MALANG – Menjaga ekosistem pesisir tidak cukup berhenti pada pemahaman di ruang kelas. Sebanyak 47 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) turun langsung melakukan penanaman mangrove di bantaran Sungai Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir Malang Selatan.
Aksi tersebut dilaksanakan melalui ESTUARY ROOTS, program Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPIK UB yang digelar pada 23 Agustus 2026. Mengusung tema “Roots of Tomorrow: Sowing Sustainability along the River’s Edge”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat dan komunitas lokal dalam aksi konservasi berbasis kolaborasi.
Dalam pelaksanaannya, BEM FPIK UB menggandeng Komunitas Tegalsari Maritim (KTM), komunitas lokal yang memiliki perhatian terhadap konservasi lingkungan serta pemulihan fungsi lahan dan bantaran sungai. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting karena upaya pemulihan ekosistem membutuhkan keterlibatan masyarakat yang berinteraksi langsung dengan kawasan tersebut.
Lokasi penanaman dipilih di sepanjang bantaran Sungai Sidodadi yang memiliki keterhubungan dengan kawasan pesisir dan bermuara ke Pantai Tanjung Penyu. Kawasan ini menghadapi tekanan lingkungan, terutama risiko erosi dan abrasi serta luapan air sungai pada musim hujan yang dapat berdampak terhadap permukiman di sekitarnya.
Mangrove menjadi salah satu vegetasi penting dalam menjaga kestabilan kawasan tersebut. Sistem perakarannya mampu membantu memerangkap sedimen dan menstabilkan substrat, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai biota perairan. Dalam skala yang lebih luas, keberadaan ekosistem mangrove yang sehat juga berperan penting dalam mendukung produktivitas dan ketahanan ekosistem pesisir.
Untuk mencapai lokasi penanaman, para peserta menempuh perjalanan menggunakan perahu menyusuri Sungai Sidodadi. Sebanyak 47 mahasiswa bersama tujuh anggota Komunitas Tegalsari Maritim kemudian melakukan penanaman mangrove secara bersama-sama di sepanjang bantaran sungai.
Bibit yang digunakan merupakan mangrove jenis Tanjang (Bruguiera sp.). Setiap bibit dilengkapi dengan penyangga bambu untuk membantu mempertahankan posisi tanaman agar tetap tegak dan mendukung proses adaptasinya pada fase awal setelah penanaman.
Bagi mahasiswa FPIK UB, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi aksi penghijauan, tetapi juga ruang belajar langsung mengenai kompleksitas konservasi pesisir. Mahasiswa dapat melihat bagaimana kondisi ekologis, karakteristik wilayah, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian yang saling berkaitan dalam upaya pemulihan suatu ekosistem.
Baca juga: KKN Penuh Aksi di Mangunrejo: Perkuat Wisata, Naikkan Level UMKM, dan Edukasi Ketahanan Pangan
Perwakilan Komunitas Tegalsari Maritim, Sumarianto, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa penanaman merupakan langkah awal, sementara pemeliharaan dan pemantauan secara berkala menjadi bagian penting agar mangrove yang telah ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.
Kesadaran terhadap pentingnya fase pascapenanaman tersebut kemudian diterjemahkan BEM FPIK UB melalui komitmen melakukan monitoring dan evaluasi tiga bulan setelah kegiatan. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan bibit mangrove sekaligus mengevaluasi keberlanjutan program konservasi di lokasi penanaman.
Komitmen tersebut penting karena keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan tanaman untuk bertahan hidup dan tumbuh setelah penanaman. Dengan demikian, ESTUARY ROOTS diarahkan bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial satu hari, melainkan awal dari upaya konservasi yang dipantau keberlanjutannya.
Kegiatan juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan mahasiswa dengan masyarakat setempat. Setelah proses penanaman selesai, mahasiswa, anggota komunitas, dan warga mengikuti liwetan atau makan bersama secara tradisional. Interaksi tersebut menjadi bagian dari pendekatan sosial dalam kegiatan konservasi, bahwa menjaga lingkungan membutuhkan hubungan dan rasa memiliki bersama antara berbagai pihak.
Melalui ESTUARY ROOTS, mahasiswa FPIK UB memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan kepedulian lingkungan melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, serta memperkuat semangat Kampus Berdampak melalui keterlibatan mahasiswa dalam menjawab persoalan lingkungan di tingkat lokal.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, ESTUARY ROOTS berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 13: Climate Action melalui penguatan ekosistem pesisir yang berperan dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, serta SDG 14: Life Below Water melalui upaya menjaga ekosistem pesisir yang menjadi habitat berbagai biota perairan.
Kolaborasi BEM FPIK UB dengan Komunitas Tegalsari Maritim dan masyarakat setempat juga memperkuat SDG 17: Partnerships for the Goals, dengan menunjukkan bahwa konservasi lingkungan membutuhkan kerja bersama antara perguruan tinggi, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat.
Melalui akar-akar mangrove yang ditanam di tepian Sungai Sidodadi, ESTUARY ROOTS membawa pesan sederhana bahwa keberlanjutan pesisir dapat dimulai dari tindakan lokal. Dengan pendampingan, monitoring, dan kepedulian yang terus dijaga, bibit yang ditanam hari ini diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi benteng alami pesisir, tetapi juga menumbuhkan generasi muda yang semakin dekat dengan persoalan dan masa depan laut Indonesia.
Editor : Redaksi