Akademisi Lintas PT Diseminasikan Konsep Green Halal Energy di Masjid Kampus ITB Jatinangor

realita.co
Aliansi perguruan tinggi yang terdiri dari ITB – Unpad – UB mengajak segenap jamaah Masjid Al-Jabbar Kampus ITB Jatinangor untuk membangun kebiasaan baru.

SUMEDANG – Aliansi perguruan tinggi yang terdiri dari ITB – Unpad – UB mengajak segenap jamaah Masjid Al-Jabbar Kampus ITB Jatinangor untuk membangun kebiasaan baru berupa transisi sampah menjadi energi terbarukan.

Sampah yang dimaksud adalah sampah organik berupa daun-daun kering berserakan di sekitar lingkungan masjid kampus.

Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan dan Manajemen Kualitas Air Budidaya

Barang yang rutin dibuang setiap hari tersebut menyimpan potensi energi alternatif. 

Selama ini daun kering hanya dipandang sebagai sampah, dimana belum banyak yang menyadari bahwa di tengah krisis energi, barang yang rutin dibuang setiap hari tersebut menyimpan potensi energi alternatif. 

Produk olahan sampah yang tengah dikembangkan oleh tim yang diketuai oleh Dr Cecep Alba dari ITB adalah berupa briket arang.

Meskipun tampak sederhana, letak inovasi ini adalah dengan mengintegrasikan teknologi sederhana dengan pola kebiasaan masyarakat religi di masjid kampus yang cenderung lebih bersifat akademis dalam menyampaikan kajian-kajian spiritual dengan menghadirkan Dr Andi Kasman yang mewakili Unpad dan Esa F Hidayat, MSi perwakilan dari UB.

Briket yang telah dicetak selanjutnya dikeringkan hingga kadar airnya berkurang dan briket menjadi lebih kuat.

Tahapan teknologi yang coba disampaikan adalah dengan mengumpulkan sampah daun kering supaya tidak berserakan dan mengganggu pemandangan area ibadah.

Selanjutnya, daun kering yang telah dikumpulkan dipilah dan dikeringkan untuk mengurangi kadar air sebelum diolah menjadi bahan baku briket.

Baca juga: Kolaborasi Pembuatan Tungku Pembakaran Sampah oleh Mahasiswa PKM-B FPIK UB Kelompok 23 bersama BUMDes Jatiguwi

Daun yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dipanaskan hingga mengalami proses pengarangan.

Arang yang dihasilkan kemudian ditumbuk hingga menjadi lebih halus, lalu diayak untuk memperoleh ukuran serbuk arang yang lebih seragam.

Serbuk arang tersebut kemudian dicampurkan dengan bahan perekat alami dan sedikit air hingga membentuk adonan yang dapat dicetak. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dipadatkan hingga membentuk briket dengan ukuran yang seragam.

Briket yang telah dicetak selanjutnya dikeringkan hingga kadar airnya berkurang dan briket menjadi lebih kuat serta siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Diseminasi yang dilaksanakan di akhir Juli tersebut adalah sebagai pondasi pilot proyek dari umbrella model bernama ekoteologi, dimana menyelaraskan kelestarian lingkungan melalui pendekatan-pendekatan religi menjadi tujuan utamanya.

Baca juga: KELOMPOK 23 PKM-B FPIK UB 2026 WORKSHOP DIGITALISASI UMKM DESA JATIGUWI 

Sehingga, di masa mendatang pelatihan serupa tidak hanya berada di koridor ruang masjid saja namun di tempat ibadah keyakinan lainnya di Indonesia seperti gereja, pura, kapel, maupun klenteng yang umumnya memiliki ruang taman dan menghasilkan produk daun kering.

Suasana akademis dan toleransi makin terasa dengan kehadiran mahasiswa Teknik Lingkungan ITB sebagai asisten peraga dalam pelatihan pembuatan briket. Antusiasme disampaikan oleh salah peserta bernama Wildan.

“Kalau dilihat sekilas nampak gampang-gampang susah ya, tapi ini penting banget. Jadi kita tidak cuman dengar ceramah di masjid tapi praktek langsung nilai-nilai agama dalam bentuk teknologi biarpun sederhana”.

Target lebih luas adalah produk briket bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tapi justru pelaku UMKM yang memanfaatkan arang seperti penjual sate, cuangki, angkringan, dan lainnya.

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru