PONOROGO (Realita)- Satu lagi Tradisi unik masyarakat Ponorogo dalam memeriahkan bulan suci ramadhan, yakni dengan menggelar tadarus budaya.
Tadarus budaya sendiri merupakan pagelaran Reog Ponorogo yang dimulai selepas tarawih hingga adzab subuh berkumandang. Tak tanggung-tanggung, 54 Reog Ponorogo berbagai corak yang datang dari Ponorogo dan berbagai daerah andil bagian dalam kegiatan yang digelar di depan Paseban Aloon-Aloon Kota Ponorogo ini, Sabtu (15/03/2025).
Baca juga: Creative Cities Connect 2025, Men-Ekraf Siap Kolaborasi Dengan Ponorogo Kuatkan Potensi Daerah
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan, tadarus budaya merupakan apresiasi terhadap kesenian Reog Ponorogo Yang dilakukan saar malam ramadhan. Ratusan pelaku seni budaya Reog Ponorogo melakukan unjuk budaya bersama diiringi gamelaj musik Reog, berpadu dengan suara sayup-sayup bacaan Al-Qur’an, diklaim menjadi kolaborasi indah dari menjaga eksistensi kesenian ini.
Baca juga: Fadli Zon Kagum dengan Monumen Reog Ponorogo Lebih Tinggi dari GWK di Bali
“ Tadarus budaya untuk mempertegas jika Ponorogo adalah Kota Santri dan Budaya. Melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam membangun, mulai dari pendidikan non formal seperti pesantren dan seniman yang terus memperjuangkan tradisi kebudayaan leluhur. Semuanya kita padukan untuk membangun, agar pembangunan ada partisipatif dari masyarakat,” ujarnya.
Sugiri mengaku, tadarus budaya adalah aksi pratisipatif dari pelaku seni dan budaya Reog dalam rangka menjaga keberlanjutan Reog Ponorogo.
Baca juga: Pasca Resmi Jadi UCCN, Bupati Ponorogo Minta OPD Reorientasi Mindset Jadi Kreatif dan Kolaboratif
“ Tadarus budaya sama sekali tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Bahkan seniman reog dari luar daerah yang rela hadir menggunakan uang pribadi dan tidak dibayar oleh Pemerintah Ponorogo. Kami ucapkan terima kasih,” pungkasnya. znl
Editor : Redaksi