Scan Sekali, Kenali Isinya: Mahasiswa FPIK UB Bawa Edu-Wisata Digital ke Sumber Wendit Lanang

realita.co
Kelompok 13 Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat BAHARI (KKN PkM-BAHARI) 2026 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB).

MALANG – Berwisata ke sumber air kini tak hanya tentang menikmati kejernihan air dan suasana alam. Di Sumber Wendit Lanang, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pengunjung kini dapat mengenal ikan dan fauna akuatik yang hidup di kawasan tersebut cukup dengan memindai QR Code melalui ponsel.

Inovasi tersebut dihadirkan oleh Kelompok 13 Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat BAHARI (KKN PkM-BAHARI) 2026 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) melalui program pengembangan edu-wisata akuatik di Sumber Wendit Lanang.

Baca juga: Ubah Sampah Jadi Bernilai, Mahasiswa PKM Bahari FPIK UB Kembangkan Budidaya Maggot di Desa Pagak 

Program ini memadukan dua pendekatan utama, yakni penguatan digital branding destinasi dan pengembangan media edukasi interaktif berbasis Quick Response (QR) Code. Melalui pendekatan tersebut, potensi sumber daya akuatik yang selama ini menjadi bagian dari daya tarik Sumber Wendit Lanang tidak hanya diperkenalkan sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai sarana edukasi mengenai keanekaragaman hayati dan konservasi perairan tawar.

Sebagai implementasinya, mahasiswa merancang dan memasang papan informasi interaktif yang dilengkapi peta kawasan serta visualisasi sebaran fauna akuatik.

Pengunjung dapat memindai QR Code pada papan tersebut untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai organisme yang ditemukan di kawasan Sumber Wendit Lanang sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestarian ekosistem perairan.

Informasi keanekaragaman fauna disusun berdasarkan hasil pengamatan visual mahasiswa dan wawancara bersama pengelola Sumber Wendit Lanang. Berdasarkan informasi tersebut, kawasan ini menjadi habitat bagi beragam fauna akuatik, baik jenis lokal maupun ikan asing yang telah ditemukan di perairan setempat.

Pihak pengelola menyebut beberapa jenis yang dijumpai antara lain cucut, wader pari, udang air tawar, lele lokal, gabus, keting, hingga ikan dewa. Sementara itu, terdapat pula ikan asing seperti koi, komet, ikan mas, dan lele dumbo serta jenis yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan ekosistem karena berpotensi bersifat invasif, seperti ikan sapu-sapu dan nila.

Keberadaan berbagai jenis ikan tersebut menjadi potensi edukasi sekaligus membuka ruang untuk meningkatkan kesadaran pengunjung bahwa introduksi spesies asing ke suatu perairan perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Kehadiran spesies asing invasif dapat memengaruhi komunitas organisme lokal melalui kompetisi ruang, makanan, maupun perubahan keseimbangan ekosistem.

Dengan kemasan informasi digital, mahasiswa berupaya menerjemahkan pengetahuan mengenai sumber daya perairan menjadi materi yang lebih mudah diakses masyarakat. Pengunjung tidak harus membaca papan informasi yang dipenuhi teks, tetapi dapat memindai kode menggunakan telepon pintar dan mempelajari karakteristik fauna akuatik secara lebih interaktif.

Program tidak dikerjakan hanya pada tahap pemasangan papan. Rangkaian kegiatan dimulai melalui koordinasi dengan Pemerintah Desa Mangliawan dan pengelola Sumber Wendit Lanang untuk menentukan kebutuhan serta lokasi pemasangan media edukasi.

Pada 21 Juli 2026, mahasiswa melakukan survei lapangan dan dokumentasi potensi keanekaragaman hayati.

Dalam kesempatan yang sama, tim turut melakukan aksi bersih lingkungan dengan mengumpulkan sampah plastik dan organik yang ditemukan di area daratan hingga perairan Sumber Wendit Lanang.

Baca juga: PERIKANAN YANG SOLUTIF INOVASI PERIKANAN DENGAN MENGENAL BUDIKDAMBER DAN MANFAATNYA BAGI MASYARAKAT TERUTAMA IBU PKK

Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk menyusun materi edukasi digital, pemetaan kawasan, serta sistem QR Code. Tahapan tersebut dilanjutkan dengan pendampingan hingga pemasangan papan informasi interaktif pada 31 Juli 2026 sebagai salah satu luaran program pengabdian masyarakat.

Tidak hanya memperkuat aspek edukasi, mahasiswa Kelompok 13 juga memberikan pendampingan terkait digital branding dan pembuatan konten promosi kepada pengelola.

Penguatan kemampuan digital tersebut diharapkan membantu Sumber Wendit Lanang memperkenalkan potensi wisata secara lebih luas tanpa meninggalkan identitasnya sebagai kawasan sumber air yang memiliki nilai ekologis.

Pendekatan ini membuat konsep edu-wisata yang dikembangkan tidak berhenti pada upaya meningkatkan jumlah kunjungan. Wisatawan juga diajak mengenal ekosistem yang mereka kunjungi, memahami organisme yang hidup di dalamnya, serta menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air.

Bagi mahasiswa FPIK UB, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menerapkan keilmuan perikanan dan kelautan secara langsung di tengah masyarakat.

Pengetahuan mengenai biodiversitas perairan, pengelolaan sumber daya, konservasi, hingga komunikasi lingkungan diterjemahkan menjadi inovasi sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh pengelola dan pengunjung.

Baca juga: Mahasiswa FPIK UB Kembangkan Digitalisasi dan Fasilitas Kebersihan Wisata Alam Sumber Gentong 

Melalui pengembangan edu-wisata berbasis QR Code dan penguatan digital branding, Sumber Wendit Lanang diharapkan semakin dikenal tidak hanya sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang ekosistem perairan tawar.

Pengembangan tersebut berpotensi meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Mangliawan dengan tetap menempatkan kelestarian sumber daya akuatik sebagai bagian penting dalam pengelolaannya.

mahasiswa melakukan survei lapangan dan dokumentasi potensi keanekaragaman hayati.

Inovasi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan media edukasi lingkungan yang mudah diakses masyarakat, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui peningkatan kepedulian terhadap kelestarian sumber air, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan potensi ekonomi wisata lokal dan keterampilan digital pengelola, serta SDG 15 (Life on Land) melalui edukasi dan upaya menjaga biodiversitas ekosistem perairan darat.

Kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan pengelola wisata juga memperkuat implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat yang edukatif dan berkelanjutan.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru