Sambut Idul Fitri 2026 dengan Membangun Ketahanan Umat Menghadapi Krisis Global

اللّٰهُ أَكْبَرُ (×٩) لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ عِيدَ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجَائِزَةِ وَالثَّوَابِ، يَلْبَسُ فِيهِ الْمُسْلِمُونَ أَجْمَلَ الثِّيَابِ؛ اسْتِعْدَادًا لِزِيَارَةِ الْأَهْلِ وَالْأَحْبَابِ، الْتِمَاسًا لِرِضَا رَبِّ الْأَرْبَابِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكِ التَّوَّابِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى الْمَحْبُوبُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ مَاضٍ وَآتٍ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ! اتَّقُوا اللّٰهَ وَأَطِيعُوهُ وَكَبِّرُوهُ تَكْبِيرًا
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari yang agung. Hari yang penuh takbir. Hari yang penuh syukur. Hari yang penuh keharuan. Sejak tadi malam, gema takbir, tahlil, dan tahmid terdengar saling bersahutan memenuhi ruang angkasa, menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Momentum itu menandai perpisahan kita dengan bulan istimewa, yaitu Ramadan yang penuh kasih sayang (rahmah), penuh ampunan (maghfiroh) Allah SWT, dan penuh penebusan api neraka (‘itqun minan-nar).

Para ulama mengingatkan, bahwa takbir Idul Fitri bukan sekadar gema suara. Ia adalah pengakuan atas kemenangan ruhani.
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Syukur, Alhamdulillah, tahun ini kita masih berkesempatan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah. Dan yang terpenting, semoga amal ibadah yang kita jalankan selama bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT, dan kita dianugerahi kesehatan, kekuatan serta keistiqamahan untuk menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Hari ini adalah hari kemenangan. Hari ketika umat Islam kembali kepada fitrah setelah ditempa oleh madrasah Ramadhan. Sebulan penuh kita dilatih oleh Allah untuk menahan diri, memperkuat kesabaran, menumbuhkan empati, serta memperdalam ketergantungan hanya kepada-Nya.

Namun, sesungguhnya Ramadhan bukan hanya mendidik kita menjadi hamba yang saleh, tetapi juga mempersiapkan kita menjadi umat yang tangguh. Sebab sejarah selalu mengajarkan satu pelajaran bahwa umat yang kuat bukanlah umat yang tidak pernah diuji, tetapi umat yang mampu mempersiapkan diri menghadapi ujian.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Hari ini dunia sedang menghadapi dinamika besar. Konflik antarnegara meningkat, ketegangan geopolitik terjadi di berbagai kawasan, rantai pasok global terganggu, harga energi naik, inflasi meningkat, dan ekonomi global menghadapi ketidakpastian. Kondisi ini tentu dapat berdampak pada banyak negara, termasuk negeri kita.

Dalam teori ekonomi modern, situasi seperti ini sering disebut sebagai polycrisis, yaitu krisis yang terjadi secara bersamaan dalam berbagai sektor: ekonomi, energi, geopolitik, dan sosial.

Namun, Islam sejak awal telah mengajarkan kepada umatnya satu prinsip penting, yaitu bersiap sebelum krisis datang.
Allah SWT berfirman:
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ

Artinya: “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda.

Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini mengandung makna yang sangat luas. Jika direnungkan lebih dalam, hal itu termasuk dalam mempersiapkan kekuatan ekonomi, kekuatan sosial, kekuatan ilmu, dan kekuatan spiritual. Karenanya, pada momen Hari Raya Idul Fitri ini, kiranya kita perlu merenungkan tiga pilar ketahanan umat dalam menghadapi masa depan.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Perihal yang pertama: membangun ketahanan ekonomi umat.

Para ekonom modern sering berbicara tentang economic resilience, yaitu kemampuan suatu masyarakat bertahan ketika terjadi krisis ekonomi.
Pemenang Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz menjelaskan bahwa krisis global biasanya terjadi karena tiga faktor, yaitu ketimpangan distribusi kekayaan, spekulasi pasar yang berlebihan, dan lemahnya perlindungan sosial.

