KEDIRI (Realita) - Umat Hindu di Kota Kediri menggelar upacara Tawur Agung Kesanga sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Rabu (18/3).
Ritual ini menjadi momentum penting untuk penyucian diri sekaligus menjaga keseimbangan alam semesta.
Upacara yang berlangsung khidmat tersebut diawali dengan arak-arakan ogoh-ogoh yang diberangkatkan menuju Pura Agung Penataran Kilisuci. Menariknya, arak-arakan tidak hanya menampilkan ogoh-ogoh, tetapi juga diiringi kesenian Barongsai Tjoe Hwie Kiong serta jaranan, mencerminkan keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Kota Kediri.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyampaikan bahwa perayaan Nyepi tahun ini terasa lebih istimewa karena beriringan dengan bulan suci Ramadan. Menurutnya, kedua momen tersebut sama-sama mengajarkan nilai pengendalian diri dan penyucian hati.
“Baik umat Hindu melalui Catur Brata Penyepian maupun umat Muslim yang menjalankan puasa Ramadan, keduanya sama-sama belajar mengendalikan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.
Ia menilai, momentum ini sekaligus menunjukkan wajah Kota Kediri sebagai daerah yang menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama. Kebersamaan dan gotong royong masyarakat dinilai menjadi kunci terjaganya harmoni di tengah perbedaan.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan ini, tidak hanya saat ini tetapi juga untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kediri, Ni Made Susilawati, menjelaskan bahwa Tawur Agung Kesanga merupakan ritual penting dalam ajaran Hindu yang bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam.
“Melalui upacara ini, umat Hindu memohon agar tercipta keseimbangan dan kedamaian di alam semesta. Ini sejalan dengan nilai Tri Hita Karana,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah pelaksanaan Tawur Agung Kesanga, umat Hindu akan melanjutkan rangkaian Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian pada 19 Maret. Empat pantangan tersebut meliputi tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan), serta tidak bepergian (Amati Lelungan).
“Catur Brata Penyepian menjadi sarana introspeksi dan penyucian diri lahir dan batin, demi mencapai kehidupan yang lebih harmonis dan penuh kebijaksanaan,” ungkapnya.
Sebelumnya, umat Hindu di Kota Kediri juga telah melaksanakan ritual Melasti di bantaran Sungai Brantas sebagai bagian dari penyucian diri dan sarana persembahyangan menjelang Nyepi.
Dengan rangkaian ritual tersebut, diharapkan perayaan Nyepi tahun ini membawa kedamaian, keseimbangan, serta memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.nia
Editor : Redaksi