Dugaan Kekerasan di SMA Negeri, Siswi Kelas X Alami Luka dan Trauma

Advertorial

KOTA BENGKULU (Realita)- Dunia pendidikan di Kota Bengkulu kembali tercoreng oleh dugaan tindak kekerasan antarsiswa. Seorang siswi kelas X di salah satu SMA negeri dilaporkan menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh sejumlah kakak kelasnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (5/2/2026), bertepatan dengan jam pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah. Akibat kejadian itu, korban dilaporkan pingsan, mengalami sejumlah luka fisik, serta trauma psikologis berat hingga enggan kembali bersekolah.

Informasi awal mengenai insiden tersebut diterima ibu korban berinisial MY dari pihak sekolah. Ia diberi tahu bahwa anaknya mengalami insiden dengan kakak kelas dan sempat mendapatkan penanganan awal di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Mendapat kabar tersebut, MY langsung mendatangi sekolah. Ia mengaku terpukul melihat kondisi anaknya yang masih lemah, tampak syok, dan mengalami luka di beberapa bagian tubuh.
“Waktu saya sampai, kondisi anak saya masih sangat lemas dan terlihat ketakutan,” ujar MY, Kamis (5/2/2026).

Korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Bengkulu untuk mendapatkan pemeriksaan medis lanjutan. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah luka yang diduga akibat tindak kekerasan fisik.

“Dokter menyampaikan ada bekas gigitan, cakaran, lebam, dan anak saya mengeluh sakit di tangan serta kakinya,” ungkap MY.
Selain luka fisik, kondisi psikologis korban disebut jauh lebih mengkhawatirkan. Pasca kejadian, korban mengalami trauma mendalam, menjadi tertutup, dan menunjukkan rasa takut berlebihan.
Korban bahkan menolak kembali bersekolah dan merasa panik setiap kali mendengar ada teman sekolah yang ingin menjenguk ke rumah.

“Dia tidak mau kembali ke sekolah itu. Setiap dengar nama sekolah atau teman-temannya, dia langsung panik,” kata MY dengan nada sedih.

Atas kejadian ini, MY berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah serta instansi terkait. Ia meminta agar anaknya mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan kondisi mentalnya.
“Saya mohon kepada pemerintah, baik Pak Wali Kota maupun Pak Gubernur, agar anak kami bisa mendapatkan pendampingan psikologis,” harapnya.

Berdasarkan keterangan keluarga, kejadian ini bermula dari persoalan pertemanan korban dengan dua siswa berinisial C dan S. Korban sempat berselisih dengan S dan menceritakan hal tersebut kepada kakak kelasnya.

Meski keesokan harinya korban dan S disebut telah berdamai, cerita yang sudah terlanjur beredar diduga memicu emosi kakak kelas korban.

Masalah kemudian berlanjut ke media sosial. Korban mengunggah foto bersama teman-temannya di Instagram, yang kemudian mendapat komentar bernada ejekan dari kakak kelas. Balasan korban yang awalnya dimaksudkan sebagai candaan justru berujung pada perdebatan melalui pesan langsung (DM).

Setelah adu argumen di media sosial, korban sempat diajak bertemu di luar sekolah, namun menolak. Selanjutnya, korban diminta bertemu di depan ruang kelasnya.

Dari rekaman CCTV dan video yang diterima keluarga, terlihat adanya adu mulut cukup lama di lokasi tersebut sebelum situasi memanas. Tak berselang lama, diduga terjadi kontak fisik yang melibatkan korban dan beberapa kakak kelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan pengeroyokan tersebut. Kasus ini pun menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang persoalan kekerasan di lingkungan sekolah.ben

Editor : Redaksi

Berita Terbaru