Gara-gara Ijazah Jokowi, UGM Seperti Dipelonco di Sidang KIP

JAKARTA (Realita)- Tanggal 17 November 2025, ruang sidang Komisi Informasi Publik di Jakarta pusat lebih panas dari oven bakar martabak manis. Di kursi terdakwa duduk perwakilan UGM, kampus yang biasanya sombong banget kalau ranking QS naik dua strip, tapi hari itu mukanya pucet kayak mahasiswa baru kena razia kosan.

Di depannya bertahta Bu Rospita Vici Paulyn, ketua majelis yang senyumnya manis tapi kata-katanya lebih pedes dari sambel roa level 1000.

Lawannya? Pasukan elite Bonjowi alias Bongkar Ijazah Jokowi, boyband beranggotakan 50-an profesor, doktor, mantan pimpinan KPK, lawyer senior, aktivis.

Pokoknya, kalau mereka bikin konser pasti lagu pembukanya “Bongkar” Iwan Fals versi remix. Ada Busyro Muqoddas, Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, Timotus Murzakan, dan kawan-kawan. Mereka datang bukan buat selfie, tapi buat minta salinan ijazah, KRS, transkrip nilai, laporan KKN, sampai SOP legalisasi ijazah tahun 1985 Jokowi kuliah di Fakultas Kehutanan UGM.
Jawaban UGM? Juara dunia ngeles kategori berat.

“Tidak dalam penguasaan, Yang Mulia.”

“Tidak ada, Bu.”

“Sudah dimusnahkan sesuai aturan.”

“SOP legalisasi tahun 80-an nggak ada bentuk tertulis, kami dulu legalisir pake daun jati.”

Bu Vici sampai geleng-geleng kepala.

“Ini UGM loh, institusi tertua, terbaik, paling berwibawa di Indonesia, masa balas surat permohonan informasi pakai email Gmail biasa tanpa kop, tanpa tanda tangan, kayak lagi kirim foto kucing ke mantan? Dokumen yang dikasih malah di-blackout semua, ini keterbukaan informasi apa keterbukaan rahasia Da Vinci Code?”

Puncak drama, Bu Vici ngegas, “Kalau bilang ‘tidak dalam penguasaan’ berarti TIDAK ADA dong! Jelas!” Perwakilan UGM cuma bisa nyengir kecut, mungkin dalam hati mikir,

“Mending gue jadi penjual cilok di depan kampus, lebih terhormat.”

Polda Metro, “Ijazah aslinya lagi kami pegang buat penyidikan.”
KPU Solo, “Arsip kami sudah dimusnahkan, sesuai SOP.”

ANRI, “Kami nggak nyimpan salinan primer, cuma nyimpan foto-foto wisuda doang.”

Akhirnya Bu Vici kasih PR level neraka. Dalam dua minggu UGM WAJIB lakukan uji konsekuensi, libatkan pihak ketiga objektif, dan sidang berikutnya bawa DOKUMEN ASLI semua buat diperiksa majelis. Kalau nggak? Ya siap-siap jadi bahan candaan nasional selama satu abad.

Sampai hari ini 19 November 2025, UGM masih mode silent is platinum. Website resmi sepi, akun X @ugm.yogyakarta lebih hening dari makam Pahlawan jam 3 pagi. Humasnya mungkin lagi sibuk latihan jawaban baru, “Maaf, dokumennya lagi di Mars sama Elon Musk.”

Intinya, ini sudah bukan lagi soal ijazah. Ini sudah jadi komedi nasional berjudul “UGM Dipelonco Rospita Vici” yang tiap episodenya bikin netizen Indonesia pegel perut sambil seruput Koptagul.

Denai, nuan, dan kita semua cuma bisa duduk manis sambil ngemil tahu goreng nunggu episode berikutnya, apakah UGM bakal muncul bawa map tebal, atau malah bawa alasan baru “maaf, dokumennya kebakar pas kebakaran hutan Pinus Mangunan tahun lalu”?

Indonesia emang jagonya bikin tontonan gratis yang lebih lucu dari Komeng yang udah jadi penghuni Senayan. Salut deh.

Dalam hiruk-pikuk sidang yang lebih panas dari wajan goreng pisang, moral terbesar yang bisa dipetik adalah bahwa lembaga sebesar apa pun, bahkan yang selama ini dielu-elukan sebagai “kampus keramat” tetap wajib tunduk pada standar transparansi. Integritas bukan soal besar kecilnya institusi, tapi keberanian membuka kebenaran meski terasa pahit. Ketika publik meminta kejelasan, jawaban yang gelagapan, blackout dokumen, atau alasan ala kadarnya hanya membuat marwah institusi terjun bebas lebih cepat dari nilai mahasiswa yang lupa absen. Keterbukaan adalah cermin, semakin kabur pantulannya, semakin terlihat siapa sebenarnya yang takut bercermin.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Prabowo Resmikan Kilang Minyak Balikpapan

BALIKPAPAN (Realita)- Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). …