JEMBER (Realita) – Pagi belum terlalu siang ketika Hamila (70) masih terbaring di tempat tidurnya. Tubuh yang hampir tiga tahun terakhir melemah akibat stroke itu belum sepenuhnya mampu diajak bergerak.
Namun setiap pukul 08.00 WIB, ia selalu berusaha bangkit. Dengan langkah perlahan dan kedua kaki yang masih terasa kebas, ia mencoba berjalan ditemani sang cucu yang setia menggenggam tangannya.
Bagi Hamila, beberapa langkah kecil setiap pagi bukan sekadar latihan fisik. Langkah itu adalah cara mempertahankan harapan agar suatu hari nanti ia bisa kembali lebih mandiri. Dulu, aktivitas sehari-hari dapat ia lakukan tanpa bantuan siapa pun. Kini, berdiri beberapa menit saja sudah menjadi perjuangan yang membutuhkan keberanian dan semangat.
"Alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan pelan-pelan. Setiap pagi ditemani cucu supaya badan tidak kaku. Mudah-mudahan bisa semakin kuat lagi," ujar Hamila.
Perjalanan melawan stroke yang dijalani Hamila tidaklah mudah. Saat pertama kali terserang penyakit itu, keluarganya segera membawanya ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis saraf. Berbagai pemeriksaan, termasuk CT Scan, telah dijalaninya.
Meski hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi otaknya tidak mengalami kelainan berat, proses pemulihan tetap membutuhkan waktu yang panjang.
Seiring berjalannya waktu, semangat Hamila untuk berobat ke rumah sakit mulai memudar. Bukan karena menyerah pada penyakitnya, melainkan karena tubuhnya tak lagi sanggup menunggu antrean berjam-jam. Perjalanan yang melelahkan justru membuat kondisinya semakin terkuras.
"Kalau ke rumah sakit antre sampai setengah hari. Saya sudah capek, jadi lebih senang kalau diperiksa di rumah. Badan juga tidak terlalu lelah," tuturnya.
Kini, secercah harapan datang melalui layanan kesehatan yang rutin mengunjungi rumahnya. Kehadiran dokter dan petugas kesehatan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Hamila.
Ia tak lagi harus menempuh perjalanan jauh untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Setiap kunjungan membawa perhatian, pemeriksaan, sekaligus semangat baru agar ia tetap bertahan menjalani hari-hari di usia senja.
Pada pemeriksaan terakhir, tekanan darah Hamila tercatat mencapai 160 mmHg. Petugas kesehatan langsung memberikan obat penurun tekanan darah, vitamin, serta mengingatkannya agar rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran. Mereka juga terus mendorong Hamila agar bersedia menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas apabila kondisinya membutuhkan penanganan lebih intensif, sehingga risiko stroke berulang dapat dicegah sedini mungkin.
"Kalau ada dokter datang ke rumah saya senang. Saya tidak perlu jauh-jauh berobat, tetap bisa diperiksa dan diberi obat. Rasanya lebih tenang," katanya.
Meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya dan usia terus bertambah, Hamila tidak pernah kehilangan harapan. Setiap pagi ia kembali mencoba menggerakkan kaki-kakinya. Di sampingnya, sang cucu tetap setia mendampingi, sementara perhatian tenaga kesehatan yang hadir hingga ke rumah menjadi kekuatan yang membuatnya terus percaya bahwa selalu ada kesempatan untuk hidup lebih baik.
Bagi Hamila, sembuh mungkin bukan lagi soal mampu berlari atau bekerja seperti dahulu. Sembuh adalah ketika ia masih bisa berdiri, melangkah beberapa meter, menikmati kebersamaan dengan keluarga, dan merasakan bahwa dirinya tidak pernah ditinggalkan dalam perjuangan melawan penyakit yang dideritanya.
"Saya cuma ingin tetap sehat, masih bisa jalan pelan-pelan, dan tidak merepotkan keluarga. Selama masih diberi umur, saya akan terus berusaha sembuh," pungkas Hamila.
Sementara itu, petugas kesehatan dari Puskesmas Pakusari dr Dian Alfiyatul Uliyah mengingatkan agar ia tetap disiplin mengonsumsi obat, menjaga tekanan darah, dan tidak menghentikan latihan berjalan.
"Ibu Hamila kami anjurkan rutin minum obat dan jika memungkinkan tetap kontrol ke puskesmas agar kondisinya terus terpantau. Latihan berjalan juga perlu dilanjutkan supaya kemampuan geraknya semakin membaik," ujarnya.
Editor : Redaksi