KEDIRI (Realita) - Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas penukaran uang baru di Kota Kediri belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Pantauan pada pekan pertama Ramadan, sejumlah jasa penukaran uang baru di sepanjang Jalan Sudanco Supriyadi, Kecamatan Mojoroto, masih terlihat lengang (4/3).
Yudi, penyedia jasa penukaran uang asal Kelurahan Bandar Lor, mengatakan kondisi ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, biasanya permintaan mulai meningkat sekitar sepuluh hari menjelang Lebaran. Namun hingga satu minggu puasa berjalan, jumlah penukar uang masih tergolong sepi.
“Kalau tahun-tahun lalu biasanya mendekati H-10 Lebaran mulai ramai. Tahun ini masih sepi,” kata Yudi.
Ia menjelaskan, biaya jasa penukaran uang baru tahun ini mengalami kenaikan. Jika sebelumnya berkisar Rp15 ribu per Rp100 ribu uang baru, menjelang Lebaran tarif bisa mencapai Rp20 ribu per Rp100 ribu. Kenaikan tersebut dinilai turut memengaruhi minat masyarakat.
Selain faktor harga, cuaca hujan juga menjadi kendala operasional. Yudi mengaku mulai membuka layanan sejak pukul 08.00 WIB dan biasanya tutup sekitar pukul 16.00 WIB, namun jam operasional sangat bergantung pada kondisi cuaca. “Kalau hujan, biasanya lebih cepat tutup,” ujarnya.
Pada musim Lebaran sebelumnya, omzet penukaran uang bisa mencapai Rp10 juta per hari. Namun capaian tersebut belum terlihat pada Ramadan tahun ini. Uang baru yang disediakan Yudi diperoleh dari pengepul langganan yang melayani wilayah Kediri, Blitar dan sekitarnya.
Yudi menilai, kondisi ekonomi masyarakat turut berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas penukaran uang. “Tahun ini rasanya agak sepi, mungkin karena ekonomi,” katanya.
Meski demikian, ia masih berharap permintaan akan meningkat seiring semakin dekatnya Hari Raya Idulfitri, sebagaimana pola yang terjadi setiap tahun.nia
Editor : Redaksi