PENJUALAN bersifat dinamis, untuk memprediksi penjualan secara akurat, bisnis dapat menggunakan sales pipeline. Pipeline bukan semata-mata hanya daftar kontak pelanggan yang harus dihubungi. Melainkan cerminan seberapa efektif tim mengelola peluang penjualan.
Ketika data dalam pipeline menunjukkan keadaan sebenarnya dan dijaga akurasinya, maka bisnis dapat menjaga proses penjualan tetap konsisten. Workflow otomatis menjadi salah satu teknologi yang menawarkan cara untuk menyederhanakan tugas-tugas berulang dalam proses tersebut.
Dengan penerapan workflow yang terstruktur, tim sales dapat membangun hubungan dengan pelanggan dan menutup lebih banyak penjualan, tanpa harus khawatir terhadap potensi kesalahan administratif.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Sales Pipeline
Membangun sales pipeline yang akurat bukan cuman soal menambahkan nama prospek ke dalam daftar. Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap validitas informasi dalam pipeline tersebut.
Human error dalam input data
Kesalahan manusia adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi akurasi data dalam sales pipeline. Banyaknya jumlah pelanggan yang harus ditangani, memperbesar kemungkinan terjadinya kelalaian pengisian data seperti terburu-buru dan data terlewat. Hal ini menyebabkan pipeline tidak sesuai dengan situasi sebenarnya, yang dapat memberikan informasi menyesatkan kepada tim penjualan.
Kurangnya konsistensi dalam proses
Setiap anggota tim penjualan pasti memiliki gaya kerja masing-masing. Akibatnya, pipeline menjadi tidak sinkron dengan kondisi aktual di lapangan. Maka dari itu, diperlukan adanya standar operasional yang jelas, agar konsistensi dalam memperbarui pipeline tetap terjaga.
Minimnya monitoring dan tindak lanjut
Pipeline tidak hanya membutuhkan pengisian data awal, tetapi juga pemantauan yang rutin. Tanpa proses tindak lanjut yang terstruktur, peluang-peluang yang menjanjikan bisa mengendap terlalu lama dalam satu tahap tanpa ada progres lanjutan. Hal ini membuat pipeline terkesan penuh, padahal risiko prospek terabaikan juga semakin besar.
Konsep Workflow Otomatis dalam Sales Pipeline
Mengelola sales pipeline secara efektif tidak hanya membutuhkan ketekunan. Untuk mencapai tingkat akurasi yang tinggi, tim penjualan membutuhkan teknologi yang bisa mendukung strategi mereka.
Workflow otomatis merupakan serangkaian tindakan yang dipicu berdasarkan kondisi atau aktivitas tertentu. Tindakan-tindakan tersebut dirancang agar strategi penjualan dapat berjalan sekalipun tanpa campur tangan manusia.
Misalnya, tim penjualan dapat secara otomatis mengirimkan email setelah meeting dijadwalkan. Atau, status pelanggan dalam sales pipeline akan berubah secara otomatis setelah terjadi interaksi tertentu. Dengan demikian, proses-proses standar yang sebelumnya mengandalkan input manual dapat terjadi secara konsisten dan real-time. Hal tersebut dapat mengurangi risiko kelalaian atau keterlambatan.
Jenis-jenis workflow yang umum digunakan di sales
Beberapa contoh workflow otomatis yang umum dalam pengelolaan pipeline antara lain:
- Follow-up otomatis: sistem otomatis akan mengirim pesan setelah pelanggan melakukan tindakan tertentu, seperti pengajuan demo, melakukan pembelian, atau mengatur pertemuan.
- Pindah tahap otomatis: prospek akan berpindah ke tahap pipeline berikutnya setelah melakukan tindakan tertentu.
- Notifikasi otomatis: sistem akan mengirimkan notifikasi pengingat kepada tim internal setiap ada aktivitas dalam periode tertentu.
- Lead scoring: sistem penilaian otomatis yang akan memberi skor berdasarkan aktivitas pelanggan, untuk melihat seberapa siap prospek melakukan pembelian.
Contoh Implementasi Workflow Otomatis
Lalu, bagaimana penerapan pengelolaan sales pipeline sehari-hari?
Otomatisasi follow-up prospek
Menindaklanjuti prospek tepat waktu perlu dilakukan untuk menjaga ketertarikan mereka. Dengan workflow otomatis, sistem dapat mengirim email tindak lanjut maupun pesan WhatsApp langsung setelah pertemuan dijadwalkan atau presentasi dilakukan. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan prospek merasa diabaikan.