Menariknya, tiga hal ini telah dijawab oleh Islam sejak 14 abad lalu. Mari kita renungkan firman Allah SWT yang berbunyi:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِياءِ مِنْكُمْ
Artinya: “Agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Karena itu, Islam membangun sistem ekonomi berbasis zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Terkait dengan hal ini Imam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa berkata:
إن الله يقيم الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا يقيم الدولة الظالمة وإن كانت مسلمة

Artinya: “Allah menegakkan negara yang adil walaupun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim walaupun Muslim.”

Artinya keadilan ekonomi adalah syarat keberlangsungan masyarakat, dan menjadi pilar penting tegaknya sebuah bangsa.

Dalam teori ekonomi modern, ini disebut inclusive economy, yaitu ekonomi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Sementara dalam Islam konsep ini disebut ta’awun iqtishadi, solidaritas ekonomi.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Dalam konteks ini, penting kita memetik ‘ibrah dari kisah inspiratif di zaman Nabi SAW.

Ketika terjadi krisis pangan di Madinah, seorang sahabat bernama Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memiliki kafilah dagang yang membawa ratusan unta penuh bahan makanan.

Para pedagang datang menawar, “Keuntungannya kami lipatkan dua.” Namun, Utsman menjawab, “Ada yang memberi keuntungan lebih besar.” “Kami naikkan lima kali lipat,” kata para tengkulak tersebut. Lalu Utsman menjawab, “Ada yang memberi sepuluh kali lipat.” Mendengar jawaban ini, para pedagang heran dan kembali bertanya, “Siapa yang memberi sepuluh kali lipat?” Utsman dengan tegas menjawabnya, “Allah”.
Allah SWT berfirman:
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ

Dprd sby lebaran dalam

Artinya: “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al an’am: 160)

Lalu seluruh bahan makanan itu disedekahkan kepada masyarakat Madinah.
Demikian inilah ketahanan ekonomi berbasis iman.

Ekonomi modern menyebutnya philanthropic economy, tetapi Islam sudah mempraktikkannya sejak zaman Nabi.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Perihal yang kedua, ialah memperkuat kohesi sosial (social cohesion).

Para sosiolog modern menyebut kekuatan masyarakat bukan hanya ditentukan oleh kekayaan ekonomi, tetapi juga oleh modal sosial (social capital).

Seorang ilmuwan dari Harvard University, Robert Putnam, menjelaskan, negara yang kuat adalah negara yang memiliki kepercayaan sosial, solidaritas masyarakat, dan jaringan kerja sama. Jika kita melihat di dalam Islam, konsep ini disebut ukhuwah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah SAW bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya: “Mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sosiolog besar Ibn Khaldun menyebut konsep ini sebagai ‘ashabiyyah, yaitu solidaritas sosial yang menjadi kekuatan sebuah peradaban. Beliau berkata:
الملك لا يقوم إلا بالعصبية

Artinya: “Peradaban tidak akan tegak tanpa solidaritas sosial.”
Suatu ketika di Zaman Nabi, ketika kaum Muhajirin dari Mekah hijrah ke Madinah, mereka datang tanpa harta. Kemudian Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar.

Salah satu riwayat yang masyhur adalah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’.
Sa’ad berkata, “Wahai saudaraku, aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Ambillah separuh hartaku.”
Namun Abdurrahman menjawab, “Barakallahu laka fi malika. Tunjukkan saja di mana pasar.”

Dalam waktu singkat, Abdurrahman menjadi pedagang sukses. Ini adalah contoh awal ekonomi kolaboratif yang hari ini menjadi teori modern dalam pembangunan ekonomi.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Perihal yang ketiga, ialah menguatkan spiritualitas dan ketahanan mental.
Dalam psikologi modern ada konsep resilience psychology, yaitu kemampuan manusia untuk bangkit dari krisis.

Para ahli psikologi menemukan bahwa faktor terbesar yang membuat manusia kuat menghadapi krisis adalah makna hidup, harapan, dan spiritualitas. Dan Islam memberikan semuanya. Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya; “Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Imam Ibn Qayyim berkata:
في القلب فاقة لا يسدها إلا ذكر الله
Artinya: “Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan mengingat Allah.”

