berkala diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih terukur dan dapat dibandingkan.
“Kami masih perlu melakukan monitoring secara berkala agar hasilnya dapat dibandingkan dengan lebih jelas. Ke depannya, kami berharap dapat melihat perkembangan kerang, tingkat kelangsungan hidup, serta kondisi pocket net secara lebih terukur sehingga efektivitas inovasi ini dapat diketahui dengan lebih baik,” lanjut Santi.
Pemanfaatan probiotik Bacillus sp. menjadi salah satu inovasi yang dapat dikembangkan sebagai perlakuan pendukung dalam pemeliharaan kerang mutiara di Pulau Saseel. Penerapannya dapat dipadukan dengan kegiatan pemeliharaan yang telah dilakukan masyarakat, terutama pembersihan pocket net secara berkala.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap penerapan inovasi berbasis probiotik dapat memberikan pengalaman baru bagi pembudidaya sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan metode pemeliharaan kerang mutiara. Kolaborasi antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat menjadi bagian penting dalam menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Monitoring secara berkelanjutan akan dilakukan untuk mengetahui perkembangan hasil penerapan Bacillus sp. pada budidaya kerang mutiara di Pulau Saseel.
Editor : Redaksi