Misalnya, setelah seorang prospek menyelesaikan formulir permintaan demo, sistem otomatis akan mengirim email ucapan terima kasih disertai informasi jadwal lanjutan tanpa tindakan manual dari tim penjualan.
Otomatisasi perpindahan tahap sales pipeline
Normalnya, setiap prospek harus bergerak melalui tahapan tertentu berdasarkan tindakan atau respons mereka. Workflow otomatis memungkinkan perpindahan ini terjadi secara real-time. Hal ini memastikan pipeline sesuai dengan kondisi aktual, sehingga memudahkan proses analisis dan pengambilan keputusan.
Misalnya, seorang prospek membuka penawaran yang dikirim melalui email dan mengklik tautan yang ada di dalamnya. Kemudian, sistem akan memindahkan mereka dari tahap “Prospek Awal” ke “Tertarik” tanpa harus diperbarui secara manual.
Pengingat otomatis untuk update deal
Sering kali, prospek tetap berada di satu tahap pipeline dalam waktu lama tanpa adanya pembaruan. Workflow otomatis dapat membantu dengan mengirimkan pengingat kepada salah satu perwakilan tim penjualan untuk mengupdate status deal tersebut.
Contoh, dalam jangka waktu 7 hari ada seorang prospek terdeteksi tidak ada aktivitas yang tercatat. Secara otomatis, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada tim internal untuk melakukan tindak lanjut atau memperbarui status prospek.
Dengan begitu, pipeline tetap aktif dan dinamis, serta tidak dipenuhi dengan peluang yang kedaluwarsa.
Langkah Praktis Membangun Workflow Otomatis
Menerapkan workflow otomatis dalam sales pipeline memang menawarkan banyak keuntungan, tetapi hasil terbaik hanya bisa dicapai jika prosesnya dibangun dengan strategi yang tepat. Tanpa perencanaan yang matang, workflow justru bisa menjadi tidak efektif, bahkan memperburuk akurasi data.
Menentukan tujuan setiap workflow
Sebelum membangun workflow, penting untuk menetapkan tujuan yang jelas. Apakah workflow tersebut bertujuan mempercepat proses follow-up? Membantu mengelola prospek yang pasif? Atau memastikan bahwa update data dilakukan tepat waktu?
Menetapkan tujuan sejak awal membantu menentukan langkah yang diperlukan dalam workflow serta menghindari otomatisasi yang tidak relevan.
Memilih trigger yang tepat
Trigger atau pemicu adalah titik awal dari setiap workflow otomatis. Pemilihan trigger yang tepat sangat menentukan keberhasilan alur kerja. Misalnya, bisnis dapat mengatur sistem agar workflow aktif ketika prospek membuka tautan pada pesan berisi katalog dengan format interaktif seperti WhatsApp Carousel.
Hal ini bisa membuat bisnis terkesan lebih responsif. Trigger yang dirancang dengan relevansi terhadap perilaku prospek akan membantu workflow berjalan secara efektif dan tidak mengganggu pengalaman pengguna.
Menyesuaikan workflow dengan siklus penjualan
Tidak semua proses penjualan memiliki durasi dan tahapan yang sama. Oleh karena itu, workflow otomatis harus disesuaikan dengan karakteristik siklus penjualan bisnis masing-masing.
Pada siklus penjualan pendek, workflow bisa berfokus pada kecepatan tindak lanjut dan penyelesaian transaksi. Sedangkan untuk siklus penjualan yang lebih panjang, workflow akan lebih banyak berisi edukasi prospek melalui konten, atau pembaruan berkala tentang status peluang pada prospek.
Fleksibilitas dalam menyesuaikan workflow dengan pola perilaku prospek dan panjang siklus penjualan akan meningkatkan efektivitas otomatisasi yang diterapkan.
Kesimpulan
Menjaga akurasi sales pipeline dapat memberi gambaran yang jelas tentang status prospek dan peluang. Hal ini sangat membantu tim penjualan untuk mengambil keputusan yang lebih cerdas dan strategis.
Workflow otomatis hadir sebagai solusi efektif untuk mengatasi tantangan ini. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, penting untuk merencanakan dengan baik workflow yang akan diterapkan.
Dengan penerapan workflow otomatis yang tepat, tim penjualan akan menjadi lebih produktif dan dapat meningkatkan akurasi pipeline. Bisnis pun akan mendapatkan hasil penjualan dan pertumbuhan yang lebih stabil.
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-42288-workflow-otomatis-untuk-meningkatkan-akurasi-sales-pipeline