JEMBER (Realita) – Setiap pagi, di sebuah rumah sederhana di Dusun Gempal, Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari, Nenek Nidhi (75) masih berusaha mengaduk adonan kue bersama anak semata wayangnya, Alma.
Tenaga yang tersisa ia gunakan untuk membantu keluarga membuat kue tradisional demi menambah penghasilan, meski tubuh renta itu harus menopang beban yang tak ringan.
Kondisi perut Nenek Nidhi terus membesar sejak menjalani operasi usus buntu beberapa tahun lalu.
Benjolan yang semakin membesar membuat langkahnya pelan dan napasnya lebih mudah lelah. Namun bukan rasa sakit yang paling menguasai pikirannya, melainkan ketakutan. Selama bertahun-tahun, rasa takut itulah yang membuat Nenek Nidhi memilih bertahan di rumah daripada kembali menginjakkan kaki di rumah sakit.
Semua bermula pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Saat itu Nenek Nidhi didiagnosis menderita usus buntu dan harus menjalani operasi. Keluarga sempat bernapas lega karena kondisinya dinyatakan membaik. Namun sekitar dua tahun kemudian, perutnya mulai membesar dan ukurannya terus bertambah hingga sekarang.
Sejak itu, anak, menantu, dan keluarga besar berkali-kali membujuknya memeriksakan diri. Namun setiap ajakan selalu berakhir dengan penolakan. Nenek Nidhi takut harus kembali menjalani operasi dan tidak bisa lagi pulang ke rumah.
"Ibunya tidak mau. Sudah sering kami ajak berobat, tetapi selalu menolak karena takut meninggal kalau harus operasi lagi," tutur Alma, anak semata wayang Nenek Nidhi.
Kondisi tersebut membuat ruang geraknya semakin terbatas. Untuk sekadar menuju fasilitas kesehatan, ia harus diantar menggunakan becak motor milik menantunya. Beratnya benjolan di perut membuatnya kesulitan berjalan, sementara usia yang semakin senja menggerus kekuatan tubuhnya dari hari ke hari.
Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan datang dari layanan Puskesmas Pakusari. Tim kesehatan kini rutin datang ke rumahnya untuk memantau kondisi kesehatan Nenek Nidhi, sehingga ia tetap mendapatkan pemeriksaan tanpa harus menempuh perjalanan yang melelahkan.
Petugas Puskesmas Pakusari dr Dian Alfiyatul Uliyah menjelaskan, Nenek Nidhi merupakan sasaran Posyandu Lansia sekaligus peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Karena mobilitasnya sangat terbatas, pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala di rumah.
"Pasien ini pertama kali didiagnosis usus buntu pada tahun 2020 dan sudah menjalani operasi. Dua tahun kemudian perutnya mulai membesar. Ada trauma sehingga beliau tidak mau lagi memeriksakan diri. Karena mobilitasnya terbatas, kami rutin melakukan kunjungan ke rumah Nenek Nidhi," jelasnya
Hasil pemeriksaan menunjukkan benjolan di perut belum mengganggu fungsi makan maupun buang air besar. Namun, Nenek Nidhi juga mengalami hipertensi yang sempat memicu keluhan pusing. Setelah mendapatkan pemantauan dan pengobatan rutin, keluhan tersebut mulai berkurang.
Meski demikian, tenaga kesehatan menilai pemeriksaan lanjutan di rumah sakit tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti pembesaran perut yang terus terjadi. Puskesmas pun terus berupaya membangun kepercayaan Nenek Nidhi agar perlahan berani menjalani pemeriksaan lanjutan.
Di usia 75 tahun, harapan Nenek Nidhi sebenarnya sederhana. Ia ingin tetap bisa menemani anaknya membuat kue dan menjalani hari-hari di rumah tanpa dihantui rasa sakit.
Kini, keluarga dan tenaga kesehatan tidak hanya berusaha mengobati penyakit yang dideritanya, tetapi juga menyembuhkan ketakutan yang selama bertahun-tahun membuatnya menjauh dari rumah sakit.
Mereka berharap, suatu hari nanti, Nenek Nidhi berani membuka pintu untuk pemeriksaan lanjutan, sehingga ia dapat menikmati masa tuanya dengan tubuh yang lebih sehat.rdy
Editor : Redaksi