Demi Cukupi Ekonomi, 5 Polisi Nyambi Dagang Sayur, Jadi Pemulung, hingga Jualan Es

 JAKARTA (Realita) - Lima anggota polisi ini menyambi demi bisa menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari pedagang sayur di Medan, Sumatara Utara; menjadi pemulung karena tolak uang suap; hingga berjualan es dan melayani bantuan konsultasi.

Kami merangkum dari berbagai sumber, berikut ini lima polisi yang menyambi pekerjaan lain untuk menambah ekonomi:

1. Polisi sayur asal Medan

Sosok Aipda Wahyu Mulyawan, asal Kota Medan, Sumatra Utara (Sumut), menjadi perbincangan pada 2017, karena ternyata menyambi berjualan sayur, meski berprofesi sebagai polisi.

Pekerjaan berjualan sayur sudah dilakoni Wahyu sejak 2014, yang berawal dari kegelisahannya melihat harga sayur milik petani dihargai murah oleh pedagang.

Ia bahkan rela menggadaikan rumahnya untuk memulai usaha berjualan sayur demi meningkatkan kesejahteraan petani.

"Kenapa saya terjun jualan ini (sayur)? Karena saya tidak tega dengan para petani," katanya.

"Modal awal saya ini dari menggadaikan rumah," imbuhnya.

Wahyu diketahui membeli sayur-sayuran dari para petani dan membantu mereka menjual produknya dengan harga sesuai standar pasar.

Ia juga membantu memasarkan sayur-sayur hasil para petani ke berbagai pasar di Kota Medan.

Dari hasilnya berjualan sayur, di tahun 2017 kala itu, Wahyu yang masih berpangkat Bripka memperoleh omset hingga Rp28 juta per bulan.

Keuntungannya dari berjualan sayur itu kemudian dibagi Wahyu untuk bersedekah juga.

Atas dedikasinya tersebut, Wahyu mendapat penghargaan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) terbaik se-Polda Sumut dari Rycko Amelzy Daniel yang kala itu menjabat sebagai Kapolda Sumut.

2. Tolak uang suap, pilih memulung

Kisah inspiratif lainnya datang dari Bripka (Purn) Seladi, pensiunan polisi asal Kota Malang, Jawa Timur.

Selama berprofesi sebagai polisi, Seladi juga menyambi menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Seladi merupakan pensiunan polisi Polres Malang Kota yang pernah bertugas di bagian pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) selama 16 tahun.

Meskipun unitnya bertugas merupakan "lahan basah" untuk mendapat uang tambahan, Seladi memilih menjalankan hidup sederhana dan bermartabat.

Hanya sekadar pemberian kopi dari pemohon SIM pun ia tolak.

Ia memilih memulung mencari sampah bekas yang bisa dijual, menggunakan sepeda onthel-nya.

"Saya tidak pernah merasa rendah diri, meskipun setiap hari berurusan dengan sampah. Ini pekerjaan halal dan saya ikhlas melakukannya," kata Seladi pada Desember 2024.

"Kalau ada yang mencoba memberi sesuatu, saya suruh anak saya untuk mengembalikan."

"Saya tidak mau uang itu karena hidup saya harus bersih," imbuh dia.

Kini, Seladi mendirikan gudang sampah di dekat kediamannya di Gadang, Kota Malang.

3. Bantu orang tua jual mi caluk

Sosok Bripka Antoni Wahyudi menjadi sorotan saat bulan Ramadan 2025 lalu, karena membantu orang tuanya berjualan mi caluk di pusat Pasar Keude Bambi, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, Aceh.

Sore hari selepas bekerja sebagai polisi, Antoni masih mengenakan seragam lengkap, langsung menuju lapak milik orang tuanya.

Di sanalah ia membantu sang ibu, Rahmawati, berjualan mi caluk. Antoni mengaku sudah membantu orang tuanya berjualan mi caluk sejak SD.

Rutinitas itu masih ia lakoni bahkan setelah bertugas di Bagian SDM Polres Pidie. "Saya membantu orang tua menjual mi caluk, saya lakoni sejak kelas enam SD."

"Saat menjadi polisi yang sekarang bertugas di Bag SDM Polres Pidie, saya masih menjual mi caluk," ungkapnya.

"Makanya, saat menjadi polisi saya masih menekuni menjual mi caluk untuk membantu orang tua saya," lanjutnya.

4. Buka kedai es, jadi tempat curhat

Polisi asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bernama Aipda Khoirul Anam, membuka kedai es dan berjualan bersama sang istri, di sela-sela profesinya sebagai polisi.

Kedai es yang diberi nama Babin Ice itu buka di depan Pasar Socah, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.

Tak hanya berjualan es, Khoirul juga membuka "jasa" curhat atau bantuan, baik itu untuk urusan pribadi maupun administratif. Layanan "jasa" itu ia berikan secara cuma-cuma alias gratis.

"Barang siapa dia memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia akhirat," kata Khoirul yang saat ini menjabat sebagai Kasubnit I Dalmas Polres Bangkalan.

"Ada beberapa yang curhat tentang KDRT sambil minum es. Selama masih bisa saya bantu selesaikan di bawah, saya bantu. Tapi kalau berujung pidana, tentu saya proses sesuai prosedur," jelasnya.

Di kedai miliknya, terpasang kertas folio bertuliskan layanan gratis, seperti pengurusan surat kehilangan atau dokumen penting lainnya.

Khoirul juga mencantumkan nomor ponsel pribadinya agar orang-orang yang membutuhkan "jasanya" bisa menghubunginya.

Saat disinggung mengenai dirinya yang berjualan es, Khoirul mengaku tak malu karena merupakan pekerjaan halal.

5. Jualan kerupuk kemplang

Di Sumatra Selatan (Sumsel), polisi air Hadi Wibowo sempat viral pada 2023, karena menyambi berjualan kerupuk kemplang.

Selain berjualan di toko, Hadi juga menjajakan dagangannya secara online lewat media sosial.

"Bagi yang berminat mau order bisa di 081279031052 atau melalui media sosial seperti Tiktok di kemplang_lela_palembang dan Facebook kerupuk&kemplang lela," pungkas dia.rin

 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Ngebut, Mobil Tabrak Pembatas Jalan

THANH HOA (Realita)- Pengemudi menabrak pembatas jalan, apa yang terjadi selanjutnya mengejutkan semua orang. Thanh Hoa, Vietnam. Baru-baru ini, warganet …