Kisah Pesarean Aermata yang Kini Resmi Jadi Situs Cagar Budaya Bangkalan

Advertorial

BANGKALAN (Realita)-Pasarean Aermata atau Makam Ratu Ibu di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, selalu ramai dikunjungi oleh para ahli tirakat dan pecinta sejarah.

Situs ini menyimpan potensi sejarah dari kehidupan para raja Madura Barat mulai abad ke-16 hingga abad ke-19. Setelah bertahun-tahun menyandang sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB), akhirnya kompleks Pasarean Aermata resmi ditetapkan menjadi situs cagar budaya Bangkalan.

Penetapan itu tertuang pada surat keputusan bupati nomor 100.3.3.2/55/Kpts/433.013/2025. Hal itu tak lepas dari harapan masyarakat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menginginkan agar Pesarean Aermata masuk sebagai warisan Cagar Budaya. Kemudian, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Bangkalan melakukan kajian dan Situs tersebut layak masuk sebagai cagar budaya.

"Setelah dilakukan kajian dan sidang rekomendasi pada Januari 2025, TACB Bangkalan merekomendasikan kepada Pj Bupati Bangkalan agar situs Aermata bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Pj Bupati menyambut baik penetapan dan pemeringkatan Kompleks Makam Aermata sebagai Situs Cagar Budaya," kata Slamet Riyadi, Ketua TACB Bangkalan. Kamis (20/2/2025).

Kompleks pesarean Aermata ini berdiri kokoh di puncak bukit kecil dengan ketinggian 25-30 meter di atas permukaan laut.

Keunikan Pasarean Aer Mata terlihat saat pengunjung memasuki gerbang di kaki bukit, dengan tangga panjang yang berkelok-kelok menuju puncak Bukit Buduran. Tangga dan pagar pembatasnya tersusun rapi dari batu andesit putih.

Juru kunci makam menyatakan bahwa setiap hari ada pengunjung yang datang berziarah, terutama pada hari libur. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Pulau Madura, Jawa, dan wilayah Indonesia Timur seperti Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Di lokasi ini dulu ada cungkup tempat penyimpanan senjata dan perabotan peninggalan kerajaan, namun kini sudah dipindahkan ke kabupaten. Pusat pesarean ini adalah cungkup utama tempat bersemayam jasad para raja, termasuk Kanjeng Ratu Syarifah Ambami, permaisuri Panembahan Cakraningrat I, serta Panembahan Cakraningrat II, V, VI, dan VII.

Dinding cungkup berhiaskan seni ukir yang rumit dan indah dari batu pualam putih. Ukiran ini melambangkan kerukunan antar-umat dari tiga agama besar yaitu Islam, Buddha, dan Hindu. Ukiran tersebut termasuk bunga teratai, miniatur Ganesha, serta kaligrafi yang saling menyambung.

Sementara itu, Pj Bupati Bangkalan Arief M Edie menyampaikan, dengan ditetapkannya Pasarean Aermata sebagai situs cagar budaya menjadi kebanggaan masyarakat Bangkalan. Sebab, peninggalan kebudayaan di Kabupaten Bangkalan sangat banyak. Itu bisa ditemukan dari bangunan dan peninggalan dari kerajaan-kerajaan dahulu.

Menurutnya, Bangkalan mempunyai sejarah panjang yang berkaitan dengan daerah lain seperti Sumedang Larang dan kerajaan lainnya. Hubungan itu menciptakan peradaban yang besar yang bisa diwariskan kepada generasi masa kini.

"Kerajaan ini masih besanan dengan kerajaan Arosbaya. Nah ini perlu diurai kembali mana yang layak dilakukan kajian budaya," jelasnya.

Dia menambahkan, TACB Bangkalan mempunyai peran penting agar aset-aset budaya yang tersisa ini agar terjaga dan terlindungi dengan baik. Termasuk Pendopo Agung ini, banyak peninggalan sejarahnya. Ada patung singa yang mendampingi Cakraningrat waktu dulu, pasangannya justru ada di Amerika.

"Mohon semua benda dan situs cagar budaya bisa dipertahankan jangan sampai hilang. Terutama Pasarean Aermata yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya agar bisa dilindungi dengan baik," harapnya. (Syaiful)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru