Rokok Ilegal Masih Marak di Ponorogo, Warga Pilih karena Faktor Ekonomi

PONOROGO (Realita)- Peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Ponorogo. Harga yang jauh lebih murah dibanding rokok resmi bercukai membuat sebagian masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, terpaksa memilih produk ilegal tersebut.

Ahmad, warga Kecamatan Pulung, mengaku sering menjumpai rokok ilegal beredar di lingkungannya. Meski sadar bahwa produk tersebut merugikan negara, ia mengaku kesulitan untuk beralih ke rokok resmi karena alasan ekonomi.

“Saya tahu rokok ilegal itu merugikan negara, tapi bagaimana lagi, pekerjaan saya serabutan. Kalau beli rokok resmi terlalu mahal, jadi terpaksa pilih yang tanpa cukai,” ungkap Ahmad, Rabu (03/08/2025).

Hal senada disampaikan Agung (bukan nama asli), seorang sales rokok di Ponorogo. Ia menyebut peredaran rokok ilegal kini semakin banyak dilakukan melalui platform daring.

" Kalau di toko konvensional tetap ada, tapi tidak banyak. Sekarang lebih banyak orang pesan lewat online karena lebih gampang dan murah,” ujarnya.

Kendati begitu, Agung menegaskan dirinya tidak berani terlibat langsung dalam penjualan rokok ilegal.

" Saya tidak berani menjual rokok ilegal, karena sadar akan konsekuensinya,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga rokok ilegal biasanya hanya belasan ribu rupiah per bungkus. Angka ini jauh lebih rendah dibanding rokok resmi yang bisa mencapai puluhan ribu rupiah per kemasan. Kondisi tersebut membuat rokok tanpa cukai lebih digemari masyarakat berpenghasilan rendah.

Di sisi lain, pemerintah melalui Bea Cukai terus menggencarkan upaya pemberantasan rokok ilegal. Razia rutin hingga patroli di toko-toko dilakukan untuk memutus rantai distribusi. Namun, maraknya peredaran secara online menjadi tantangan baru yang tidak mudah dibendung.

Masyarakat pun berharap aparat lebih tegas menindak para pelaku peredaran.

" Kalau cuma pembeli mungkin karena terpaksa, tapi yang mengedarkan dan menjual seharusnya ditindak tegas,” ujar seorang warga lain yang enggan disebut namanya.

Fenomena ini menjadi ironi. Negara kehilangan potensi penerimaan dari cukai tembakau, sementara sebagian masyarakat kecil masih terjerat pilihan praktis rokok ilegal karena alasan harga. Perang melawan rokok ilegal di Ponorogo pun belum usai, dan publik menaruh harapan besar kepada aparat agar lebih konsisten menegakkan aturan sekaligus memberi solusi bagi masyarakat. znl

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

OTT di Depok, KPM Tangkap Hakim

DEPOK (Realita) - KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Depok. Ada hakim yang ditangkap dalam OTT kali ini. "Yang pasti ada penangkapan hakim di …