DEPOK (Realita) - Polemik terkait study tour SMAN 6 Depok ke Bali akhirnya dijelaskan oleh pihak SMAN 6 Depok yang diwakili oleh humas sekolah, Syahri Ramadhan.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar liburan, tetapi memiliki tujuan edukatif.
Seperti kunjungan ke kampus-kampus di Jawa Timur dan observasi budaya di Desa Penglipuran, Bali.
"Kalau di SMAN 6 Depok namanya bukan study tour, tapi kunjungan objek belajar ke wilayah Jawa Timur, dan memang ada Bali-nya di hari terakhir," ujar Syahri, Kamis (20/2/2025).
Syahri menjelaskan bahwa dalam program tersebut, siswa mengunjungi beberapa universitas di Surabaya dan Malang.
Seperti, Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Negeri Malang (UM).
"Kunjungan ini merupakan bagian dari kerjasama antara SMAN 6 Depok dan kampus-kampus tersebut, guna memberikan informasi dan kemudahan pendaftaran perguruan tinggi bagi siswa," jelasnya.
Selain itu, tambah Syahri, terdapat juga program homestay di Malang, di mana siswa tinggal di rumah penduduk dan belajar mengenai kehidupan desa.
"Kemudian, menyusun karya tulis ilmiah berdasarkan observasi lingkungan dan budaya setempat," ucapnya.
Syahri menerangkan, Bali menjadi tujuan terakhir dari study tour ini, namun bukan untuk sekadar berwisata.
Melainkan melakukan observasi di Desa Penglipuran, yang dikenal sebagai desa terbersih di dunia.
"Anak-anak ke Bali bukan untuk healing atau sekadar piknik, tapi untuk observasi. Harapannya, nilai-nilai kebersihan Desa Penglipuran bisa diterapkan di lingkungan sekolah," terangnya.
Lebih lanjut, Syahri mengungkapkan terkait biaya study tour sebesar Rp3,8 juta.
Syahri menuturkan, bahwa ada mekanisme subsidi silang untuk membantu siswa yang tidak mampu secara ekonomi.
"Biayanya itu Rp3,8 juta per siswa dari 347 siswa kelas 11 yang ikut.
Siswa tidak mampu ada 39 orang yang mendapat subsidi silang.
Bantuan subsidinya itu mulai dari Rp100 ribu," ungkapnya.
"Ada siswa yang hanya membayar Rp500 ribu, Rp100 ribu, bahkan ada yang gratis atau 0 rupiah. Semuanya dibantu melalui mekanisme subsidi silang," timpalnya lagi.
Syahri memaparkan alasan mengapa SMAN 6 Depok memilih kampus di Jawa Timur, bukan di wilayah Depok atau sekitarnya.
Menurutnya, nilai prestasi siswa SMAN 6 Depok lebih berpeluang bersaing di Jawa Timur dibandingkan di kampus-kampus di Jakarta dan Jawa Barat.
"Kami memang belum punya kerjasama dengan kampus di Depok, seperti Universitas Indonesia. Tetapi kami terus berupaya untuk itu," terangnya.
Selain itu, Syahri menyampaikan permintaan maaf kepada Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, jika pihak sekolah dianggap salah menafsirkan imbauan gubernur terkait larangan study tour ke luar provinsi.
Sebelumnya diketahui, Gubernur Jabar menghimbau agar study tour dilakukan di dalam wilayah Jawa Barat.
Namun, pihak sekolah menilai imbauan tersebut bukanlah sebuah larangan, sehingga tetap melanjutkan program study tour ke Bali.
"Kami mengira kata 'imbauan' itu bukan larangan. Kalau ternyata ini salah, kami mohon maaf. Kami siap mengikuti arahan dan bimbingan Pak Gubernur," tuturnya.
Terkait keputusan Gubernur Jabar yang mencopot atau menonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 6 Depok, Syahri menyebut bahwa prosesnya saat ini masih dalam tahap verifikasi dan klarifikasi.
Kini, kepala sekolah SMAN 6, kata Syahri, tetap beraktifitas di lingkungan sekolah seperti biasanya.
"Pak Gubernur punya kewenangan mencopot jabatan. Kalau nanti ada proses pemeriksaan dan terbukti ada pelanggaran, tentu beliau (kepala sekolah) akan mengikuti prosedur yang berlaku," ujarnya. Hry
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-36616-polemik-study-tour-ke-bali-pihak-sman-6-depok-buka-suara