MADIUN (Realita) – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino menjadi perhatian serius Perum Perhutani.
Selain memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, perusahaan pelat merah tersebut juga memprioritaskan pemulihan kawasan hutan pascakebakaran.Untuk mendukung upaya itu, lebih dari 200 juta bibit tanaman telah disiapkan guna merehabilitasi kawasan hutan di Pulau Jawa.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama Perum Perhutani, Tio Handoko, saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Alam dan Penanganan Pascakebakaran Hutan dan Lahan di wilayah kerja Perum Perhutani.
Kegiatan berlangsung di lapangan Desa Gemarang, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jumat (30/10/2026).
Apel tersebut dihadiri Bupati Madiun H. Hari Wuryanto, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Madiun, Forkopimcam Gemarang, serta personel TNI, Polri, dan jajaran Perum Perhutani.
Kedatangan Direktur Utama Perum Perhutani bersama Bupati Madiun disambut atraksi yel-yel Polisi Kehutanan (Polhut). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan apel kesiapsiagaan sebagai bentuk penguatan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana di kawasan hutan.
Dalam arahannya, Tio menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi seluruh unsur dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mengantisipasi berbagai potensi bencana. Menurutnya, kondisi cuaca panas sepanjang 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi jajaran rimbawan, terutama dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi meluas.
“Inti dari kegiatan ini adalah bagaimana sinergi dan kolaborasi Polisi Kehutanan serta Perhutani dalam menjaga hutan tetap lestari. Tugas kita jelas, menjaga hutan dari para perusak,” tegasnya.
Selain upaya pencegahan, Tio menyebut pemulihan kawasan hutan yang terdampak kebakaran menjadi salah satu prioritas Perum Perhutani. Pihaknya telah menyiapkan lebih dari 200 juta bibit tanaman untuk ditanam di berbagai kawasan hutan di Pulau Jawa.
Pelaksanaan penanaman akan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan datangnya musim hujan agar tingkat keberhasilan rehabilitasi lebih optimal. Karena itu, seluruh jajaran Perhutani diminta memastikan kawasan pascakebakaran tetap aman dan terlindungi hingga proses penanaman kembali dilaksanakan.
Tidak hanya melakukan penghijauan, Perhutani juga diminta mengidentifikasi kawasan lindung, membersihkan sisa material kebakaran, serta memastikan aliran air di sungai maupun anak sungai tidak tersumbat. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko longsor dan banjir bandang, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Khusus di Kabupaten Madiun, Tio mendorong penguatan koordinasi antara Perhutani, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah daerah hingga tingkat desa.
Keterlibatan masyarakat sekitar hutan juga dinilai penting, baik dalam menjaga kelestarian lingkungan maupun memanfaatkan sumber daya hutan secara bertanggung jawab.
Di hadapan jajaran Perhutani, Tio juga mengingatkan bahwa pelaksanaan tugas tidak cukup hanya mengandalkan kedisiplinan dan semangat kerja. Kepedulian serta empati terhadap sesama harus menjadi bagian dari tanggung jawab setiap personel.
“Patriotik saja tidak cukup, gigih saja tidak cukup kalau empatinya tidak hadir. Hadirkan empati kepada sesama. Gaji boleh kecil, tetapi welas asih harus besar,” pesannya.
Usai apel, Tio Handoko bersama Bupati Madiun dan Forkopimda meninjau sejumlah peralatan yang digunakan untuk penanganan kebakaran di kawasan hutan. Kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan bibit tanaman campuran serta bantuan sembako kepada warga mitra Perhutani yang turut mengelola lahan hutan.
Melalui kegiatan tersebut, Perhutani berharap kesiapsiagaan seluruh personel dan sinergi dengan berbagai pihak semakin kuat, sehingga ancaman karhutla dapat diantisipasi sekaligus mempercepat pemulihan kawasan hutan yang terdampak bencana. Yw
Editor : Redaksi