JAYAPURA — Bencana luar biasa tengah mencekik ujung timur Indonesia. Papua kini resmi berubah menjadi episentrum baru "neraka" kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengerikan hingga awal November 2026.
Amukan si jago merah yang dipicu cuaca ekstrem dan angin kencang ini tak hanya melahap ratusan hektare lahan yang belum kunjung padam, tetapi juga memproduksi kabut asap pekat yang menyiksa pernapasan warga.
Baca juga: Bantuan Anies untuk Anak Korban Asap di Palangkaraya, Ditolak Pemprov Kalteng
Gila-gilaan, invasi asap beracun ini dilaporkan telah mengepung Papua Tengah, Papua Pegunungan, hingga menyebar lintas pulau meneror langit Maluku dan Sulawesi. Warga kini menjerit tersiksa wabah batuk dan krisis air bersih.
Merespons krisis yang memuncak sejak Juli lalu ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mengerahkan kekuatan penuh. Kepala Pusat Data BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkap bahwa meski titik api di Papua Selatan mulai ditekan dari 943 menjadi 171 titik pada 1 November 2026, ratusan hektare lahan masih menyala.
Operasi udara berskala masif pun digelar. Sedikitnya 13.000 kilogram (13 ton) garam atau NaCl telah diguyurkan dari atas awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memaksa hujan turun memadamkan bara api yang terus membakar sisa lahan seluas 253 hektare tersebut.
Baca juga: Gudang di Ponorogo Terbakar Hebat, Api Disebut Berasal dari Pembakaran Sisa Tanaman Jagung
Lebih tragis lagi, karhutla ini telah memicu kiamat ekologi di Taman Nasional Wasur. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, lebih dari 8.707 hektare kawasan konservasi ini hangus terbakar, membuat habitat satwa ikonik nan langka seperti cenderawasih, walabi, kanguru pohon, hingga kasuari hancur lebur.
Di tengah duka ekologis ini, kecurigaan publik justru mengarah pada dugaan sabotase korporasi.
Berdasarkan temuan lembaga lingkungan dan investigasi BBC, jejak titik api secara mencurigakan muncul di atas lahan-lahan yang baru saja digusur oleh perusahaan raksasa dan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Pemerintah kini dituntut bernyali besar membongkar skandal pembukaan lahan ini, bukan sekadar sibuk menyiram air dari udara.tri
Editor : Redaksi