Kericuhan di Unisba, Polisi Klaim Ada Dua Orang Bukan Mahasiswa Positif Narkoba dan Sita Air Soft-gun 

BANDUNG (Realita)- Senin malam, 1 September 2025, kawasan Tamansari, Bandung, berubah mencekam. Di depan gerbang Universitas Islam Bandung (Unisba), sekelompok orang tak dikenal terlibat dalam kericuhan yang berujung pada aksi represif aparat. Jalan diblokir, suara ledakan molotov terdengar, dan arus lalu lintas lumpuh selama beberapa jam.

Dari 16 orang yang diamankan, dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah GOP (23), lulusan SMA, dan AA (25), warga Bandung. Keduanya bukan mahasiswa Unisba. Polisi menyita barang bukti berupa ganja seberat tujuh gram dan senjata soft-gun yang dimodifikasi dengan peluru gotri. Hasil tes urine menunjukkan keduanya positif narkoba.

“Dari data digital yang kami temukan, ada indikasi mereka sengaja mengatur pertemuan untuk aksi kekerasan,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Jules Abraham Abast, dalam keterangan pers, Selasa (2/9).

Rekaman percakapan dalam ponsel para tersangka mengungkap rencana pembentukan massa, transaksi narkotika, hingga ajakan melakukan tindakan anarkis. Kapolda Jawa Barat, Irjen Akhmad Wiyagus, menyebut kejadian ini bukan semata kericuhan spontan, melainkan aksi terencana yang berupaya menyeret institusi pendidikan ke dalam konflik.

“Ada upaya untuk memancing aparat masuk ke dalam kampus,” ujarnya.

Namun kepolisian memilih bertindak hati-hati. Tak satu pun personel masuk ke area Unisba. Polisi hanya berjaga di luar pagar kampus, memantau dari radius aman.

Pihak kampus gerak cepat menanggapi insiden tersebut. Rektor Unisba, Prof. Dr. Edi Setiadi, memastikan bahwa pelaku bukan bagian dari mahasiswa aktif. “Kami telah verifikasi identitas. Dua pelaku bukan mahasiswa kami. Kami sangat menyesalkan kejadian ini,” katanya dalam konferensi pers, Selasa pagi.

Kampus juga membuka jalur komunikasi dengan aparat dan mengimbau mahasiswa untuk tetap tenang. Aktivitas perkuliahan sempat dialihkan secara daring selama dua hari untuk menjamin keamanan.

Sementara itu, lingkungan sekitar kampus berangsur normal. Posko-posko aksi dibongkar, dan jalanan Tamansari kembali dilalui kendaraan. Namun trauma psikologis masih terasa, terutama di kalangan mahasiswa yang sempat terjebak di dalam kampus saat kericuhan berlangsung.

Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi ikut memberi perhatian. Melalui pernyataan resmi, kementerian menegaskan pentingnya menjaga kampus sebagai ruang aman bagi proses belajar-mengajar. “Penyalahgunaan lingkungan pendidikan untuk kepentingan kekerasan adalah pelanggaran serius,” tulis pernyataan itu.

Dengan penetapan dua tersangka, polisi masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam perencanaan kericuhan. Penyelidikan juga difokuskan pada pola perekrutan massa yang terindikasi dilakukan melalui percakapan daring dan grup tertutup.

Kini, Unisba menghadapi tugas ganda: memulihkan keamanan fisik, dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap kampus sebagai ruang yang terbuka.mag

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

OTT di Depok, KPM Tangkap Hakim

DEPOK (Realita) - KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Depok. Ada hakim yang ditangkap dalam OTT kali ini. "Yang pasti ada penangkapan hakim di …