JAKARTA (Realita)- Ketua Umum DPP Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI) Joko Priyoski mengatakan, tekanan ekonomi juga datang dari meningkatnya beban utang negara maju.
Beban bunga utang pemerintah negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dilaporkan telah menembus lebih dari US$2 triliun, setara sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), pada 2025.
Baca juga: Panda Bonds Jadi Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
Amerika Serikat, Prancis dan Inggris bahkan menghadapi kondisi ketika pembayaran bunga utang melampaui anggaran pertahanan.
Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun di negara-negara G7 mendekati atau menembus level 4 persen, yang menjadi salah satu level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008.
Baca juga: RUU Reforma Agraria Masuk Agenda DPR
Para ekonom memperingatkan risiko “doom loop” fiskal, yakni situasi ketika meningkatnya beban bunga memperlebar defisit, kemudian mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan kembali memperbesar biaya utang pemerintah.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi peringatan agar disiplin fiskal tetap dijaga.
Baca juga: Pinjol Warga Indonesia Tembus Rp105,63 Triliun
Namun di sisi lain, meningkatnya tekanan fiskal di negara maju juga berpotensi menciptakan peluang bagi surat utang negara berkembang apabila mampu menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang tetap terkendali.lis
Editor : Redaksi