Kebohongan Hillary, Obama dan FBI soal Kolusi Rusia di Kemenangan Trump 2016, Terkuak

WASHINGTON (Realita)- Kebohongan dan konspirasi mantan Presiden Amerika Serikat  (AS) Barracl Obama dan capres partai Demokrat 2016 Hillary Clinton terkait keterlibatan Rusia untuk membantu kemenangan Presiden ke-45 Donald Trump dalam pemilu AS akhirnya terungkap.

Hal tersebut disampaikan pakar politik Amerika Serikat (AS) Jerry Massie.

Baca Juga: Disebut Peduli Pendidikan, Direktur P3S: Indonesia Bangga Punya Prabowo

Menurut Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) ini, Penasehat Khusus Jaksa Agung William Barr yakni Jhon Durham yang ditunjuk untuk menyelidiki kasus ini mengungkapkan fakta dan kebenaran terkait tuduhan tak berdasar partai demokrat tersebut.

Akibat dari dugaan kolusi Rusia ini, kata doktor jebolan American Global University (AGU) Trump sempat diimpeach, tapi langkah itu tak berhasil.

"Bukan kali itu saja desakan impeach saat terjadi kerusahan di Gedung Capitol pada 6 January 2020 lalu. Tapi semua gagal. Kini Demokrat lewat Jaksa Distrik Manhattan yang didanai taipan liberal progresif Feorge Soros yaitu Alvin Bragg menggugat Trump dengan 33 kejahatan dan salah satu kasus pelecehan seksual," ujar Jerry.

Baca Juga: Soroti Dirjen Bea Cukai, Jerry Massie: Tak Paham Aturan, Barang Bekaspun 'Dipalak'

Memang tutur dia perang terbuka antara Demokrat terus tersaji tak akan pernah padam.

"Sebagai ajang pembalasan, kini sejumlah Anggota Kongres GOP mendorong dan mendesak  meng-impeach Joe Biden dan Menteri Keamanan dalam Negeri Alejandro Mayorkas atas kejahatan imigrasi dengan meluaskan jutaan imigran ilegal masuk Amerika, " kata dia.

Selain itu, ujar Jerry, salah satu anggota Kongres  yang kala itu menjabat Ketua Komite Kehakiman Adam Schiff ikut terlibat dan bakal dipidana lantaran membuat berita dan laporan palsu soal kolusi Rusia.

Baca Juga: Kritisi Penambahan Jumlah Kementerian, Ganjar Diminta Introspeksi Diri

"Memang Demokrat terus berupaya menjegal Trump yang dijagokan Partai Republik untuk bertarung di Pemilu 2024 mendatang. Bagi saya ini keuntungan besar bagi partai Republik yang pada bulan November akan bertarung di pemilihan gubernur di Florida, Kentucky dan Pennyslavania," tutur dia.

Bukan itu saja, tapi parahnya lagi Direktur FBI James Comey dan sejumlah anak buahnya bahkan puluhan anggota CIA ikut terlibat dalam kasus joax kolusi Rusia ini.jr

Editor : Redaksi

Berita Terbaru