Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB Dorong Mahasiswa Tembus Riset Global Lewat Program 3 in 1 Marine Biotechnology

realita.co
FPIK UB terus memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui penyelenggaraan 3 in 1 Integrated Marine Biotechnology Learning and Research Program.

MALANG – Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), terus memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui penyelenggaraan 3 in 1 Integrated Marine Biotechnology Learning and Research Program. Program yang berlangsung selama April hingga Juni 2026 ini menghadirkan akademisi dan peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan untuk membuka peluang kolaborasi riset, magang internasional, hibah penelitian, serta pengembangan jejaring akademik global bagi dosen dan mahasiswa.

Program 3 in 1 merupakan kolaborasi antara Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Korea-Indonesia Integrated Ocean Fisheries Technology Training Center (KIOTEC). Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran internasional yang mengintegrasikan perkuliahan, penelitian, serta penguatan jejaring akademik di bidang bioteknologi kelautan.

Baca juga: FPIK UB Go Internasional! Gandeng Universiti Malaysia Sabah untuk Riset dan Pertukaran Mahasiswa

Rangkaian kegiatan diawali dengan Welcome Ceremony pada 30 April 2026, dilanjutkan Practical Session pada 6–8 Mei, Teaching Session pada 11 dan 13 Mei, Sharing Session 1 pada 23 Mei, hingga ditutup dengan Sharing Session 2 pada 29 Juni 2026 yang diselenggarakan secara hybrid di Auditorium Gedung B FPIK UB dan melalui Zoom Meeting.

Mengusung tema "National and International Research Collaboration, Internship, and Grant Opportunities", sesi penutup menghadirkan lima narasumber yang mewakili institusi riset dan perguruan tinggi internasional, yaitu Assoc. Prof. Dr. Norhayati Abdullah dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D. dari Universitas Brawijaya, Dr. Khairul Anam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Eri Sahabudin dari BRIN, serta Isty Angrelina, S.Kel., M.Si. dari Korea-Indonesia Integrated Ocean Fisheries Technology Training Center (KIOTEC).

Dalam sesi pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa pengembangan ilmu kelautan tidak lagi dapat dilakukan secara parsial. Kemajuan riset sangat bergantung pada kolaborasi lintas institusi, lintas negara, serta integrasi berbagai disiplin ilmu, khususnya pada bidang bioteknologi laut yang memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan, energi terbarukan, dan konservasi lingkungan.

Assoc. Prof. Dr. Norhayati Abdullah memperkenalkan berbagai peluang kerja sama internasional bersama UTM, mulai dari joint research, research internship, student exchange, academic visit, hingga summer school. Sementara itu, perwakilan BRIN memaparkan berbagai skema kolaborasi penelitian nasional serta peluang pendanaan riset yang dapat diakses oleh dosen maupun mahasiswa.

Baca juga: Mahasiswa FPIK UB Tunjukkan Prestasi Gemilang, Ciptakan Inovasi Ubah Limbah Ikan Jadi Energi dan Raih Juara Nasional RIS

Dari KIOTEC, peserta memperoleh wawasan mengenai peluang pengembangan kompetensi melalui program pelatihan internasional di bidang teknologi kelautan dan perikanan, yang membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar pada lingkungan riset global.

Prof. Bambang Semedi turut membagikan pengalaman membangun jejaring penelitian internasional di bidang ilmu kelautan. Menurutnya, kolaborasi merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas penelitian, memperluas publikasi pada jurnal bereputasi, sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, dosen dan mahasiswa memperoleh informasi mengenai berbagai skema hibah penelitian, peluang pendanaan internasional, strategi membangun konsorsium riset, hingga kesempatan mengikuti program mobilitas akademik. Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sivitas akademika FPIK UB dalam berkompetisi di tingkat global.

Baca juga: Tak Lagi Sekadar Teri Kering, Inovasi Dosen FPIK UB Ubah Teri Nasi Jadi Produk Bernilai Tinggi

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB berharap Program 3 in 1 ini menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak kolaborasi internasional yang melibatkan mahasiswa maupun dosen. Selain meningkatkan kualitas penelitian, program ini juga diharapkan mampu memperluas pengalaman akademik, memperkuat kompetensi global lulusan, serta meningkatkan reputasi internasional FPIK UB sebagai institusi pendidikan kelautan yang aktif membangun jejaring riset dunia.

Program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran internasional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan riset dan inovasi, SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui penguatan riset kelautan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset nasional, dan mitra internasional.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru