Oleh: Tim Redaksi
MALANG — Angka kematian benih yang tinggi dan keuntungan yang tak menentu selama ini menjadi momok bagi para pembudidaya lele di Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Namun, kabar baik datang dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Mulyojoyo Sakti.
Baca juga: KKN Penuh Aksi di Mangunrejo: Perkuat Wisata, Naikkan Level UMKM, dan Edukasi Ketahanan Pangan
Sebuah inovasi bernama Teknologi Insulasi Kolam Terintegrasi Closed House, atau TIKTECH, yang dihadirkan oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil mengubah wajah budidaya di sana secara signifikan.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Dr. Qurrota A’yunin, S.Pi., MP., M.Sc merupakan buah kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan Dosen Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Program Studi Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM), serta Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Ketiganya bersinergi mendampingi Bapak Kabul selaku ketua UPR Mulyojoyo Sakti, Bapak Basori selaku koordinator teknis pembenihan dan para anggotanya untuk menerapkan solusi tepat guna atas persoalan klasik yang dihadapi.
Selama ini, metode budidaya konvensional sangat bergantung pada kondisi cuaca. Fluktuasi suhu air yang ekstrem di siang dan malam hari sering menjadi biang keladi gagalnya pembenihan. Benih lele yang masih rentan mudah stres, nafsu makan menurun, dan akhirnya mati dalam jumlah besar. Tingginya biaya produksi akibat pakan tidak efisien serta rendahnya kelulushidupan benih ikan membuat keuntungan pembudidaya kerap tergerus.
Di sinilah TIKTECH hadir sebagai jawaban. Teknologi ini mengandalkan dua prinsip utama. Pertama, sistem insulasi termal yang diaplikasikan pada dinding dan atap kolam berfungsi sebagai perisai agar suhu air tetap stabil di kisaran ideal yang dibutuhkan benih untuk tumbuh optimal. Kedua, konsep closed house menciptakan lingkungan budidaya yang terkendali, sehingga sirkulasi udara dan pengelolaan kualitas air tidak lagi terganggu oleh perubahan iklim eksternal.
Kunci keberhasilan TIKTECH tidak hanya terletak pada aspek fisik kolam, tetapi juga pendekatan keilmuan yang holistik. Tim FPIK UB memastikan desain insulasi dan sistem sirkulasi berjalan sesuai kaidah teknik budidaya perairan analisis mendalam parameter kualitas air seperti kadar oksigen terlarut, derajat keasaman (pH), ammonia, nitrit, dan fosfat untuk menciptakan ekosistem air yang sehat secara kimiawi dan biologis. Sementara itu, keahlian tim Biologi FSTeM UB difokuskan pada pemberian probiotik dan sinbiotik untuk memperkuat daya tahan tubuh benih lele. Tidak ketinggalan, tim dari FKH UB mengimplementasikan pendekatan kesehatan hewan melalui manajemen stress untuk pencegahan penyakit.
Hasil dari penerapan teknologi ini sungguh menggembirakan dan melampaui ekspektasi. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih lele meningkat drastis, terutama pada fase kritis di minggu-minggu awal pemeliharaan. Benih tumbuh lebih seragam, sehat, dan kokoh berkat suhu air yang stabil. Dengan tingkat kematian yang ditekan, pembudidaya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli benih susulan. Lebih jauh, ikan yang sehat dan minim stres memiliki konversi pakan yang jauh lebih efisien—setiap gram pakan yang diberikan berubah optimal menjadi daging, sehingga menghemat biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam produksi.
Dampak ekonominya terasa nyata di kantong para pembudidaya. Dengan jumlah benih yang bertahan hidup lebih banyak dan efisiensi biaya produksi yang membaik, pendapatan UPR Mulyojoyo Sakti menjadi lebih stabil dan bahkan meningkat secara signifikan per siklus panen. Para anggota kelompok tidak lagi pusing memikirkan potensi gagal panen akibat cuaca buruk. Roda ekonomi di tingkat rumah tangga pun bergerak; kelebihan keuntungan mulai dapat ditabung untuk ekspansi kolam atau peningkatan kualitas hidup keluarga.
Yang membedakan program ini adalah pendekatan humanis dan partisipatif. Tim pengabdi UB tidak datang sekadar memasang teknologi lalu pergi. Mereka memberikan pendampingan intensif dan pelatihan berkelanjutan, memastikan para pembudidaya memahami prinsip kerja TIKTECH dan mampu melakukan perawatan mandiri. Anggota paguyuban kini tidak lagi sekedar mengandalkan feeling, tetapi telah bertransformasi menjadi operator handal yang mampu membaca data kualitas air dan mengatur sirkulasi kolam. Peningkatan kapasitas teknis dan manajerial ini membawa kesadaran baru bahwa budidaya lele dapat dikelola secara profesional layaknya sebuah usaha modern.
Keberhasilan TIKTECH juga menjadi pelajaran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Di tengah cuaca ekstrem yang kian tak menentu, teknologi ini menjadi benteng tangguh yang membuat pembudidaya tidak lagi bergantung penuh pada alam. Mereka memiliki kendali atas lingkungan budidaya, menjadikan usaha perikanan lebih berkelanjutan dan tahan terhadap krisis.
Baca juga: Lewat SEMAR, FPIK UB Ajak Siswa SDN Pandanajeng Belajar Memilah Sampah Sejak Dini
Kolaborasi antara FPIK, FSTeM, dan FKH UB ini adalah bukti nyata yang berdampak dalam mengatasi permasalahan di masyarakat. Dengan menggabungkan keahlian di bidang teknik budidaya, biologi lingkungan, dan kesehatan hewan, solusi yang dihasilkan menjadi komprehensif dan tepat sasaran. Kegiatan ini SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan omzet pembudidaya; SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan mengamankan rantai pasok ketahanan pangan/sumber protein hewani; SDG 3 (Pendidikan Berkualitas) dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap perubahan cuaca yang ekstrim untuk meningkatkan kesehatan dan produksi benih ikan; dan SDG 17 (Kemitraan untuk mencapai tujuan) dengan menjalin kemitraan dengan kelompok masyarakat mitra maka akademisi dan masyarakat bisa saling bersinergi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di kelompok masyarakat mitra.
Lebih dari sekadar angka dan teknologi, yang paling membahagiakan adalah semangat baru yang menyala di UPR Mulyojoyo Sakti. Senyum lega para pembudidaya saat melihat ribuan benih lele tumbuh sehat adalah hadiah tak ternilai. Desa Maguan, yang dulu dikenal sebagai sentra pembenihan lele, kini memiliki cerita sukses tentang inovasi dan kerja sama.
Tim UB berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan pendampingan guna memastikan TIKTECH bertahan dalam jangka panjang. Harapannya, teknologi ini dapat direplikasi dan menjadi inspirasi bagi UPR lain di seluruh Indonesia. TIKTECH mengajarkan bahwa dengan sinergi antara kampus dan masyarakat, tantangan klasik sekalipun dapat diubah menjadi peluang emas untuk kesejahteraan bersama. Semoga semangat kolaborasi ini terus mengalir, berdampak, membawa perubahan nyata bagi pembudidaya dan ketahanan pangan nasional.
Editor : Redaksi