Suatu ketika, pada malam sebelum Perang Badar, Rasulullah berdoa dengan penuh tangis, “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.” Doa itu dipanjatkan sepanjang malam. Lalu Allah menurunkan pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman: 
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ 

Artinya: “(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9)

Inilah pelajaran penting bagi kita, umat Islam, kekuatan spiritual sering menjadi titik balik sejarah.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, Al-‘Aidin wal ‘Aidat, Rahimakumullah,
Ramadan telah melatih kita lapar agar peduli kepada orang miskin, sabar agar kuat menghadapi ujian, zakat agar ekonomi umat berputar, dan qiyamul lail agar hati dekat kepada Allah.
Seakan-akan Ramadan adalah program pelatihan tahunan bagi ketahanan umat. Jika umat ini kuat ekonominya, kuat solidaritasnya, kuat spiritualitasnya, maka badai krisis apa pun tidak akan mampu meruntuhkannya.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
الدنيا دار ابتلاء، والآخرة دار جزاء

Artinya: “Dunia adalah tempat ujian, sedangkan akhirat tempat balasan.”
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Hari ini kita merayakan kemenangan Idul Fitri. Namun, kemenangan sejati adalah ketika iman kita semakin kuat, solidaritas kita semakin erat, dan kepedulian sosial kita semakin besar. Jika itu terjadi, maka umat ini tidak hanya menjadi umat yang saleh, tetapi juga umat yang kuat dan berdaya.
Semoga Allah menjaga negeri kita dari segala krisis, menguatkan persatuan kita, dan menjadikan kita umat yang mampu menghadapi setiap ujian zaman.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ، (x7 ) لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ  لِلَّهِ حَمْدًا  كَثِيْرًا  كَمَا  أَمَرْ.  أَشْهَدُ  أَنْ  لاَ  إِلَهَ  إِلاَّ  اللهُ  وَحْدَهُ  لاَ  شَرِيْكَ  لَهُ إِرْغَاماً  لِمَنْ  جَحَدَ  بِهِ  وَكَفَرْ.  وَأَشْهَدُ  أَنَّ  سَيِّدَنَا  مُحَمَّداً  عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ  سَيِّدُ  الخَلاَئِقِ  وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ  اللهُ  تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وانصر المجاهدين في فلسطين، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ والصهيونية وَالْمُشْرِكِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
نَسْأَلُكَ اللهُمَّ دَوَامَ الْعِنَايَةِ وَ التَأْيِيْدِ، لِحَضْرَةِ مَوْلاَنَا سُلْطَانِ الْمُسْلِمِيْنَ، الْمُؤَيَّدِ بِالنَّصْرِ وَ التَّمْكِيْنِ.
اللهُمَّ انْصُرْهُ وَ انْصُرْ عَسَاكِرَهُ، وَ امْحَقْ بِسَيْفِهِ رِقَابَ الطَّائِفَةِ الْكَافِرَةِ، وَ أَيِّدْ بِشَدِيْدِ رَأْيِهِ عِصَابَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ اجْعَلْ بِفَضْلِكَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنَّا، وَ ارْفَعِ اللهُمَّ مَقْتَكَ و غَضَبَكَ عَنَّا، وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَ لاَ يَرْحَمْنَا يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 
اللهُمَّ إِيَّاكَ نَسْأَلُ فَلاَ تُخَيِّبْنَا، وَ إِلَيْكَ نَلْجَأُ فَلاَ تَطْرُدْنَا، وَ عَلَيْكَ نَتَوَكَّلُ فَاجْعَلْنَا لَدَيْكَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ.
إِلَهِي هَذَا حَالُنَا لاَ يَخْفَى عَلَيْكَ، فَعَامِلْنَا بِالْإِحْسَانِ إِذِ الْفَضْلُ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ، وَ اخْتِمْ لَنَا بِخَاتِمَةِ السَّعَادَةِ أَجْمَعِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الإِحْسَانِ، وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Naskah khutbah di atas ditulis KH. Sholahudin Al Aiyub, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi Syariah dan dipublikasikan di laman resmi MUI Digital.

 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Puasa Sembuhkan Asam Lambung

PUASA dapat membantu menyembuhkan atau meredakan asam lambung (GERD/maag) dengan cara memberi jeda istirahat bagi lambung, mengontrol produksi asam, mengurangi …