FK UWKS Gelar Zoominar, Kasus Stunting di Surabaya Miris

 

SURABAYA (Realita) - Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) siap menggelar Zoominar "Percepatan Penanganan dan Pencegahan Stunting Balita". Zoominar dengan  narasumber Dr Harsono SpKJ dan Dr dr Harry K Gondo SpOG (K) ini diharap akan menjawab kondisi menyedihkan di kota terbesar kedua yang memiliki potensi masalah stunting.

Dekan FK UWKS, Prof Dr dr Suhartati MS, mengatakan, berangkat dari komitmen dalam mendukung program pencegahan dan penanganan stunting di Tanah Air, Tim FK UWKS menemukan potensi stunting di Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya

Temuan itu diikuti dengan penyuluhan, edukasi dan pelatihan untuk mendeteksi dini kasus stunting di kelurahan tersebut. Intinya, berbulan-bulan dengan situasi Pandemi yang tidak mengijinkan untuk bertatap muka apalagi berkerumun mereka berusaha keras untuk mencegah dan menangani masalah stunting di wilayah tersebut.

Suhartati mengatakan, FK UWKS menerjunkan lebih dari 40 orang dari berbagai latar belakang keahlian untuk menangani persoalan ini. Pihaknya juga melibatkan para mahasiswa untuk ikut masuk dalam program penanganan dan pencegahan stunting tersebut.

Menurut  Dr dr Ayling Sanjaya M Kes SpA, salah seorang anggota Tim FK UWKS, di wilayah kelurahan tersebut terdapat 700 balita yang tidak semuanya tumbuh normal. Ada beberapa yang bertubuh pendek dan ada yang sangat pendek.

"Pemicunya karena faktor pola asuh ibunya yang berlatar belakang pekerja dan berstatus pekerja musiman," ujar dosen bagian ilmu kesehatan anak di FK UWKS ini.

Berbagai upaya sudah dilakukan UWKS untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan para kader. Diantaranya dengan menggelar webinar yang menghadirkan pembicara dari kalangan kampus mereka. 

Menurut Ayling, respons para kader di kelurahan itu sangat membantu, misalnya ikut melakukan pengukuran tinggi badan anak-anak balita yang dilakukan secara teratur.

"Kami menjadi lebih bersemangat untuk memberi pelatihan dini pertumbuhan anak, karena mereka juga sangat antusias ketika diberi tugas untuk melakukan pengukuran tinggi badan," ungkapnya.

Disebutkan pula, dukungan camat, lurah dan semua ibu posyandu, ibu hamil, balita stunting dan remaja putri di kelurahan ini juga sangat menggembirakan. Namun ya itu, penanganan masalah ini butuh waktu tapi harus dilakukan mulai sekarang.

Dikemukakan, ada beberapa penyebab yang bisa menghambat kasus tumbuh kembang anak. Di wilayah Indonesia Timur, katanya, dipicu oleh cacing dan malaria. Sementara di wilayah perkotaan, yang banyak terjadi justru karena ketidakpahaman ibu tentang pentingnya air susu ibu (ASI) untuk para bayinya.

Menurutnya, mustinya bayi sejak lahir hingga umur 6 bulan hanya diberi ASI. Namun, tidak sedikit ibu yang memberi bayinya dengan susu formula dan makanan seperti nasi dan pisang karena ketidaktahuan mereka.

Suhartati dan Ayling berharap Zoominar yang digelar Minggu (24/10/2021) mulai pukul 10.00 akan menambah percepatan penanganan dan pencegahan stunting balita. Dalam zoominar itu Dr Harsono SpKJ akan memaparkan materi tentang "Hubungan Antara Stunting dengan Fungsi Psikoligis Anak Remaja", dan Dr dr Harry K Gondo SpOG (K) akan menyampaikan makalah berjudul "Nutrisi Pada Kehamilan".gan

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Natalia Loewe Tetap Setia Alisson Becker

LIVERPOOL (Realita)- Kiper Liverpool, Alisson Becker, memiliki seorang istri rupawan bernama Natalia Loewe. Kecantikan luar dalam membuat Alisson tak ragu …

Pupuk Subsidi di Jombang, Ruwet

JOMBANG - Sektor pertanian Kabupaten Jombang kembali dihantam persoalan klasik yang seolah menjadi siklus tahunan tanpa solusi permanen.  Distribusi pupuk …