JAKARTA (Realita) - RSU Andhika menggelar talkshow edukasi publik bertajuk 'Pentingnya Zat Besi Bagi Anak untuk Membantu Perkembangan Otak dan Mencegah Anemia', Sabtu (16/8/2025).
Kegiatan ini menghadirkan dokter anak dr. Efrianty dan ahli gizi Nur Reeza Rizkyana, yang memaparkan pentingnya zat besi sebagai nutrisi esensial bagi tumbuh kembang anak.
dr. Efrianty mengingatkan bahwa anemia defisiensi besi harus menjadi perhatian penting bagi orang tua.
“Zat besi sangat penting bagi tumbuh kembang anak, tidak hanya fisik, tetapi juga kognitif. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan gangguan motorik, bahasa, hingga prestasi akademik,” ujar dr. Efrianty.
Menurut dr. Efrianty, zat besi berperan penting dalam perkembangan otak.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan risiko keterlambatan tumbuh kembang, konsentrasi rendah, hingga gangguan emosional.
“Anak dengan defisiensi besi bisa mengalami gangguan belajar, konsentrasi rendah, bahkan kesulitan dalam perkembangan emosional,” beber dr. Efrianty.
dr. Efrianty menyebutkan sejumlah makanan yang tinggi kandungan zat besi, di antaranya daging sapi, kambing, kerang, tuna, salmon
Lalu, kacang merah, kacang hijau, produk kedelai seperti tahu dan tempe, hingga buah-buahan pepaya dan kurma.
“Penting juga untuk menyesuaikan porsi makanan dengan kebutuhan usia dan berat badan anak,” jelas dr. Efrianty.
Tak hanya itu, dr. Efrianty menyampaikan penting juga untuk memperhatikan kebiasaan minum teh setelah makan yang ternyata dapat menghambat penyerapan zat besi.
“Ternyata selama ini yang sering dilakukan adalah makan sambil minum teh untuk anak-anak itu tidak baik. Karena dia akan membuat penyerapan dari zat besi yang sangat penting untuk tumbuh kembang dan kecerdasannya menjadi tidak terserap dengan baik,” jelas dr. Efrianty.
Sementara itu, Nur Reeza Rizkyana menambahkan bahwa zat besi memiliki fungsi penting dalam mengantarkan nutrisi ke seluruh tubuh.
“Tanpa zat besi, nutrisi yang masuk tidak bisa mencapai otak. Dampaknya, anak kesulitan konsentrasi, daya pikir menurun, dan prestasi akademik terganggu,” terang Nur Reeza.
Ketika ditanya mengenai kaitan defisiensi zat besi dengan stunting, Nur Reeza menegaskan bahwa hal itu memang tidak secara langsung menjadi penyebab stunting.
“Tetapi memang ketika kondisi sudah stunting itu justru membuat agak lebih sulit untuk penanganannya, sebetulnya lebih berperan dalam pencegahan,” ungkap Nur Reeza.
Nur Reeza menekankan bahwa pencegahan jauh lebih mudah daripada penanganan.
“Jika anak sudah mengalami stunting, maka itu akan lebih sulit ditangani. Jadi memang penanganannya adalah pemberian zat besi di awal,” tutup Nur Reeza. (Hry)
Editor : Redaksi