MADIUN (Realita) – Desa Wisata Gunungsari, khususnya Pasar Pundensari, kembali menjadi pusat kegiatan kreatif dengan menghadirkan pementasan seni teater berskala nasional. Kegiatan ini sejalan dengan program unggulan Bupati Madiun, “1 Village 1 Creative Hub”, yang menjadikan desa sebagai ruang tumbuhnya kesenian, ekonomi kreatif, dan aktivitas masyarakat.
Dalam kesempatan kali ini, Pasar Pundensari menjadi salah satu titik persinggahan Teater Keliling Jakarta dalam tur lima kota di Indonesia. Mereka menampilkan karya berjudul “Aku Chairil”, sebuah produksi yang mengangkat kisah kehidupan penyair besar Indonesia, Chairil Anwar. Pementasan ini berlangsung dengan dukungan penuh dari Pokdarwis Setopuro, Desa Wisata Gunungsari serta kolaborasi dengan Sanggar Biru Madiun.
Ony, perwakilan Sanggar Biru Madiun sekaligus kontributor dalam kolaborasi ini, mengungkapkan rasa bangganya karena Madiun dipilih sebagai salah satu kota tujuan.
“Agenda hari ini didukung penuh oleh Pasar Pundensari dan Pokdarwis Setopuro. Teater Keliling sendiri punya program pentas di lima kota: Magelang, Madiun, kemudian dilanjutkan ke Raja Ampat dan Sorong. Dipilihnya Madiun jelas menjadi sebuah kebanggaan,” ujar Ony usai acara, Senin (8/9/2025) malam.
Menurutnya, meski pementasan digelar di hari kerja, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Banyak warga hadir untuk menyaksikan karya yang sarat makna tersebut.
“Ternyata sambutan penonton luar biasa, padahal ini hari Senin. Teman-teman Teater Keliling merasa terkesan karena animo masyarakat Madiun sangat besar. Bisa dibilang pementasan sukses,” tambahnya.
Selain pemain Teater Keliling Jakarta, pementasan juga melibatkan seniman lokal dari Sanggar Biru Madiun. Kehadiran mereka menjadikan pertunjukan semakin hidup dan meriah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disparpora) Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati, S.Sos., M.Si., yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan seni dan budaya tersebut.
Menurutnya, Desa Gunungsari berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai Creative Hub yang memberi ruang bagi tumbuhnya inovasi dan kreativitas masyarakat.
“Agenda seperti pementasan teater ini sejatinya hanya menjadi pemicu. Yang lebih penting adalah bagaimana inovasi dan kreativitas warga Gunungsari terus berjalan secara konsisten. Inilah yang nantinya bisa menjadi inspirasi bagi desa lain,” ungkapnya.
Lebih jauh, Puji menekankan bahwa keberhasilan Desa Gunungsari dalam menghadirkan kegiatan seperti ini selaras dengan program unggulan Pemkab Madiun, yakni “1 Village 1 Creative Hub”.
Program tersebut mendorong setiap desa memiliki wadah untuk mengembangkan potensi seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ke depan, kegiatan seperti ini bisa terus digulirkan dan dikolaborasikan dengan potensi wisata serta budaya lokal. Dengan begitu, Desa Gunungsari bukan hanya menjadi destinasi wisata, melainkan juga pusat inspirasi dan percontohan bagi daerah lain,” tandasnya.
Pementasan “Aku Chairil” sendiri mengangkat sosok Chairil Anwar (1922–1949), penyair legendaris Indonesia yang dijuluki “Si Binatang Jalang”. Ia lahir di Medan, 26 Juli 1922, dan dikenal sebagai salah satu tokoh utama Angkatan ’45.
Karya-karyanya yang penuh semangat, kebebasan, dan perlawanan menjadikannya ikon perjuangan melalui sastra. Puisinya, seperti “Aku”, “Krawang-Bekasi”, dan “Diponegoro”, menggugah semangat nasionalisme di masa revolusi.
Meski hidup singkat—ia wafat pada 28 April 1949 di usia 26 tahun—Chairil telah menulis lebih dari 70 karya, termasuk 96 puisi. Gaya bahasanya yang lugas, modern, dan penuh keberanian mengubah wajah puisi Indonesia, menjadikannya pionir yang tidak tergantikan.
Kehidupan pribadinya yang keras, penuh perjuangan, dan dikelilingi suasana revolusi tercermin dalam setiap karyanya. Tidak berlebihan bila namanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar sastra dunia. Hingga kini, Chairil Anwar tetap menjadi simbol perlawanan, kebebasan, dan kreativitas tanpa batas.yat
Editor : Redaksi