JAKARTA (Realita)-Polemik lagu Bayar Bayar Bayar milik band punk Sukatani masih jadi perhatian publik luas. Padahal Band Sukatani bahkan telah menurunkan lagu itu dari peredaran, tapi dukungan dari musisi terus menggema, dan menuai sorotan dari kalangan Pemerhati Kepolisian, pasca lagu tersebut ditarik dari peredaran. kali ini datang dari Poengky Indarti, dirinya juga ikut mengomentari lagu serta liriknya.
"Terkait dengan lagu Bayar, Bayar, Bayar. Saya hanya mendengar potongan- potongan lagu di media sosial dan membaca liriknya di media massa. Ia, menganggap hal tersebut adalah luapan perasaan grup musik tersebut setelah melihat realitas di masyarakat," ujar Poengky kepada Realita.co, Jum'at (21/2/2025).
Poengky menganalisa, ternyata diduga masih ada anggota Polri yang justru melakukan pelanggaran hukum dengan minta dibayar, disuap, dan pungli.
Hal tersebut justru merupakan penyimpangan dari tugas-tugas mulia Anggota Polri.
"Bapak Kapolri berkali-kali menyampaikan Polri tidak anti kritik. Siapa yang berani mengkritik keras Polri justru akan menjadi Sahabat Polri," terang Poengky lagi.
Oleh karena itu, dirinya menjelaskan, jika benar ada pihak-pihak dari Kepolisian yang berani melarang orang melakukan kritik, maka yang bersangkutan justru melanggar perintah Kapolri," tambahnya.
Mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di 2016 - 2020 kemudian 2020-2024 ini berpandangan, ketimbang melarang peredaran lagu dan menyuruh grup band minta maaf, yang lebih utama dilakukan adalah melakukan pengawasan melekat serta menindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap anggota-anggota yang diduga melakukan tindakan transaksional dalam melakukan tugas-tugasnya.
"Musik, lagu adalah bentuk dari seni. Seni juga bisa menjadi sarana untuk mengemukakan kritik sosial. Misalnya lagu-lagu Iwan Fals yang menggemakan kritik sosial pada masa Orde Baru, antara lain lagu Surat Buat Wakil Rakyat, lagu Umar Bakri, lagu Bento, lagu Galang Rambu Anarki, dan sebagainya," beber perempuan yang juga mendapat gelar aktivis.
Dirinya juga menerangkan, di luar negeri, ada John Lenon yang menyanyikan Imagine untuk mengkritik Pemerintah Amerika Serikat di Perang Vietnam, dan lain-lain. Hal tersebut merupakan bentuk dari kebebasan berekspresi, yang disampaikan melalui seni, sehingga tidak layak untuk dilarang, diproses hukum, dan diadili.
"Saya berharap masyarakat tetap berani menyuarakan kritik, agar praktek-praktek buruk yang merugikan rakyat dapat dibongkar dan dihapuskan," tegasnya.
Sukatani merupakan band asal Purbalingga, Jawa Tengah, dengan Twister Angel sebagai vokalis dan Eletroguy sebagai gitaris sekaligus produser.
Sukatani menggebrak blantika musik sejak awal Oktober 2022, dengan debut album Gelap Gempita, dirilis pada 24 Juli 2023. Mereka identik dengan gaya nyentrik di atas panggung: balaclava khas serta aksi berbagi sayur yang jadi signature.
Lagu Bayar Bayar Bayar, jadi salah satu yang dinikmati oleh para penggemarnya. Polri juga memberikan klarifikasi terkait hal tersebut, menegaskan tidak antikritik.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko merespons viral permintaan maaf band Sukatani.
"Komitmen dan konsistensi, Polri terus berupaya menjadi organisasi yang modern yaitu Polri Tidak Anti Kritik," ujar Trunoyudo.
Dia juga mengatakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo selalu menekankan agar tidak antikritik. Arahan itu, lanjut Trunoyudo, disampaikan Kapolri ke seluruh jajaran.
"Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kerap menegaskan hal tersebut kepada seluruh jajaran," tuturnya.(tom)
Editor : Redaksi