SIDOARJO (Realita)— Rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba tidak cukup hanya dengan menghentikan ketergantungan. Setelah menjalani terapi, klien juga membutuhkan dukungan agar mampu kembali menjalani kehidupan sosial, melanjutkan pendidikan, hingga memiliki keterampilan untuk bekerja.
Hal tersebut menjadi perhatian Yayasan Rehabilitasi Korban Narkoba Jawa Timur (YR KOBRA JATIM) yang sejak berdiri pada 23 Januari 2019 tidak hanya memberikan layanan rehabilitasi, tetapi juga mendorong pemulihan klien agar dapat kembali produktif di tengah masyarakat.
Direktur YR KOBRA JATIM Tjatur Agus Prabowo mengatakan, lembaganya berupaya memberikan layanan secara profesional kepada seluruh klien, baik yang datang berdasarkan rekomendasi Tim Asesmen Terpadu (TAT) BNN maupun secara mandiri.
“Layanan rehabilitasi yang kami berikan sudah sesuai dengan standar layanan dan SOP lembaga. Hal ini merupakan garis tegas kami sebagai petugas rehabilitasi di YR KOBRA JATIM dalam memberikan layanan,” ujar Tjatur, Selasa (22/9/2026).
YR KOBRA JATIM yang berlokasi di Kahuripan Nirwana Village Blok C.9, Desa Sumput, Kecamatan Sidoarjo, tersebut menyediakan tiga layanan rehabilitasi, yakni rawat jalan, rawat inap, dan homecare.
Sebagai salah satu Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (LRKM) di Sidoarjo, YR KOBRA JATIM menjadi mitra dengan BNN. Sementara instansi Dinas sosial yang mengeluarkan ijin operasi untuk YR Kobra Jatim. Lembaga tersebut juga tengah melakukan peningkatan kualitas layanan agar semakin terstandar melalui proses menuju SNI 2026.
Tjatur menegaskan, setiap klien mendapatkan pelayanan tanpa dibedakan berdasarkan latar belakang maupun cara mereka datang ke lembaga.
“Bagi kami siapapun dan dari manapun klien yang datang ke lembaga, baik yang melalui rekomendasi BNN ataupun volunteer, akan kami layani dengan sangat baik dan profesional dalam mendukung pemulihannya,” katanya.
Menurut Tjatur, proses pemulihan juga membutuhkan keterlibatan keluarga. Dukungan tersebut dinilai penting agar klien tidak hanya mampu menyelesaikan program rehabilitasi, tetapi juga dapat mempertahankan pemulihan ketika kembali ke lingkungan sosial.
“Tentu saja dibutuhkan dukungan dan keterlibatan dari pihak keluarga untuk mendukung pemulihan jangka panjangnya, sehingga mereka bisa kembali ke masyarakat dengan kondisi lebih sehat, pulih dan produktif serta bisa diterima baik oleh masyarakat,” imbuhnya.
Upaya mempersiapkan klien kembali produktif juga dilakukan melalui sejumlah kerja sama. YR KOBRA JATIM tengah membangun kerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas klien sekaligus mempersiapkan daya saing mereka di dunia kerja.
Lembaga tersebut juga mengajukan kerja sama dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Tujuannya memberikan akses pendidikan kesetaraan bagi klien yang belum memiliki ijazah, melalui program Kejar Paket A, B maupun C sesuai kebutuhan.
Retno Dwi Hapsari SE.,MM selaku Manager Program sekaligus Konselor Adiksi YR KOBRA JATIM mengatakan, layanan yang diberikan lembaganya mengedepankan transparansi, termasuk dalam pembiayaan rehabilitasi.
“Kami adalah lembaga sosial mandiri yang membiayai kegiatan dan layanan rehabilitasi dari biaya yang muncul sesuai layanan yang diberikan. Kami sangat transparan soal biaya, bahkan bisa dilihat semua orang sehingga tidak ada permainan dalam biaya rehabilitasi di YR KOBRA JATIM,” tegas Retno.
Retno menambahkan, setiap klien mendapatkan perlakuan dan layanan berdasarkan kebutuhan terapi masing-masing. Penentuan kebutuhan tersebut mengacu pada hasil asesmen.
“Tidak ada pembeda bentuk perlakuan pada sikap dan layanan kami, kecuali semata-mata karena kebutuhan terapi masing-masing klien sesuai dengan hasil asesmen,” ujarnya.
Selain rehabilitasi, YR KOBRA JATIM aktif menjalankan program pencegahan melalui seminar dan penyuluhan bahaya narkoba di masyarakat maupun sekolah tingkat SLTP dan SLTA.
Retno Dwi Hapsari SE ,MM selalku Manager Program sekaligus Konselor Adiksi menyampaikan bahwa Lembaga kami juga mendukung pembekalan Agen Pemulihan di desa melalui program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) di Kabupaten Sidoarjo. Edukasi mengenai bahaya narkoba turut dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
Dalam penanganan persoalan narkoba kami membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, lembaga tersebut mengusung slogan, “Jika bukan kita, siapa lagi. Jika tidak sekarang, kapan lagi.”
Slogan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan untuk ikut mengambil peran dalam pencegahan maupun pemulihan korban penyalahgunaan narkoba.
“Kita tidak pernah tahu kapan kita atau keluarga kita menjadi salah satu korban narkoba. Karena itu, penanganannya membutuhkan kepedulian dan keterlibatan bersama,” pungkas Retno.yudhi
Editor : Redaksi