JOMBANG (Realita)- Dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Jombang. Puluhan siswa SMPN 1 Kabuh dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG, Kamis (3/9/2026).
Sejumlah siswa kemudian mendapat penanganan medis di Puskesmas Kabuh, klinik, hingga rumah sakit terdekat. Peristiwa tersebut mendapat sorotan dari Anggota Komisi A DPRD Jombang dari Fraksi PKB, Kartiono.
Kartiono menilai kejadian tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG, terutama menyangkut keamanan pangan dan sistem pengawasan.
Kartiono mengaku pertama kali memperoleh informasi dari salah seorang wali murid ketika dirinya sedang dalam perjalanan dari Surabaya.
“Saya mendapat kabar dari salah seorang wali murid SMPN 1 Kabuh bahwa hari ini diduga anak-anak mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Saya terhentak kaget,” kata Kartiono, Jumat (4/9).
Menurutnya, informasi yang diterima menunjukkan sejumlah siswa harus mendapatkan penanganan medis. Namun, Kartiono menekankan bahwa penyebab pasti keluhan kesehatan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan investigasi pihak berwenang.
“Ini adalah alarm keras bagi semua pihak yang terkait atas pelaksanaan program MBG dari hulu hingga hilir. Di Jombang sudah dua kali kejadian,” tegasnya.
Kartiono mengatakan akan mengusulkan kepada pimpinan DPRD Jombang agar pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pengawasan MBG dipanggil untuk memberikan penjelasan.
“Saya akan mengusulkan kepada pimpinan Dewan untuk memanggil semua pengelola dapur dan juga satgas pengawasnya untuk meminta tanggung jawab moral atas berbagai insiden yang terjadi,” ujarnya.
Menurut politikus senior PKB tersebut, program MBG memiliki tujuan yang baik karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia. Namun, tujuan tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan penerima manfaat.
“Ini menyangkut jiwa anak manusia, menyangkut nyawa anak bangsa. Jangan sampai program MBG ini hanya indah di nama, namun gelap pada tata laksananya,” katanya.
Ia menilai besarnya anggaran negara untuk program MBG harus diikuti sistem pengawasan yang ketat. Pengawasan tersebut, kata dia, harus mencakup kualitas bahan makanan, proses memasak, kebersihan dapur, penyimpanan, distribusi, hingga makanan diterima siswa.
Kartiono juga meminta agar persoalan tersebut tidak berhenti pada permintaan maaf apabila hasil investigasi nantinya menemukan adanya pelanggaran atau kelalaian.
“Saya juga berharap masalah ini tidak hanya berhenti di tataran minta maaf. Tapi harus ada tindakan keras dan tegas. Bila perlu SPPG bersangkutan ditutup,” tegasnya.
Baca juga: Diduga Ada Oknum ASN Disdikbud hingga Komite Bawa Siswa Titipan, DPRD Jombang Desak Klarifikasi
Namun, ia menambahkan bahwa langkah tersebut harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, apabila ditemukan pelanggaran, sanksi administratif maupun proses hukum harus dilakukan sesuai ketentuan.
“Hal yang menyangkut keselamatan dan nyawa anak manusia tidak boleh lagi dijadikan drama seri yang tidak ada kejelasan rampungnya,” tandas Kartiono.
Lebih jauh, politikus PKB tersebut mengingatkan agar insiden yang berkaitan dengan MBG tidak dianggap sebagai kejadian biasa.
“Jika hal seperti ini terus dinormalisasi, saya khawatir akan menjadi bom waktu. Rakyat akan marah karena merasa keselamatan anak-anaknya dijadikan kelinci percobaan,” ujarnya.
Kartiono berharap kasus di SMPN 1 Kabuh menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di Jombang. Evaluasi, menurutnya, tidak hanya dilakukan terhadap dapur penyedia makanan, tetapi juga sistem pengawasan dari hulu hingga hilir.
Ia menegaskan, keberhasilan program MBG tidak cukup hanya diukur dari tersalurkannya makanan kepada penerima manfaat. Kualitas, kandungan gizi, kebersihan, keamanan pangan, serta keselamatan anak harus menjadi bagian utama dari keberhasilan program.
Baca juga: Khawatir Tidak Lolos PPDB Melalui Jalur Prestasi Olahraga Wali Murid Wadul Dewan
“Namanya saja program Makan Bergizi Gratis, tapi kok malah meracuni,” ucapnya.
Kartiono kemudian menyinggung pengelolaan makanan bagi warga binaan di lembaga pemasyarakatan yang menurutnya selama ini relatif jarang diberitakan mengalami kejadian serupa.
“Masak kalah sama ransum makanan warga binaan di lembaga pemasyarakatan yang kita tahu jarang sekali ada kabar keracunan, bahkan nyaris tidak pernah dengar,” katanya.
Meski demikian, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami siswa SMPN 1 Kabuh masih perlu menunggu hasil pemeriksaan medis dan investigasi resmi.
Pemeriksaan sampel makanan, kondisi kesehatan siswa, serta proses pengolahan dan distribusi MBG menjadi penting untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Kartiono berharap hasil investigasi nantinya disampaikan secara terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi sekaligus menjadi dasar evaluasi dan perbaikan pelaksanaan program MBG di Jombang.(din)
Editor : Redaksi