KEDIRI (Realita) - Upaya pengendalian penyakit tidak menular terus diperkuat Pemerintah Kota Kediri melalui peningkatan kapasitas kader kesehatan.
Sebanyak 200 kader mengikuti Workshop Penguatan Kader Kesehatan dalam Deteksi Dini Diabetes Mellitus yang digelar Dinas Kesehatan Kota Kediri, Selasa (28/4).
Kegiatan ini bertujuan membekali kader agar mampu berperan aktif dalam pencegahan, deteksi dini, hingga pengelolaan diabetes mellitus di masyarakat. Kader dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan warga.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Hamida, Sp.P, menegaskan bahwa keberadaan kader sangat penting dalam mendukung pelaksanaan skrining di tingkat masyarakat. “Melalui kader, deteksi dini, edukasi pencegahan, serta pengelolaan diabetes dapat berjalan lebih efektif. Ini juga menjadi bagian dari kolaborasi antara kader, Dinas Kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan kapasitas kader akan terus dilakukan melalui berbagai pelatihan, tidak hanya terkait diabetes mellitus, tetapi juga penyakit lainnya. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kader yang kompeten di berbagai bidang kesehatan.
Dalam mekanisme yang diterapkan, hasil deteksi dini oleh kader akan dilaporkan ke puskesmas setempat dan diinput melalui Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK). Sistem ini menjadi bagian penting dalam pemantauan dan pengendalian diabetes secara terintegrasi.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menerapkan pola hidup sehat melalui konsep CERDIK, yakni cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.
Dalam workshop tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Kediri, dr Agus Sulistiawan, MMRS, menekankan pentingnya mengenali gejala awal diabetes yang dikenal dengan istilah 3P, yaitu poliuri (sering buang air kecil), polidipsi (sering haus), dan polifagi (sering lapar), yang harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan gula darah.
Sementara itu, narasumber dari Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Moh Rizqi Lazuardi Ramadhan, mengingatkan agar penggunaan obat herbal dilakukan secara bijak. Ia menegaskan bahwa terapi herbal bersifat komplementer dan tidak menggantikan pengobatan medis.
Melalui kegiatan ini, para kader diharapkan mampu memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif dalam menekan angka kasus diabetes mellitus di Kota Kediri.nia
Editor : Redaksi